Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Articles by "Jin"

HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN DARI SIKSA KUBUR

Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur yakni orang yang mempersiapkan diri sebelum menghadapi maut yang datang tiba-tiba. Di antara persiapan menghadapi maut yakni segera bertaubat, menunaikan kewajiban syariat, memperbanyak amal shalih, memperbaiki akidah, berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya. Dengan amalan tersebut Allâh Azza wa Jalla memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dengan mengutip hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Abu Hâtim dalam shahih-nya, “Sesungguhnya orang mati dapat mendengar bunyi langkah kaki orang-orang yang pergi meninggalkannya. Jika ia seorang Mukmin, maka shalat berada di bersahabat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuatan baik ibarat berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada insan berada di bersahabat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, ibarat berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa pendapatmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, saya ingin shalat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kau akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’ Mereka menanyakan, ‘Apa pendapatmu wacana lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia yakni utusan Allâh, dan dia membawa kebenaran dari Allâh.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allâh.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini kawasan tinggalmu di surga dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu yakni kawasan tinggalmu dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan ibarat semula, dan ruhnya dijadikan di dalam penciptaan yang baik, yaitu burung yang bertengger di pohon surga.”
MEMOHON PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH DARI FITNAH DAN ADZAB KUBUR
Fitnah (ujian) dan adzab kubur yakni problem besar, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon tunjangan dari hal itu, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menekankan kepada umatnya untuk memohon tunjangan kepada Allâh dari segala fitnah dan azab kubur.
ORANG-ORANG YANG TERPELIHARA DARI UJIAN DAN SIKSA KUBUR
Sebagian kaum Mukmin yang melaksanakan amal-amal besar atau tertimpa petaka besar akan terjaga dari fitnah atau ujian dan azab kubur, Diantara mereka :
Pertama : Orang yang mati syahid.
an-Nasâ’i rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ya Rasûlullâh, mengapa kaum Mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?” Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah. Lihat Shahîhul Jâmi’ 4/164]
Kedua : Seseorang yang gugur dikala bertugas jaga di jalan Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa dia bersabda, “Setiap orang yang meninggal amalnya ditutup, kecuali yang meninggal dikala bertugas jaga di jalan Allâh. Amalnya terus tumbuh hingga hari simpulan zaman dan ia akan aman dari fitnah kubur.” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah. Lihat Misykâtul Mashâbîh 2/355]
Ketiga : Seseorang yang meninggal hari Jum’at
Dalam hadits Abdullah ibn Amru, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Yang Mahakuasa dari fitnah kubur.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi; Dinyatakan berpengaruh oleh syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Ahkâmul Janâiz, hlm. 35]
Keempat : Seseorang yang meninggal alasannya sakit perut
Abdullah bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Khalid ibn ‘Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meninggal alasannya sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah satunya mengatakan kepada yang lain, ‘Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang meninggal alasannya sakit perut tidak akan diadzab di dalam kubur.’ Yang satunya menjawab, ‘Engkau benar.’ [HR. an-Nasa’i dan Tirmidzi; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah saw.

wallahua'lam...


Perbedaan malaikat, manusia, jin, dan iblis/setan


Perbedaan malaikat, manusia, jin, dan iblis/setan
1.Kejadian
a) Malaikat
Malaikat ialah makhluk gaib yg di ciptakan dari nur (cahaya). Malakat selalu taat dan patuh terhadap setiap perintah Tuhan tanpa membantah. Jumlah malaikat sangat banyak, hanya Tuhan SWT yang mengetahui. Akan tetapi, setiap umat islam harus mengetahui beberapa malaikat yg berkaitan pribadi dengan kehidupan manusia. Malaikat – Malaikat tersebut, yaitu sebagai berikut.
1). Malaikat Jibril
peran utamanya memberikan wahyu Tuhan SWT
2). Malaikat Mikail
peran utamanya membawa dan membagikan rezeki kepada seluruh makhluk hidup.
3). Malaikat Raqib
peran utamanya mencatat seluruh amal perbuatan dan perkataan insan yg baik semasa hidup di dunia.
4). Malaikat Atid
peran utamanya mencatat seluruh amal perbuatan dan perkataan insan yg buruk semasa hidup di dunia.
5). Malaikat Izrail
peran utamanya mencabut ruh atau nyawa makhluk hidup.
6). Malaikat munkar
peran utamanya menanyai insan di alam kubur.
7). Malaikat Nakir
peran utamanya sama dengan malaikat munkar.
8). Malaikat Israfil
peran utamanya meniup sangkakala atau terompet pada hari akhir.
9). Malaikat Ridwan
peran utamanya menjaga surga.
10).Malaikat Malik
peran utamanya menjaga neraka.
b) Manusia
Manusia ialah makhluk paling tepat yang pernah diciptakan oleh Tuhan SWT. Kesempurnaan yang diiliki oleh insan merupakan suatu konsekuensi fungsi dan peran mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Al-qur’an meneramgkan bahwa insan berasal dari tanah I dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti: turab, thien, shal- shaldan sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa insan diciptakan dari bermacam-macam unsur kimiawiyang terdapat dari tanah. Mansia sebagai makhluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah bisa menempatkan dirinya sesuai hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga dan pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah.
c) Jin
Jin ialah makhluk Tuhan SWT yang diciptakan dari nar (Api yang panas). Jin diciptakan Tuhan untuk beribadah kepada Allah, tetapi ada Jin yang taat dan ada pula yang ingkar.
d) Iblis/setan
Iblis dicptakan dari api. Iblis atau setan diciptakan sebenarnya untuk taat kepada Allah, tetapi mereka ingkar, sombong, dan durhaka kepada Allah.

2.sifatnya
a) sifat-sifat malaikat
1) malaikat tidak memiiki nafsu.
2) malaikat selalu patuh terhadap setiap perintah Tuhan SWT.
3) malaikat tidak mungkin memiliki dosa.
4) malaikat selalu bertasbih kepada Tuhan SWT.
5) malaikat tidak memilik sifat sombong.
6) malaikat tidak memiliki jenis kelamin.
7) malaikat tidak makan dan minum.
8) malaikat tidak pernah berbohong.
9) malaikat tidak memiliki ayah maupun ibu.
10) malikat selalu memintakan ampun orang yang beriman.
11) malaikat selalu bahagia dan mendoakan orang yang memperoleh lailatul Qadar.
sifat-sifat manusia
1) insan memiliki nafsu.
2) insan pasti memiliki dosa.
3) insan memiliki sifat sombong.
4) insan memiliki jenis kelamin.
5) insan tidak ada yang sempurna.
6) insan memerlukn makan dan minum.
7) insan memiliki ayah dan ibu.
dll
c)sifat-sifat jin
1) jin ada yang patuh kepada Allah, ada pula yang ingkar pada-Nya.
2) jin memiliki nafsu
. 3) jin ada yang sombong.

d) sifat- sifat Iblis/setan
Iblis atau setan memiliki sifat sombong, ingkar, dan selalu menentang atau durhaka kepada Tuhan serta senantiasa menyesatkan umat insan biar masuk neraka bersama mereka




62- Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya kalau Engkau memberi tangguh kepadaku hingga hari kiamat, niscaya benar-benar akan saya sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.63- Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam ialah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. 64-  Dan hasunglah siapa yang kau sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan bawah umur dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. ( Israak 62-64)
Mahluk Jin
Jin ialah mahluk Ruh yang dijadikan Tuhan dari api . Iblis ialah salah satu dari golongan Jin ini, sebagaimana dijelaskan Tuhan dalam surat Kahfi ayat 50
50- Dan (ingatlah) saat Kami berfirman kepada para malaikat:  “Sujudlah kau kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia ialah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kau mengambil ia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka ialah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim. (Kahfi 50)
Dalam kehidupan sehari hari kita bercampur gaul dengan mahluk Jin ini tanpa kita sadari, alasannya ialah kita tidak bisa melihat mereka dengan kasat mata. Jin juga berbangsa dan bergolongan  menyerupai manusia, diantara mereka ada yang baik , soleh dan ada pula yang jahat dan kufur pada Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam surat Jin ayat  11
11- Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Jin 11)
Biasanya Jin membentuk koloni dan menetap ditempat yang tidak dihuni insan menyerupai Rimba belantara, lautan, Gurun pasir, pulau kosong, rumah atu bangunan kosong, sungai, pantai yang sunyi, Gua dan lubang ditanah, Pohon besar dan lain sebagainya. Diantara Jin ini ada juga yang tinggal bersama insan di kota, perumahan , pasar dan lain sebagainya.
Kadang kala terjadi juga keributan dan perseteruan antara golongan Jin dan insan alasannya ialah sesuatu dan lain hal. Ada sekelompok Jin yang tidak senang alasannya ialah kawasan tinggal mereka yang berupa pohon besar atau bangunan renta dibongkar  oleh manusia. Kelompok Jin yang habitatnya terganggu akan menyerang dan merasuk kedalam badan insan membuat keributan berupa kesurupan masal disekolah, pabrik atau kawasan umum lainnya.
Diantara insan ada juga yang berkongsi dan minta pertolongan pada Jin  untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mendapat kekayaan, menyerang atau menyakiti orang yang tidak disenangi, melaksanakan sihir, santet, tenung dan lain sebagainya.
6-  Dan bekerjsama ada beberapa orang laki-laki di antara insan meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Jin 6)
Gangguan Jin pada insan ada yang dilakukan alasannya ialah permintaan seseorang , ada pula yang dilakukan alasannya ialah merasa habitatnya terganggu, alasannya ialah itu Rasulullah melarang umat Islam untuk membuang air kecil dilubang dan kawasan yang mungkin didiami Jin.
Banyak orang yang meyakini bahwa jin bisa melaksanakan perbuatan luar biasa yang tidak bisa dilakukan manusia. Hal tersebut menggoda sekelompok orang untuk bekerja sama dan minta sumbangan Jin untuk melaksanakan maksud dan tujuannya. Dizaman dahulu Nabi Sulaiman memanfaatkan Jin untuk mengerjakan pekerjaan berat menyerupai membangun gedung, menyelam mengambil mutiara dan komplemen dari dalam laut. Namun sebenarnya orang yang bertakwa  memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari Jin ini sebagaimana dikisahkan  dalam surat  An Naml 38-40
38- Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kau sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.39- Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kau berdiri dari kawasan dudukmu; sesungguhnya saya benar-benar besar lengan berkuasa untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.40- Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari  Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba saya apakah saya bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. ( An Naml 38-40)
Jin  Ifrit mengatakan bahwa ia bisa membawa singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina sebelum nabi Sulaiman berdiri dari duduknya, namun seorang yang mendapat Ilmu dari Tuhan telah mendahuluinya dengan memindahkan singgasana itu hanya dalam sekejap mata saja. Ini mengambarkan bahwa Tuhan memberi kemampuan yang lebih besar kepada orang yang bertakwa kepadaNya. Pada kenyataannya seluruh Jin  dimasa itu juga tunduk dalam kekuasaan nabi sulaiman sebagai raja dimasa itu.
Kehidup Jin sama menyerupai insan berbangsa, suku, kelompok dan golongan. Jin mempunyai kewajiban sama menyerupai manusia, mereka juga akan diminta pertanggungan jawab atas perbuatan mereka kelak diakhirat. Jin yang taat patuh pada Tuhan akan masuk kedalam syurga sedangkan Jin yang membangkang akan dimasukan kedalam Neraka jahanam. Al Qur’an menjelaskan ini dalam beberapa ayat sebagai berikut:
130- Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kau sendiri, yang memberikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka ialah orang-orang yang kafir.(Al An Aam 130)
179- Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai indera pendengaran (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 179)
56- Dan Aku tidak menciptakan jin dan insan melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(Adz Dzariyat 56)
56- Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh insan sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.                   (Ar Rahman 56)
Diantara Jin juga ada yang mempelajari Qur’an dan memberikan dakwah bagi kalangan mereka, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ahqaf 29.
29- Dan (ingatlah) saat Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kau (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al Ahqaf 29)





Himpitan ekonomi dan kesulitan hidup terutama di kota-kota besar telah bisa menghilangkan nalar sehat manusia. Sikap putus asa dan rasa malas namun memiliki mimpi yang tinggi disikapi dengan menempuh jalan irasional yang bertentangan dengan akidah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh para dukun yang berkedok ustadz untuk mengeruk keuntungan langsung meskipun harus menjerumuskan orang lain. Praktek perdukunan seakan sudah mendapat pengakuan dari maysrakat, alasannya yaitu penyesatan kepercayaan secara terang-terangan di media masa ini tidak mendapat reaksi penolakan dari masyarakat Indonesia yang notabenenya dominan muslim. Janji-janji muluk para antek-antek iblis ini telah bisa menina bobokan dan menggelincirkan mereka yang lemah dalam pemahaman agama. Lalu bagaimana bekerjsama Islam memandang praktek perdukunan ini ?.
Dukun atau yang dalam bahasa arab dinamakan  memiliki pengertian orang yang mengetahui hal-hal gaib ( Mu’jam Wasith, 2/803). Dalam Syarh Shahih Muslim (5/22) Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan  (kahin/’arraf) adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui peristiwa yang akan terjadi, rahasia-rahasia gaib, dan eksistensi benda-benda yang hilang atau dicuri. Maka siapa saja yang kriterianya ibarat tadi, apapun lebelnya dan jabatannya, ia termasuk dukun  yang dilaknat agama Islam. Islam telah memerangi perdukunan karena ia akan menumpulkan nalar pikiran manusia. Jika terjadi sesuatu, selalu dikaitkan dengan sesuatu yang supranatural, walaupun hanya dengan terkaan-terkaan tanpa ada dasarnya. Memang unsur yang utama dalam hal ini yaitu percaya dan tidak percaya. Jika kau ingin masuk perdukunan, hilangkanlah nalar sehatmu. Lalu kau akan menjadi abnormal tanpa kamu  sadari.
Artinya seorang dukun  akan selalu mengklaim bahwa dirinya mengetahui hal-hal yang sifatnya ghaib. Padahal Alloh Swt berfirman dalam Al Qur’an :
(dia yaitu Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak menyampaikan kepada seorangpun perihal yang ghaib itu.kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
Ayat ini mengindikasikan bahwa hanya Alloh lah yang mengetahui perkara ghaib, serta rasul-rasulNya apabila dikehendaki olehNya. Sebab Nabi Saw sendiri saat ada seorang jariyah bernyanyi dengan berkata :
عندي نبي بعلم ما في غد
Disisi kami ada Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok. Sontak Nabi bersabda : tinggalkan apa yang kalian ucapkan ini sesungguhnya tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok ( Ithaf Saddatil Muttaqin, 5/ 120).
Dukun dengan segala informasinya yang bersifat ghaib yaitu wakil iblis dan ia telah membuatkan kebohongan. Ia menerima informasi ghaib tersebut dari Jin yang mencuri dengar info langit dan menyempaikan kepadanya dengan disertai seratus kebohongan ( Riyadhush sholihin, 630).
Oleh alasannya yaitu itu apabila kita menerima suatu problem atau musibah, hendaklah kita mendekatkan diri kita kepada Alloh dengan memperbanyak sholat bukan lari ke dukun. Mendatangi dukun yaitu dosa besar dan menimbulkan shalat tidak diterima selama empat puluh hari. Jika membenarkannya, maka Islam telah menganggap hal ini sebagai bentuk kekafiran. Adapun mengenai pelaku perdukunan, banyak ulama telah menghukuminya dengan kafir dan sebagian ulama lagi menghukuminya  dengan dosa besar saja. Dalam riwayat lain bahwa mendatangi dukun dan bertanya perihal sesuatu hal menimbulkan taubatnya tidak diterima selama 40 hari,sebagaimana sabda Nabi :
Siapapun yang mendatangi dukun dan menanyakan perihal suatu hal maka dia tidak akan diterima taubatnya selama 40 hari, sedang jikalau ia percaya terhadap apa yang diucapkannya maka dia telah kafir ( HR. Thabrani )
Sedemikian dahsyatnya bahaya Rasulullah terhadap praktek perdukunan ini, karena ia dengan pengetahuan yang diberikan oleh Alloh menyadari bahwa perdukunan dapat merusak tatanan kehidupan, mulai dari tatanan dalam keluarga hingga tatanan kehidupan berbangsa. Sebab orang yang terjerumus dalam perdukunan akan cenderung berfikir mistis dan irasional.
Wallahua’lam.


DEFINISI MARAH 

A. Secara Bahasa
Marah ( اَلْغَضَبُ ) secara bahasa mempunyai beberapa makna, di antaranya:
1. اَلسُّخْطُ (kemarahan) atau عَدَمُ الرِّضَى بِالشَّيْءِ (tidak meridhai sesuatu). Kita katakan: غَضِبَ عَلَيْهِ غَضْبًا وَمَغْضَبَةً, yaitu benci atau tidak ridha, غَضِبَ لَهُ yaitu benci atau ia tidak ridha kepada sesuatu karenanya.
2. اَلْعَضُّ عَلَى الشَّيْءِ (menggigit sesuatu). Kita katakan: غَضِبَتِ الْخَيْلِ عَلَى اللُّجْمِ, yaitu menggigit.
3. اَلْعَبُوْسُ (kemuraman). Kita katakan: نَاقَةٌ غَضُوْبٌ وَامْرَأَةٌ غَضُوْبٌ yaitu bermuram muka.
4. وَرِمَ مَاحَوْلَ الشَّيْءِ (membengkak disekitar sesuatu). Kita katakan: غَضِبَتْ عَيْنُهُ, yaitu matanya membengkak, غَضِبَتْ yaitu infeksi di sekitarnya.
5. اَلْكِدْرُ فِي الْمُعَاشِرَةِ وَالْخُلُقِ (buruk dalam bergaul dan berakhlak). Kita katakan: هذَا غَضَابِي, yaitu buruk dalam bergaul dan berakhlak dengannya.
6. Perisai dari kulit unta yang dipakai dalam peperangan. اَلْغُضْبَةُ, yaitu kulit yang keras dari kambing dikala disamak.[1]
B. Secara Istilah
Secara istilah, اَلْغَضَبُ yaitu perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh di dalam dada, dan yang paling besar dari marah ialah اَلْغَيْظُ, sampai mereka berkata dalam definisinya: “Kemarahan yang teramat sangat.”[2]
TANDA-TANDA KEMARAHAN DAN HAKIKATNYA DALAM ISLAM
A. Tanda-Tanda Kemarahan yang Nampak
Marah memiliki tanda-tanda zhahir yang menunjukkannya, dan tanda-tanda yang dapat diketahui dengannya di antaranya:
1. Mengejangnya urat dan otot disertai memerahnya wajah dan kedua mata.
2. Wajah yang cemberut (muram) dan dahi yang mengerut.
3. Permusuhan dengan orang lain melalui lisan, tangan, kaki, atau yang semisalnya.
4. Membalas musuh dengan jawaban yang setimpal dengannya atau lebih parah darinya, tanpa memikirkan akibat-akibatnya yang fatal dan seterusnya.
B. Hakikat Marah
Dalam Islam, marah terbagi dua, marah yang terpuji dan marah yang tercela.
1. Marah yang terpuji, yaitu bila dilakukan dalam rangka membela diri, kehormatan, harta, agama, hak-hak umum atau menolong orang yang dizhalimi.
Hal ini dikuatkan dengan dalil yang banyak, di antaranya:
a. Sesungguhnya Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala menciptakan insan untuk menjadi khalifah di muka bumi, menyerupai dalam firman-Nya:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah dikala Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” [Al-Baqarah/2: 30]
Agar dapat melaksanakan peran ini, insan diciptakan meliputi tiga unsur; ruh, logika dan jasad. Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan bahwa Dia menjadikan jasad insan untuk melayani ruh, dan menjadikannya dalam keadaan baik untuk melayani ruh tersebut selama insan hidup di atas muka bumi, maka Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala menciptakan padanya dua kekuatan:
Pertama, kekuatan syahwat, tugasnya ialah mendatangkan setiap apa yang berkhasiat bagi jasad dan menawarkan makanan padanya.
Kedua, kekuatan amarah, tugasnya ialah menolak setiap apa yang membahayakan jasad dan menghancurkannya.
Demikian pula Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala menciptakan baginya anggota badan dan bagian-bagiannya untuk melayani setiap kekuatan syahwat dan amarah. Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala juga menciptakan baginya logika yang menjadi penasihat dan pemberi isyarat bagi ruh, dan bila kedua kekuatan syahwat dan amarah condong dari batas kewajaran, maka logika akan menasihati dan mengarahkan ruh pada pentingnya mengambil posisi yang terang dan tegas dengan kekuatan yang condong tersebut semoga keseimbangan dan kesempurnaan akan kembali kepada jasad. Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bergotong-royong logika terkadang dapat terkena apa yang menghalanginya untuk mendapatkan pesan tersirat karena suatu alasannya ialah atau yang lainnya, lalu Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala menurunkan baginya sebuah sistem yang tergambar dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan menerangi jalannya, menunjukkannya kepada kebenaran, menjaga keseimbangan dan kesempurnaan antara seluruh aspek yang mana insan disusun dengannya semoga ia tetap menjadi langsung yang normal, lurus yang tidak ada kekurangan atau penyimpangan padanya. Dikutip dari kitab Jaami’ul Bayaan.
Dengan demikian, marah diciptakan dalam diri insan untuk melawan setiap sesuatu yang menghadangnya, serta menjaga kehormatan dan kesucian.
b. Sesungguhnya Yang Mahakuasa Azza wa Jalla telah memuji para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergotong-royong mereka ialah orang-orang yang keras dan tegas kepada kaum kafir, dengan firman-Nya:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ
“Muhammad itu ialah utusan Yang Mahakuasa dan orang-orang yang bersamanya ialah keras terhadap orang-orang kafir.” [Al-Fat-h/48: 29]
Keras terhadap kaum kafir tidak terjadi melainkan karena kecemburuan dan amarah, mereka tidak marah terhadap apa yang Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala kabarkan perihal mereka, tetapi mereka marah karena Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴿٨﴾وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Yang Mahakuasa dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Yang Mahakuasa dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menyimpan harapan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”[Al-Hasyr/59: 8-9]
Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Maksud ayat:
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ bahwa Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya dari Sahabat yang hidup bersama ia dalam agama ini, mereka keras terhadap orang-orang kafir, hati mereka tegas kepada mereka, dan rahmat mereka terhadap orang-orang kafir sangatlah sedikit.”
c. Yang Mahakuasa Azza wa Jalla telah menyebutkan bergotong-royong di antara sifat kelompok orang yang dipilih untuk melindungi agama Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala dan mengukuhkannya di dunia ini setelah dihadang oleh orang yang menghadangnya ialah kemuliaan mereka terhadap kaum kafir, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kau yang murtad dari agamanya, maka kelak Yang Mahakuasa akan mendatangkan suatu kaum yang Yang Mahakuasa mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” [Al-Maaidah/5: 54]
Ibnu Jarir rahimahullah berkata: “Makna ayat أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ yaitu keras dan tegas terhadap mereka. Dari perkataan seseorang, sesungguhnya orang itu telah memuliakanku, bila ia menampakkan kemuliaan itu dari dirinya untuknya, dan memperlihatkan ketidakramahan dan ketegasan.”
d. Yang Mahakuasa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Neraka Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk daerah kembali.” [At-Taubah/9: 73]
Adalah hal yang diketahui bergotong-royong ketegasan terhadap mereka timbul dari amarah kepada mereka yang disebabkan oleh kekufuran dan kemunafikan mereka yang menjadikan rintangan bagi agama Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan agama tersebut menjadi menyimpang.
e. Dalam sifat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan:
((مَا خُيِّرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلاَّ أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللهِ فَيَنْتَقِمَ ِللهِ بِهَا ))
“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan kepada dua pilihan melainkan ia memilih yang paling mudah di antara keduanya selama tidak merupakan suatu dosa, namun bila sesuatu itu dosa ia ialah orang yang paling menjauh darinya, dan tidaklah ia membalas karena dirinya kecuali kehormatan Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala dilanggar, maka ia marah karenanya.”[3]
2. Marah yang tercela ialah marah sebagai tindakan balas dendam demi dirinya sendiri, demikianlah yang dimaksud di sini. Terhadap pencelaan marah menyerupai ini banyak sekali kabar dan riwayat yang datang tentangnya, yaitu:
a. Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ))
“Orang yang berpengaruh bukanlah dengan bergulat, namun orang yang berpengaruh itu ialah orang yang bisa mengendalikan dirinya dikala marah.”[4]
b. Hadits dari ‘Adi bin Tsabit Radhiyallahu anhu.
عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوْسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِنِّي َلأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ! لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ )) فَقَالُوا لِلرَّجُلِ: أَلاَّ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ: إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُوْنٍ ))
“Dari ‘Adi bin Tsabit, telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Shurad, ia berkata, ‘Ada dua orang yang saling mencaci di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kami duduk di sekeliling beliau, salah seorang dari keduanya mencaci yang lainnya seraya marah-marah dengan wajah memerah.’ Lalu Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, apabila ia mengucapkannya maka apa yang didapatinya (kemarahan) itu akan hilang, yaitu apabila ia berkata: “أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (Aku berlindung kepada Yang Mahakuasa dari godaan syaitan yang terkutuk).” Mereka berkata kepada orang tersebut: ‘Apakah engkau tidak mendengarkan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya saya bukan orang yang gila.’”[5]
c. Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِيْ. قَالَ (( لاَ تَغْضَبْ )) فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bergotong-royong ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Berikanlah pesan tersirat kepadaku.’ Beliau berkata: ‘Janganlah engkau marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, ia tetap berkata: ‘Janganlah engkau marah.’”[6]
Apabila ‘Umar Radhiyallahu anhu berkhutbah, ia berkata dalam khutbahnya:
((أَفْلَحَ مِنْكُمْ مَنْ حُفِظَ مِنَ الطَّمَعِ، وَالْهَوَى، وَالْغَضَبِ ))
“Orang yang beruntung di antara kalian ialah orang yang terjaga dari ketamakan, hawa nafsu dan amarah.”
Dikatakan kepada ‘Abdullah Ibnul Mubarak, “Sebutkanlah kepada kami secara menyeluruh dalam satu kalimat perihal adat yang baik.” Maka ia berkata, “Meninggalkan amarah,” itulah hakikat marah dalam Islam.
Sesungguhnya Syaikh Mahfuzh telah merangkum hakikat amarah tersebut dengan cara yang mudah dan gampang difahami dengan menukil riwayat dari Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Ihyaa’, dia (al-Ghazali) mengatakan bahwa:
Amarah itu terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan kewajaran, yaitu amarah yang ditujukan untuk membela diri, agama, kehormatan, harta, membela hak-hak yang umum dan menolong orang yang dizhalimi. Disebabkan kondisi-kondisi itulah amarah diciptakan, ia diciptakan untuk suatu akal yang mendasar sebagai konsekuensi dari tabi’at makhluk dan memenuhi aturan masyarakat. Karena sesungguhnya berlomba-lomba dalam kehidupan dan persaingan ini dalam memenuhi kebutuhannya menjadikan adanya pembelaan yang berpengaruh akan diri, agama, harta, kehormatan, dan hak-hak umum. Seandainya bukan karena hal itu, maka bumi ini akan hancur dengan merebaknya kekacauan dan meruntuhkan sistem-sistem kemasyarakatan. Oleh karena itu barangsiapa yang tidak marah karena dirinya maka ia akan menghadapi janjkematian di muka bumi ini, atau ia akan menghadapi hinaan orang lain dengan banyak sekali macam hinaan layaknya hewan yang tidak marah demi dirinya. Dan barangsiapa yang tidak marah karena agamanya, maka sesungguhnya tujuannya ialah taqlid yang begitu berpengaruh pada setiap apa yang dilihat dan dianggapnya baik, lalu ia pun akan berpindah dari satu agama ke agama lain di sebabkan taqlid buta. Dan barangsiapa yang tidak marah demi kehormatannya, maka ia tidak merasa cemburu terhadap wanita-wanitanya (isterinya), akan bercampuraduknya keturunan (nasab), menyebarnya kekejian ditengah-tengah masyarakat, sehingga insan akan menjadi menyerupai hewan yang menyetubuhi betinanya tanpa ada rasa cemburu dan memandang rendah akan hal itu.
Dan barangsiapa yang tidak marah demi hartanya, maka ia tidak akan selamat dari rampasan orang lain terhadap hartanya, sehingga ia menjadi miskin dan papa, dan apabila tindakan merampas harta telah menyebar maka akan lumpuhlah sistem pekerjaan, bahkan transaksi-transaksi ekonomi akan lumpuh total, pabrik-pabrik akan tutup, pertanian akan hancur, dan insan akan bersandar pada harta rampasan orang lain. Hal itu ialah suatu keburukan dan bencana dalam waktu bersahabat maupun waktu yang akan datang.
Dan barangsiapa yang tidak cemburu akan hak-hak umum dan menolong orang yang dizhalimi maka sesungguhnya ia telah menyimpang dari tabi’at yang Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan insan di atasnya.
Dalam hal yang sama, Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang dibuat marah namun ia tidak marah, maka ia ialah keledai.” Yaitu mempunyai tabi’at yang dungu, dan rasa malunya hilang, dalam hal ini Imam asy-Syafi’i mengisyaratkan dengan firman Yang Mahakuasa Ta’ala:
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Seandainya Yang Mahakuasa tidak menolak (keganasan) sebagian insan dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Yang Mahakuasa mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”[Al-Baqarah/2: 251]
2. Tingkatan melalaikan, yaitu amarah yang berada di bawah batas kewajaran dengan melemahnya amarah tersebut pada diri manusia, atau hilang sama sekali darinya. Kondisi menyerupai ini sangatlah terhina secara logika maupun agama, karena barangsiapa yang tidak marah demi dirinya, agama, kehormatan, harta, atau kemaslahatan umum, maka dia ialah pengecut, dia tidak berjalan di atas ketetapan-ketetapan Yang Mahakuasa terhadap makhluk-Nya. Dalam hal menyerupai ini terdapat ancaman besar yang mengancam masyarakat, karena akan menyebabkan kekacauan pada semua tatanan kehidupan menyerupai yang telah Anda ketahui.
3. Tingkatan yang berlebih-lebihan, yaitu amarah yang melampaui batas kewajaran, logika dan juga agama. Amarah itu berjalan dengan cepat di atas keburukan yang akhirnya akan menjadikan kehancuran dari arah yang tidak ia ketahui, dan mungkin saja amarahnya menyeret kepada suatu perkara yang pada akhirnya dia melaksanakan dosa besar dan menyebarnya banyak sekali kehancuran.
Merupakan hal yang sudah diketahui bahwa amarah dalam kondisi-kondisi menyerupai itu ialah tercela, baik secara logika maupun agama. Berbedanya tingkatan celaan terhadapnya sesuai dengan perbedaan berpengaruh atau lemahnya akhir yang ditimbulkannya, setiap kali bahayanya lebih besar maka amarah tersebut akan lebih berpengaruh dan celaan padanya pun akan lebih banyak lagi. Dikutip dari kitab Hidaayatul Mustarsyidiin.

Wallahua’lam..

Dua Dosa yang Tetap Mengalir Meski Sudah Meninggal



Sebagian insan mampu dengan mudah melaksanakan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena seringnya dilakukan, tindakan tersebut terkadang dianggap biasa sehingga tidak terasa menyerupai dosa. Padahal dosa bukanlah perkara main-main.

Balasannya mutlak neraka yang sudah disiapkan Tuhan SWT bagi hamba-Nya yang ingkar. Ternyata, setelah meninggal tanggungjawab terhadap dosa maksiat yang pernah dilakukan tidak terputus begitu saja.

Selama perbuatan maksiat tersebut masih berdampak dan besar lengan berkuasa kepada orang lain, maka dosanya akan tetap mengalir kepada pelakunya meski Ia sudah meninggal. Apa saja dosa-dosa tersebut? Berikut ulasannya.

Jika biasanya kita mengenal amal jariyah yang pahalanya mengalir meski sudah meninggal, maka ada juga dosa jariyah yang di janjikan Tuhan SWT akan diterima manusia. Saat sudah meninggal, seseorang akan tetap mendapatkan dosa sebab perbuatannya semasa di dunia masih besar lengan berkuasa buruk terhadap orang lain.

Padahal di alam barzah insan sangat membutuhkan limpahan pahala sebagai sumbangan mereka menunggu hari kiamat. Namun sebab dosa jariyah ini mereka justru harus menanggung dosa-dosa yang dilakukan orang lain, akhir pengaruh atas tindakan maksiat yang pernah Ia lakukan semasa hidup.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang faktual (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Lantas apa saja dosa yang akan terus mengalir ini?

1. Menjadi Pelopor Maksiat
Pelopor merupakan orang yang pertama melaksanakan suatu tindakan sehingga yang lain turut mengikuti. Pengikutnya bersedia memalsukan baik dengan paksaan maupun tanpa diminta sama sekali. Kondisi ini akan sangat mengagumkan kalau menjadi penggagas untuk tujuan yang baik. Namun bagaimana kalau menjadi penggagas maksiat?

Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka ia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melaksanakan keburukan itu sebab ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang yang menjadi penggagas ini sama sekali tidak mengajak orang di lingkungannya untuk berbuat maksiat serupa. Ia juga tidak memperlihatkan motivasi kepada orang lain untuk mengikutinya. Namun sebab perbuatannya ini Ia berhasil menginsipirasi orang lain melaksanakan maksiat serupa.

Itulah mengapa anak Nabi Adam, Qabil, yang menjadi orang pertama yang membunuh insan harus bertangungjawab atas semua kasus pembunuhan di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa sebab pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Tidak mampu dibayangkan, bagaimana dosa yang akan ditanggung penggagas dan pendesign rok mini, baju you can see, penyebar video porno dan masih banyak tindak maksiat lainnya. Sebagai penggagas dosa mereka akan terus mengalir sampai hari final zaman kelak.

2. Mengajak Orang lain Melakukan Kesesatan dan Maksiat
Berbeda dengan penggagas yang hanya menginspirasi orang lain, orang yang satu ini dengan faktual mengajak orang lain untuk melaksanakan kesesatan dan tindakan maksiat. Merekalah merupakan juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Dalam Quran Tuhan SWT menceritakan bagaimana orang kafir kelak akan mendapatkan dosa dari kekufurannya. Belum lagi dengan dosa-dosa orang-orang yang juga mereka sesatkan.

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).”(QS. an-Nahl: 25)

Ayat ini memiliki makna yang sama dengan  hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa, menyerupai dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Contoh mudah terkait hadist ini ialah orang-orang yang menjadi propaganda kesesatan, mereka berbagi pemikiran-pemikiran yang menyimpang, mengajak masyarakat untuk berbuat kesyirikan dan bid’ah.

Merekalah para pemilik dosa jariyah, lantas bagaimana dosa mereka? Selama masih ada insan yang mengikuti apa yang mereka serukan, maka selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun ia sudah dikubur tanah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun ia sendiri tidak melakukannya, namun ia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih banyak melaksanakan amal shaleh dibanding dosa-dosa maksiat. Karena hidup tidak hanya semata di dunia lalu selesai saat sudah meninggal. Namun perjalanan masih panjang untuk menuju kehidupan yang kekal.

Na’udzubillah..

Hafal 10 Ayat Ini Dapat Lindungi Diri dari Fitnah Dajjal
Dajjal merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang menjadi membuktikan bahwa akan segera datangnya hari kiamat. Ia merupakan sesosok insan yang memiliki kedua mata namun buta di salah satunya. Di final zaman, makhluk inilah yang akan membuatkan fitnah terbesar bagi umat Muslim.

Fitnah yang disebarkan Dajjal ini akan menjerumuskan umat Islam ke dalam api neraka di alam abadi kelak. Hal ini berlaku bagi hamba Tuhan yang kurang keimanan dan ilmunya terhadap agama islam. Tidak cukup hingga di situ, Dajjal juga menarik hati insan semoga tidak mengingkari keislamannya.



Oleh karena itu, kita harus senantiasa berpegang pada Islam dan mempersenjatai diri dengan keimanan kepada Allah. Tidak hanya itu, ternyata ada cara untuk melindungi diri dari fitnah Dajjal yakni dengan menghapal 10 ayat dalam Al-Qur’an. Ayat apakah yang dimaksud? Berikut informasi selengkapnya.

Rasulullah SAW telah mempersenjatai umatnya untuk membentengi diri dari fitnahan Dajjal. Salah satunya ialah tawaran semoga umat Islam menghapal 10 ayat dari Surat Al-Kahfi. Surat ini terdiri dari 110 ayat dan termasuk ke dalam golongan surat Makkiyah.

Nama Al-Kahfi sendiri berasal dari Gua dan As-habul Kahfi yang artinya penghuni-penghuni Gua. Di dalam surat ini selain ada dongeng mengenai As-habul Kahfi, ada pula kandungan i’tibar dan pelajaran-pelajaran yang amat memiliki kegunaan bagi insan salah satunya ialah untuk membentengi diri dari fitnah Dajjal.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Bara’, bahwa ada seorang laki-laki membaca al-Kahfi di dalam rumah yang terdapat binatang. Lantaran bacaannya itu, binatang tersebut pun pergi. Lantas ia memandang (ke atas) dan tiba-tiba datang gumpalan awan atau mendung yang kemudian meliputi dirinya. Lalu ia memberitahukan kejadian tersebut kepada Nabi SAW dan dia bersabda:

“Bacalah fulan (surah al-Kahfi), karena yang kau alami ialah ketenangan yang turun berbarengan dengan al-Qur’an atau turun karena al-Qur’an (dibacakan).”(H.R al-Bukhari dan Muslim dalam Shahiih-nya)

Imam Ahmad juga telah meriwayatkan dari Abu Darda’ dari Nabi SAW, bahwa dia bersabda : “Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi, maka ia terlindungi dari Dajjal.” [HR. Ahmad]. Diriwayatkan juga oleh Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi.

Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal” (HR. Muslim no. 809).

Dari An Nawas bin Sam’an, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa di antara kalian mendapati zamannya Dajjal, bacalah awal-awal surat Al Kahfi” (HR. Muslim no. 2937).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “(Kenapa yang dianjurkan untuk dibaca ialah surat Al Kahfi?) Karena di awal surat tersebut terdapat ayat-ayat yang menakjubkan. Siapa yang mau merenungkannya, niscaya ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal. Sebagaimana pula dalam akhir-akhir ayat surat tersebut, Tuhan Ta’ala berfirman,

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil (hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?)” (QS. Al Kahfi: 102)” (Syarh Shahih Muslim, 6: 93).

Demikianlah informasi mengenai 10 ayat yang harus dihapal semoga terhindari dari fitnah Dajjal di kiamat kelak. Maka dari itu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an serta pahami dan amalkan kandungan yang terdapat di dalamnya. Semoga kita termasuk hamba Tuhan yang dapat membentengi diri dari fitnah Dajjal ini.
Na’udzubillahhi mindzalik..


Setan merupakan salah satu makhluk ciptaan Yang Mahakuasa SWT yang diciptakan dari api dan memiliki misi untuk menyesatkan insan sehingga menjadi temannya ketika di neraka kelak. Tipu daya setan sungguh licik sehingga bisa mengelabui manusia, bahkan setan bisa membungkus keburukan menjadi seperti kebaikan sehingga bisa menipu manusia. Bahaya akan muslihat setan ini dapat diminimalisir dengan mengamalkan amalan yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW.


Cukup Dengan 1 Bacaan Ini Anda Bisa Membuat Puluhan Iblis Kocar Kacir Ketakutan... Silahkan di Coba...!!!

Dalam Islam terdapat banyak amalan yang memiliki banyak manfaat untuk setiap muslim amalkan. Masing-masing amalan yang diajarkan dalam Islam memiliki kelebihan dan manfaat masing-masing, salah satunya yakni untuk mengalahkan setan yang selalu mengganggu manusia. Amalan apakah yang dapat mengalahkan setan?

Rosulullah selalu mengajarkan banyak sekali amalan yang dapat membawa kebaikan bagi setiap muslim, selain itu amalan tersebut juga bisa mengalahkan setan yang akan menarik hati kita. Amalan apa yang dapat mengalahkan 70 setan? Ternyata amalan sederhana yang bisa mengalahkan 70 setan yakni berzakat dan menjalankan semua perintah Yang Mahakuasa SWT serta menjauhi segala larangan-Nya. Makara kalahkan 70 setan dengan satu amalan ini ya…

Amalan ini memang merupakan amalan yang sangat sederhana, tetapi masih banyak umat Islam yang belum menjalankannya dan bahkan berat untuk melaksanakannya. Bersedekah tidak hanya dapat mengalahkan setan saja tetapi juga membawa banyak manfaat bagi setiap muslim yaitu sebagai pembuka pintu rejeki, pelindung dari segala bencana alam dan penyakit, serta sebagai rasa syukur atas segala rejeki yang telah Yang Mahakuasa SWT berikan dengan banyak sekali cara kepada orang yang membutuhkan.

Rosulullah selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berzakat sesuai dengan kemampuannya untuk membantu orang lain dan meningkatkan kesadaran akan hidup bersosialisasi dan tolong menolong dengan sesama. Bersedekah dapat dilakukan meskipun hanya dengan sebiji kurma tetapi yang harus ditekankan bahwa sedekah dilakukan dengan tulus tanpa mengharap kebanggaan dari orang lain. Sudahkah Anda siap mengalahkan 70 setan dengan amalan ini?

Menurut pendapat ulama besar syeikh Ibnu bahwa insan selalu diganggu oleh 70 jenis setan setiap harinya. Setan-setan tersebut mengerubungi seluruh anggota badan insan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki biar insan melaksanakan hal yang dilarang oleh aliran Islam.

Maka tak heran jikalau kekuatan muslihat setan sangat besar dan dikala ini banyak sekali insan yang telah terjebak dengan tipuan setan dan bahkan telah melaksanakan banyak sekali hal larangan Islam secara terang-terangan tanpa memperdulikan bahaya yang telah Yang Mahakuasa SWT jelaskan dalam Al-Quran yaitu neraka.

Setiap orang masih merasa berat untuk berzakat alasannya yakni mereka selalu berpikir masih dalam kekurangan, padahal sedekah tidak harus dilakukan dalam jumlah yang besar tetapi sesuai dengan kemampuan masing-masing orang.

Jika sampai dikala ini kita masih berat untuk melaksanakan amalan sederhana untuk kalahkan 70 setan yaitu bersedekah, belum terlambat untuk memperbaikinya. Kebiasaan berzakat dapat ditanamkan dalam diri dengan melaksanakan latihan yaitu mulailah berzakat dengan hal kecil secara rutin misalnya sebulan sekali mengeluarkan sedekah sepuluh ribu rupiah. Jika hal ini telah rutin dilakukan maka tingkatkan frekuensinya yaitu seminggu sekali, dan akan lebih baik lagi jikalau ditingkatkan setiap hari meskipun hanya seribu rupiah saja.

Jika dipikirkan dengan seksama, kita bisa membeli barang mahal tetapi mengapa kita tidak bisa mengeluarkan sedekah yang jumlahnya tidak sebanding dengan barang mewah yang kita beli. Padahal semua kemewahan yang kita dapatkan di dunia ini bersifat sementara dan tidak dibawa mati tetapi malah justru harus dipertanggungjawabkan dihadapan Yang Mahakuasa SWT kelak di akhirat.

Demikian gosip seputar amalan sederhana berzakat dan jikalau amalkan 1 amalan ini maka Anda bisa kalahkan 70 setan.

Inilah Ciri Orang yang Menjadi Sahabat dan Dicintai Malaikat

Malaikat merupakan makhluk mulia yang diciptakan oleh Yang Mahakuasa SWT. Mereka yakni bangsa yang senantiasa patuh akan perintah-Nya dan tidak pernah melaksanakan perbuatan dosa.. Yang Mahakuasa menugaskan para malaikat untuk mendampingi kehidupan insan selama hidup di dunia.

Tidak hanya itu, ada pula malaikat yang bertugas di dalam surga dan neraka. Dalam kesehariannya, para malaikat ini tidak makan, minum apalagi menikah. Hal ini dikarenakan mereka tidak diberikan karunia berupa nafsu ataupun pikiran.


Akan tetapi, banyak orang yang belum tahu bahwa ternyata para malaikat ini memilih insan untuk dijadikan sobat untuk mereka. Namun, sudah pasti mereka yakni orang pilihan dari Yang Mahakuasa SWT. Lantas, siapakah orang yang dijadikan sobat serta dicintai oleh para malaikat ini? Berikut gosip selengkapnya.

Orang pilihan yang menjadi sobat dan dicintai oleh para malaikat Yang Mahakuasa yakni orang yang beriman. Yang Mahakuasa SWT menugaskan kepada para malaikay untuk senantiasa melimpahkan rasa aman ke dalam hati orang yang beriman.

Tidak cukup hingga di situ, para malaikat ini juga diperintahkan untuk memberikan kabar besar hati wacana surga kepada kaum beriman serta loyal kepada mereka di dalam kehidupan dunia ataupun akhirat.
Allah SWTberfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kau takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Yang Mahakuasa kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kau memperoleh apa yang kau inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kau minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32)

Beriman di sini dalam artian bukan hanya sekedar perkataan “Tuhan kami yakni Allah. Namun lebih dari itu, hal terpenting yakni konsistensi dari perkatan tersebut. Selain ia beriman dengan perkataan, keimanan tersebut juga harus berasal dari hati nuraninya serta perilaku selama orang tersebut hidup di dunia.

Orang-orang yang konsisten dengan keimanannya serta tabah dalam menghadapi cobaan dan tidak mudah terlena dengan kenikmatan yang diberikan Yang Mahakuasa inilah yang berhak menerima kenikmatan abadi di sisi Yang Mahakuasa SWT. Bahkan orang yang memiliki ciri ini juga berhak menerima persahabatan dengan para malaikat dan cinta dari mereka.

Apabila sudah merasa memiliki keimanan kepada Yang Mahakuasa SWT dengan hati, ekspresi dan perbuatannya, maka ia tidak perlu takut dan bersedih hati perihal kehidupannya di ahirat kelak. alasannya Yang Mahakuasa SWT akan senantiasa melindungi mereka ketika berada di dunia ataupun kehidupan setelahnya.

Tidak cukup hingga di situ, orang yang beriman juga dijanjikan akan menerima surga dikala di alam abadi kelak. Di dalam surga inilah orang yang termasuk ke dalam golongan ini akan menerima apapun yang ia inginkan. Yang Mahakuasa SWT juga akan menunjukkan kenikmatan yang tiada terkira kepada mereka yang bertakwa.

biar kita semua termasuk golongan tersebut...amin amin ya robballalamin..


Inilah Dosa yang 1000 Kali Lebih Besar dari Berzina


Perilaku zina merupakan salah satu perbuatan dosa besar yang sangat dibenci Allah. Begitu banyak ayat dalam Quran menjelaskan wacana hukuman yang akan diterima para pelakunya  baik ketika di dunia maupun ketika di akhirat.

Jika dilakukan oleh orang yang belum menikah, maka pelaku zina harus dirajam di hadapan penduduk sebanyak seratus kali. Sementara bagi yang sudah menikah namun melaksanakan zina dengan yang bukan muhrimnya, maka hukumannya dirajam hingga mati.

Bahkan dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi Musa as tidak memaafkan pelaku zina alasannya yakni dianggap sangat hina. Ia mengusir wanita pelaku zina yang ingin bertaubat dan  meminta petunjuk darinya. Hal ini mengambarkan bahwa zina merupakan dosa besar yang sulit diampuni.

Meski demikian besar bahaya dosa yang akan diterima oleh pelaku zina, namun ternyata ada dosa yang besarnya 1000 kali lebih besar dari dosa ini. Ancaman bagi pelaku dosa tersebut yakni hukuman dan kemurkaan Tuhan serta menerima kehinaan di dunia dan akhirat. Apakah dosa yang 1000 kali lebih besar dibanding zina? Berikut ulasannya.

Ternyata dosa yang sedemikian besar tersebut yakni dosa orang yang sengaja meninggalkan salat lima waktu. Salat merupakan kewajiban utama umat Islam yang menjadi pondasi dasar agama Tuhan ini. Meninggalkannya sama dengan meruntuhkan tiang agama dan membuat Tuhan SWT menjadi murka. Tidak hanya ketika di dunia, hukuman bagi orang yang meninggalkan salat, di darul abadi juga sangat pedih.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja yakni dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Tuhan serta menerima kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menimbulkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”. (Riwayat Tabrani).

Dalam riwayat yang lain juga dijelaskan bagaiamana kejamnya siksaan bagi mereka yang meninggalkan shalat. Ibnu Abbas r.a. berkata Jika langit sudah terbuka, maka malaikat akan datang dengan membawa rantai sepanjang 7 hasta. Rantai ini akan digantungkan kepada orang yang tidak melaksanakan shalat. Kemudian dimasukkan dalam mulutnya dan akan keluar dari duburnya. Kemudian malaikat mengumumkan, “ini yakni jawaban orang yang menyepelekan perintah Allah.” (Ibnu Abbas r.a).

Nisbah dosa yang diterima oleh orang yang meninggalkan shalat yakni antara lain yakni sebagai berikut:

Jika satu kali meninggalkan shalat subuh, maka hukumannya yakni masuk neraka selama 30 tahun, sedangkan satu hari di neraka sama dengan  60.000 tahun di dunia. Artinya satu kali tidak melaksanakan salat subuh, maka kita akan mendekam 60 ribu tahun di neraka.
Meninggalkan satu kali salat zuhur, sama dosanya dengan dosa membunuh  1.000 umat Islam
Dosa satu kali meninggalkan shalat ashar sama dengan dosa meruntuhkan Ka’bah
Dosa satu kali meninggalkan shalat maghrib sama dengan dosa berzina dengan ibunya (jika laki-laki) atau berzina dengan ayahnya (jika perempuan)
Satu kali meninggalkan shalat isya, tidak akan di-ridhoi oleh Tuhan untuk tinggal di Bumi dan akan didesak mencari bumi atau kawasan hidup yang lain.


Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa mendirikan salat, melaksanakannya sempurna waktu, biar sholat kita diterima oleh allah swt ,,amin amin yarobballalamin...

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget