Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Articles by "Sahabat"

"MUNGKINKAH MENJADI KENANGAN"


yang dulu ku tak mengenal sosok kalian
sosok yang tak mungkin pernah ku temui pada sosok orang lain
 yang kurindukan ialah kelucuan kalian
kepedulian, kekocakkan, dan tawa yang pernah kita buat bersama..
agar selama tiga tahun kisah yang pernah luka  ukirkan selaalu mengabdi
di pikiran dan memori di hati..
ingatkah kalian hari-hari yang kita lalui bersama banyak terekam kenangan -kenangan yang indah..
mulai dari kalian yang menciptakan tawa dan seyum yang tulus


ku tau kalian yaitu sahabat yang terbaik 
terbaik untuk mengisi kejenuhan 
dan kebahagiaan bersama yaitu kalian..
kalian yang kujumapi sekarang..

kangen kalian I LOVE YOU SAHABAT KU....

Tragedi Buah Apel

Tragedi buah apel telah mengubah seorang Tsabit menjadi orang yang penuh dengan kebahagiaan


Tsabit… suatu ketika berjalan-jalan di sebuah kebun yang indah, tiba-tiba ia melihat buah apel lantas ia ambil lalu dimakannya. Setelah itu ia tersadar belum minta izin pada pemiliknya. Dengan perasaan gelisah akibatnya ia menemui pemilik kebun itu. Singkat cerita, pemilik kebun tersebut mengikhlaskan apel tersebut dengan syarat Tsabit harus menikahi putrinya yang buta, bisu, tuli dan lumpuh. Ia sangat terguncang dengan pilihan pemilik kebun itu. Setelah ditimbang-timbang antara azab dunia dan akhirat, akibatnya ia pun oke dengan persyaratan itu.
Setelah kesepakatan nikah… Allahu Akbar, ia nyaris tak percaya, ternyata istrinya yakni seorang wanita yang sangat cantik, berakal dan penuh ketaqwaan. Dia buta dari melihat hal-hal yang haram, bisu dan tuli dari berbicara dan mendengarkan hal-hal yang dimurkai Yang Mahakuasa ‘Azza wa Jalla serta tak pernah melangkahkan kakinya pada jalan yang haram.
Tragedi buah apel telah mengubah seorang Tsabit menjadi orang yang penuh dengan kebahagiaan. Dari pernikahannya lahirlah Nu’man bin Tsabit atau yang dekat disebut Al-Imam Abu Hanifah. Dialah imam besar yang telah mengukir dunia dengan ilmu dan amal shalih.
Buah Kebaikan
Hidup kadang unik dan sulit ditebak bagaimana akhirnya. Tetapi satu hal yang harus dipahami, ketika kita berbuat kebaikan, Yang Mahakuasa pasti akan membalasnya. Itu pasti ketika kebaikan itu benar-benar dari lubuk hati yang dilandasi tulus hanya mengharap keridhaan-Nya semata. Bisa jadi jawaban itu dari orang lain yang sama sekali tak terduga. Mungkin di dunia atau bisa pula di akhirat. Yang Mahakuasa berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada jawaban kebaikan, kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60).
Dalam Q. S. Al-Muzzamil ayat ke- 20 Yang Mahakuasa berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan itu apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian, niscaya kalian memperoleh (balasan) nya di sisi Yang Mahakuasa sebagai jawaban yang paling baik“.
Begitu juga dengan keburukan yang kita tanam akan menghasilkan jawaban atau azab di sisi Yang Mahakuasa ‘Azza wa Jalla. Tinggal insan bagaimana memposisikan dirinya apakah berbuat kebajikan atau kejelekan.
Energi Terdahsyat Bernama Iman
Iman yang tertanam besar lengan berkuasa dalam hati yakni energi terdahsyat seorang mukmin untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Dengan motivasi kepercayaan yang benar tanpa keraguan terhadap perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, niscaya seorang mukmin akan selamat dan bisa hidup selaras dengan Islam. Segala perkataan dan perbuatan ketika disematkan ruh kepercayaan maka hasilnya akan luar biasa dan berpahala. Itulah kedahsyatan kepercayaan yang bisa membuat segala acara bernilai ibadah. Karena definisi kepercayaan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah suatu perkataan dan perbuatan, perkataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan amal anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Imanlah yang bisa memasukkan seorang hamba ke dalam surga-Nya, sedangkan tauhid yakni intisari dari Islam. Ketika tauhidnya kokoh ia akan selalu menghindari perbuatan dosa dan maksiat. Dan banyak sekali penyimpangan akan dialami insan manakala ia kehilangan iman. Seseorang menganggap biasa saja bergaul bebas dengan alasan ia sobat baik padahal bisa jadi hal-hal yang menurut logika dan perasaan kita baik-baik saja dapat berkibat fatal. Sebuah informasi mengenaskan dilansir harian ibukota. “…Tiba-tiba lelaki yang terkenal baik bermetamorfosis buas, ia pun tak berdaya untuk melawan dan akibatnya kesuciannya terenggut……!”. Na’udzubillahi min dzaalik, sungguh hati wanita malang itu hancur lebur nyaris tanpa bentuk. Ketika ia merasa aman dan nyaman dengan kebaikan orang lain tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’ah.
Empedu Dunia Madunya Akhirat
Ketika Nabi Adam dan Hawa digoda iblis laknatullah ‘alaih, untuk mendekati pohon larangan lalu keduanya pun terjerumus pada larangan Yang Mahakuasa ‘Azza wa Jalla. Akibatnya aurat keduanya terbuka. Namun dengan bertaubat, akibatnya Yang Mahakuasa Ta’ala mengampuni keduanya.
Untuk dapat mencicipi manisnya madu darul abadi insan kadang harus menelan pahitnya empedu dunia. Selaras dengan hadits yang mengatakan bahwa darul abadi itu lebih baik meski harus ditebus dengan melawan hawa nafsu yang cenderung pada kejelekan.
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci, sementara neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang disukai hawa nafsu” (H.R. Muslim ).
Dalam menapaki jalan hidup, insan yang memiliki mata hati yang tajam akan bisa membedakan antara bisikan nafsu yang mayoritas pada kesenangan sesaat dengan petunjuk Allah Ta’ala yang membawa kebaikan dan kebahagiaan hakiki. Dan mukmin yang bijak yakni ketika terbersit bisikan nafsu yang membawa kepada kesesatan, maka ia segera meninggalkannya.
Disinilah, ketika kepercayaan telah memenuhi hati dan menjadi raja niscaya ia akan punya remote kontrol untuk segera meninggalkan bisikan tersebut.
Dibalik semua larangan-larangan-Nya, terdapat samudra pesan yang tersirat yang kadang tak disadari manusia. Sebaik-baik insan yakni orang yang selalu takut berbuat dosa alasannya yakni dosa menyerupai gunung besar di belakang punggungnya, yang siap menghancurkan tubuhnya. Ketika ia telah berbuat maksiat maka segera ia menyesal dan berupaya untuk tidak mengulanginya seraya bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Zaman terus berputar, namun sesuatu yang telah dilarang dan ditetapkan Yang Mahakuasa tak pernah usang, alasannya yakni ia menyerupai mata air kehidupan, selalu diperlukan insan dimanapun dan hingga kapanpun. Dalam rengkuhan Islam semua yang dilakukannya takkan pernah sia-sia.
Subhanallah....




 Doa Orang Teraniaya Dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an yang penuh nuansa
 dendam dan kebencian, tidak akan lebih baik dari do’a meminta kebaikan yang akan lebih memiliki kegunaan untuk Anda dalam jangka panjang.

Teraniaya atau tidak, tergantung pada perspekstif yang Anda pakai sendiri-sendiri. Sering kita merasa bahwa diri kita ialah pihak yang dirugikan, sementara bersama dengan itu sebetulnya kita juga menyakiti hati orang lain. Karena itulah, yang perlu dimiliki oleh semua insan yang hidup bersama banyak orang, kita harus tahu bagaimana mendapatkan pendapat orang lain dan bisa menempatkan diri. Memang ada hadis dan ayat yang secara tersirat memperlihatkan jika Doa orang teraniaya sebenarnya lebih manjur terkabulkan dibandingkan dengan do’a orang biasa. Namun tentu hal ini tidak bisa menjadi sarana balas dendam antara Anda dan orang lain.
Doa Orang Teraniaya Dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an dapat kita lihat dalam Surat An-Naml Ayat 62.
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
Artinya : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kau (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Tuhan ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kau mengingat-ingat(-Nya).” – (QS.27:62)
Teraniaya Itu Tidak Mudah Teraniaya sebetulnya mengacu pada keadaan pada ketika seseorang benar-benar tidak bisa melaksanakan apapun untuk melindungi dirinya sementara ditekan oleh orang lain. Seorang teraniaya yang tangguh adalah, insan yang tidak merasa dirinya terzalimi meskipun sebetulnya dalam keadaan menyerupai itu.  Orang-orang menyerupai ini hanyalah mereka yang bisa mengendalikan rasa sakit sedemikian rupa, bahkan mengubah perspektif problem yang sedang ia hadapi biar tidak hingga mensugesti keadaan dalam jiwanya.
Jadi, jangan mudah mengatakan bahwa Anda ialah seorang yang sedang teraniaya. Apalagi jikalau hingga Anda menyimpan dendam dengan menyatakan pada orang lain bahwa Anda ialah yang teraniaya, maka ia harus berhati-hati karena Doa orang teraniaya sulit tidak dikabulkan. Bagaimana jikalau percekcokan antara Anda dan ia ternyata menjadikan posisi saling teraniaya? Artinya, kedua belah pihak merasa tersakiti dan tidak tahu jalan keluar apa yang harus dilewati selain saling menyimpan dendam.
Allah SWT telah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 148:
لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم وكان الله سميعا عليما
Artinya : “Allah SWT tidak suka seseorang mengatakan sesuatu yang buruk kepada seseorang dengan terang-terangan melainkan orang yang dizalimi maka ia boleh menceritakan kezaliman tersebut, dan Tuhan SWT itu maha mendengar dan maha mengetahui.” ( 148 : an-Nisa)
Wah, jikalau masalahnya menyerupai ini, maka siapa yang pertama kali bisa membuka kembali korelasi tali komunikasi ialah pemenangnya. Iya, karena selain berhasil melewati emosi, ia juga telah berhasil mengendalikan diri untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakan. Namun memang pada kenyataannya, eksistensi orang semacam ini tidak bisa ditemukan dengan mudah. Bisa jadi diantara seribu insan hanya ada segelintir mereka yang bisa melakukannya. Teraniaya ialah keadaan, dan dengan mengendalikan keadaan itulah Anda bisa melewatinya.
Cara Mengendalikan Keadaan Teraniaya
Bagaimana cara mengendalikan keadaan teraniaya? Apalagi jikalau posisi yang Anda diami ialah pihak di bawah yang kurang memiliki pengaruh dan kuasa. Keadaan terdzalimi bukan hanya bekerjasama dengan posisi Anda di luar atau dalam pandangan orang lain, namun justru lebih berpacu pada keadaan dalam diri Anda sendiri. Bukankah kita sering melihat informasi Muslim Palestina yang tetap bangun meskipun terus menerus dianiaya? Jika tidak bisa memberi derma pada dirinya sendiri, maka bukan bangkit, bisa jadi mereka justru putus asa.
Ya, teraniaya secara kasat mata bukan berarti putus asa. Asalkan masih ada keyakinan, semangat, dan cita-cita yang tertanam besar lengan berkuasa di dalam hati pihak yang terzalimi, maka memang sudah sewajarnya jikalau cepat atau lambat mereka akan tetap bangun dari keterpurukan, lagi dan lagi. Selain itu, harga diri dan hasil yang didapatkan pihak teraniaya setelah berjuang terus menerus akan terasa lebih berarti dibandingkan seorang yang mendapatkan keinginannya dengan mudah. Masihkah Anda merasa sedang teraniaya?
Menolak keadaan teraniaya juga tidak berarti bahwa Anda harus mengabaikannya. Cara termudah untuk membentengi diri memang memasang wajah angkuh, dan menolak keadaan yang terjadi. Namun hati-hati, selain ini bukanlah sikap yang baik, menolak keadaan tidak akan bisa mengubah apapun jikalau Anda tetap diam. Untuk bisa mengatasi rasa teraniaya ialah dengan menolak secara aktif, artinya Anda bisa dan berani menyuarakan ganjalan yang terasa menghimpit dalam hati Anda biar tidak membebani batin.
Jika mendengar Anda menolak menjadi pihak yang tak berdaya, tentu lawan Anda akan merasa kaget dan meragukan kembali apakah ia telah menang menganiaya Anda atau justru tidak berhasil. Tidak ada senjata yang paling ampuh selain memakai kekuatan mental, dan Anda bisa melatihnya sedikit demi sedikit. Jika masih terasa sakit di hati, berdo’alah biar Anda diberikan kesabaran dalam menghadapi problem tersebut hingga selesai. Doa orang terzalimi memang maqbul atau mudah dikabulkan, namun bukankah itu berarti sebaiknya Anda berdoa meminta kebaikan saja.
Hadits dari Ibnu Umar SAW, Rasulullah SAW bersabda:
اتق دعوة المظلوم فإنها تصعد إلى السماء كأنها شرارة
Artinya : “Hendaklah kau waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (Hadis riwayat Hakim – sanad sahih)
Dibandingkan dengan doa orang teraniaya yang penuh nuansa dendam dan kebencian, do’a yang meminta kebaikan menyerupai sifat-sifat terpuji akan lebih memiliki kegunaan untuk Anda dalam jangka panjang. Mengapa Anda berkeras untuk membalas dendam, jikalau Anda bisa memetik kebaikan dari keadaan teraniaya? Jika Anda tetap sabar, namun tegas melaksanakan perlawanan, maka cepat atau lambat usaha tersebut pasti akan membuahkan hasil. Prinsipnya, tidak pernah ada usaha yang sia-sia dan hal ini sudah menjadi hokum alam.
Teraniaya Bukan Kata Yang Sama Dengan Selamanya
Seperti halnya konsep hokum kausalitas, bahwa setiap alasannya akan menjadikan akibat. Dan semua agresi mau tidak mau menarik reaksi. Jadi, jangan khawatir jikalau Anda akan teraniaya selama-lamanya. Selama masih ada kekuatan untuk melawan, maka bukan tidak mungkin suatu ketika keadaan akan berbalik. Karena itulah dibanding membalas dengan kebencian, menyikapi keadaan teraniaya untuk berdo’a meminta kebaikan akan lebih memiliki kegunaan di masa depan.
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang renta kepada anaknya”. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi. al-Tirmizi berkata: Hadis hasan)
Jika dipikirkan lebih dalam, apa yang akan Anda dapatkan ketika seorang yang telah menganiaya Anda ternyata mendapatkan kemalangan sebagai balasannya? Puas? Tertawa? Senang? Lalu apa lagi? Setelah itu, Anda hanya akan kembali berkutat pada persepsi dan keadaan Anda sama menyerupai sebelumnya. Selain itu Anda juga tidak bisa berguru dari problem yang sudah terjadi. Ditambah jikalau Anda ialah seorang beragama yang mengharapkan diri menjadi hamba yang baik, Anda justru menambah dosa dikarenakan telah menertawakan penderitaan orang lain. Apa Anda ingat, jikalau pada dasarnya kita dihimbau untuk memakai prinsip jikalau semua insan terikat dalam tali persaudaraan?
Jika semua insan terikat persaudaraan, maka berarti memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan mendidik saudaranya. Makara memanjatkan do’a dengan penuh dendam juga kemarahan bukanlah suatu yang akan mendidik saudara kita menjadi lebih baik. Seperti api yang tidak bisa dipadamkan dengan api. Sebelum menjadi abu, Anda harus membasahi diri dengan air biar bisa memadamkannya sedikit demi sedikit. Jika Anda ingat, bahkan Einstein pernah berkata bahwa; kegelapan itu tidak ada, yang ada hanyalah ruang yang belum tersinari cahaya. Dengan caranya sendiri Einstein mengajarkan pada kita bahwa kegelapan sebetulnya tidak memiliki kekuatan apa-apa selagi insan tidak terpengaruh dengannya.
Semoga informasi wacana orang yang teraniaya...semoga bermanfaat untuk kita semua amin amin ya robball alamin..


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget