Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post

JIN, TAK BERANI BERHADAPAN DENGAN ORANG INI



APAKAH Anda merasa takut kalau jin akan terus menarik hati atau menakuti diri Anda? Ya, kebanyakan orang memang merasa takut terhadap jin, apalagi kepada jin yang jahil. Dialah jin yang selalu usil menakuti manusia, sampai insan merasa dirinya berada dalam kondisi tidak aman.
Padahal, sebagai insan kita memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada jin. Lihat saja dalam Al-Quran, dikisahkan bahwa jin dan setan diperintahkan untuk sujud pada manusia. Inilah yang menjadi alasan berpengaruh untuk tidak lagi takut pada jin. Sebab, apa yang mau ditakuti. Toh, seharusnya dialah yang harus takut kepada kita.
Meskipun begitu, memang ada jin yang memiliki keberanian besar, sampai insan itu takut pada jin. Akan tetapi, jin bernyali besar itu juga mampu ditaklukan. Ia juga mampu mencicipi takut yang luar biasa pada orang-orang tertentu. Pada siapa?
Salah satunya kepada Umar bin Khaththab. Ya, jin begitu menakuti salah seorang teman Rasulullah  tersebut, sebab ada hal yang membuat dirinya begitu kuat. Apa itu? Yakni keimanan yang tangguh.
Iman yang telah tertancap berpengaruh dalam diri Umar membuat jin dan setan enggan berpapasan dengannya. Bahkan, dalam suatu riwayat dikatakan bahwa saat jin berpapasan dengannya, jin lebih memilih jalan lain sebab tidak berani menatap wajah Umar. Hingga akhirnya, jin lebih memilih lari dari Umar.
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda kepada Umar:
 “Sesungguhnya setan sangat takut olehmu, wahai Umar,” (HR. Turmudzi).
Ternyata, jin bukan hanya takut pada Umar. Lantas pada siapa lagi? Yakni, pada orang-orang mukmin yang memiliki keimanan yang kuat. Dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir pernah mengutip sebuah hadis, “Sesungguhnya orang mukmin akan dapat mengendalikan (mengalahkan) syaithannya sebagaimana salah seorang dari kalian yang dapat mengendalikan untanya saat bepergian,” (HR. Ahmad).
Jadi, kalau Anda ingin jin tidak mengganggu Anda, maka Anda harus mampu mengendalikan jin. Dengan kekuatan iman, jin mampu dikendalikan dengan baik. Sehingga, Anda tak perlu cemas dengan gangguan jin. Sebab, jin akan takut kepada kita, yang memiliki ketangguhan iman. Wallahua’lam...
Semoga artikel ini mampu menguatkan kepercayaan kita kepada allah SWT amin amin yarobballamin...


TANDA LEMAHNYA IMAN DAN MEMPERBAHARUI ISLAM



Sedikit saya bahas ihwal lemahnya doktrin dan cara memperbaharui doktrin kita biar dengan penjelasan yang singkat ini kita semua bisa mengambil hikmahnya dari uraian-uraian yang saya paparkan dibawah ini, sekaligus mengamalkannya dan mengkaji serta mentafakuri dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa mengintropeksi diri apakah keadaan doktrin kita menurun atau naik Keimanan Manusia tidak menyerupai Malaikat, pun juga menyerupai Iblis La’natullah. Keimanan Manusia selalu dinamis, naik dan turun sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Al Imanu yajiidu wa yangus jadiidu” yang artinya : doktrin itu kadang naik dan kadang turun, maka perbaharuilah selalu doktrin itu.
Berikut tanda-tanda lemahnya doktrin seseorang :
Terus – menerus melaksanakan dosa dan tidak merasa bersalah.
Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an.
berlambat – lambat dalam melaksanakan kebaikan, menyerupai terlambat untuk melaksanakan shalat.
Meninggalkan sunnah.
Memiliki suasana hati yang goyah, menyerupai bosan dalam kebaikan
Tidak mencicipi apapun saat mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, menyerupai saat Yang Mahakuasa mengingatkan ihwal hukumanNya dan akad – janjiNya ihwal kabar baik.
Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah.
Tidak merasa risau saat keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah.
Menginginkan jabatan dan kekayaan.
Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah.
Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
Merasa senang saat urusan orang lain tidak berjalan semestinya.
Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram dan tidak menghindari yang makruh.
Mengolok – olok orang yang berbuat kebaikan kecil, menyerupai membersihkan masjid
Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin.
Tidak merasa bertanggung jawab untuk melaksanakan sesuatu demi kemajuan Islam.
Tidak bisa mendapatkan bencana alam yang menimpanya, menyerupai menangis dan meratap-ratap
Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan tanpa memiliki bukti.
Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupan duniawi menyerupai merasa galau hanya saat kehilangan sesuatu bahan kebendaan.
Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri.
Hal – hal berikut yang dapat meningkatkan keimanan kita.
Tilawatil Al-Qur’an dan mentafakuri maknanya, tenang dan dengan bunyi yang lembut tidak tinggi, maka Insya Yang Mahakuasa hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Yang Mahakuasa sedang berbicara dengan kita.
Menyadari keagungan Allah, segala sesuatu berada dalam kekuasaannya banyak hal disekitar kita yang kita lihat, yang menerangkan keagungannNya kepada kita, segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Yang Mahakuasa maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi dibalik watu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, menyerupai cara berwudlu dengan benar, mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa yaitu mereka yang berilmu.
Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majelis-majelis menyerupai itu.
Selalu menambah perbuatan baik, sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Yang Mahakuasa akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu/terus-menerus.
Merasa takut kepada ajal yang buruk. Mengingat ajal akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
Mengingat fase-fase kehidupan akhirat. Fase saat kita diletakan dalam kubur, fase saat kita diadili, fase saat kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga atau Neraka.
Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil dihadapan Allah.
Cinta kita kepada Yang Mahakuasa SWT harus kita tunjukan dalam aksi. Kita harus berharap biar Yang Mahakuasa berkenan mendapatkan shalat-shalat kita dan senantiasa merasa takut akan melaksanakan kesalahan. Malam hari sebelum tidur seyogyanya kita bermuhasabah memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
Menyadari akhir dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melaksanakan kebaikan dan menurun dengan melaksanakan perbuatan buruk.
Semua yang terjadi yaitu alasannya yaitu Yang Mahakuasa menghendaki hal itu terjadi. Ketika bencana alam menimpa kita itupun dari Allah.
Semoga penjelasan saya diatas ada hikmahnya ada manfaatnya sehingga kita bisa mawas diri jangan hingga lupa diri sehingga menjadikan kita menjadi kufur dan menjadi doktrin kita terkikis oleh nafsu kita yang tidak terkendali, mudah-mudahan Yang Mahakuasa menunjukkan kepada kita semua taufik hidayahnya dan kita bisa mengamalkan dan mengingatnya uraian diatas.

Amin amin yarobballalamin..!!!

Persaudaraan Dalam Islam



“Dan berpeganglah kau semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kau bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Tuhan kepadamu dikala kau dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Tuhan mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kau alasannya nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kau telah berada di tepi jurang neraka, lalu Tuhan menyelamatkan kau dari padanya. Demikianlah Tuhan pertanda ayat-ayat-Nya kepadamu, semoga kau mendapat petunjuk.” 
(Ali ‘Imran: 103)
“Dan hendaklah ada di antara kau segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)
“Kamu yaitu umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka yaitu orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 110)
Menurut Islam dalam kehidupan ini, terdapat dua jenis korelasi yaitu korelasi antara insan dan khalik atau penciptanya, dan korelasi antar sesama insan ciptaan Allah. Kedua korelasi ini saling tali temali dimana korelasi yang pertama selalu menjadi landasan korelasi yang kedua yang menentukan nilai derajat korelasi itu disisi Allah. Firman Tuhan di atas tadi, menggambarkan menyatunya kedua jenis korelasi tersebut. Hubungan antara sesama insan dan sesama umat muslim haruslah dilandasi oleh anutan Allah. Karena dengan berpegang teguh kepada anutan Tuhan ini, insan khususnya umat muslim tidak akan tersesat. Rasulullah memberikan hal ini dalam khutbah wada’berikut ini:
Aku tinggalkan kepada kau semua, dua hal yang apabila kau berpegang teguh kepada dua hal ini, kau tidak akan tersesat selama-lamanya : Kitab Tuhan dan Sunah Rasulullah.(Al Hadist)
Marilah kita cermati bersama korelasi antar sesama manusia. Hubungan antar sesama insan ini disebut ukhuwwah basyariah atau persaudaraan sesama manusia. Persaudaraan sesama muslim di sebut ukhuwah Islamiah. Persaudaraan inilah yang mengikat sesama muslim untuk bersatu padu dengan kokoh. Kesatu paduan ini dilandasi oleh anutan Tuhan termasuk cinta dan kasih sayang. Untuk apakah persaudaraan itu dibangun dalam kehidupan bermasyarakat? Tujuan utama yaitu untuk saling berafiliasi dan saling tolong menolong untuk berbuat kebajikan dan kebenaran dan bukan untuk bermusuhan atau melaksanakan perbuatan mungkar. Dengan berafiliasi dan saling tolong menolong inilah masyarakat yang penuh dengan kebajikan, kejujuran, kemakmuran dan kedamaian dapat terwujud. Namun dalam perjalanannya banyak tantangan, kesulitan yang harus diatasi dan alasannya itu umat muslim dalam perjalanan hidupnya harus selalu dinamis, selalu melihat kepada umat muslim yang menjadi saudara seagama. Apabila diantara mereka menghadapi kesulitan maka saudara datang membantu. Dalam upaya mewujudkan persaudaraan inilah setiap muslim tidak pernah statis, tidak pernah tidak berbuat atau hanya melihat dan menonton, tapi berbuat dan melaksanakan sesuatu. Dalam Islam hakikat hidup itu yaitu perjuangan alasannya itu setiap muslim haruslah menjadi pejuang untuk mewujudkan kehidupan yang penuh dengan ridho Allah. Karena itu pula setiap muslim harus menjaga ketentraman, kedamaian dan keadilan, dan dilarang untuk menebar kerusakan, kesengsaraan dan kemungkaran di muka bumi ini.
Persaudaraan atau ukhuwah atau brotherhood dalam islam bukan hanya dititik beratkan kepada keterikatan atau kesatupaduan, tapi lebih dari itu. Ukhuwah atau persaudaraan atau brotherhood yaitu kesadaran atas kesamaan dan kebersamaan untuk mewujudkan rahmat Tuhan bagi seluruh alam ini. Persaudaraan mengandung makna sebagai instrument perjuangan yang mulia dan sebagai taktik yang bersifat universal untuk menciptakan kemakmuran, keadilan dan kedamaian bagi insan di alam semesta ini. Karena itu pula mengapa dalam Islam umat haruslah menjadi penguasa (khalifah) di muka bumi ini, tanpa menjadi khalifah filardh, tujuan yang amat mulia ini mustahil dapat diwujudkan.
Saya ingin mencermati makna yang terkandung dalam konsep persaudaraan dalam islam ini lebih jauh. Apa yang telah diuraikan mencerminkan banyak sekali unsur yang merupakan kandungan dari makna persaudaraan. Apakah makna persaudaraan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara pada periode 21 ini? Apakah values dari anutan persaudaraan ini mengandung arti yang memiliki kegunaan dalam kehidupan pada periode 21 ini?
Persaudaraan yaitu ikatan psikologis, ikatan spiritual, ikatan kemanusiaan yang tumbuh dan berkembang amat dalam di dalam hati nurani setiap orang, melekat dan terintegrasi menjadi satu kesatuan dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Ikatan persaudaraan ini muncul alasannya kesamaan iman, kesamaan contoh fikir, kesamaan mind set, kesamaan aspirasi, kesamaan kebutuhan, dan kesamaan harapan dan harapan dalam hidup bermasyarakat. Persaudaraan dengan demikian yaitu force yang menilai eksistensi masyarakat sebagai sistem sosial, eksistensi Negara, eksistensi bangsa, eksistensi organisasi apapun. Persaudaraan ini kental dengan values yang menjadi dasar dinamika kehidupan seseorang, kelompok, dan masyarakat.
Ciri-ciri kehidupan bermasyarakat dan pada periode 21 ini adalah: kehidupan tanpa batas, saling pengaruh mensugesti secara global. Batas antar negara, batas geografis, batas kewarganegaraan, batas sosial kultural, sudah tidak berarti lagi dalam kehidupan praktis keseharian. Kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi telah memecahkan semua keterbatasan yang selama berabad-abad menjadi hambatan dan permasalahan manusia. Tranparansi, kebebasan yang acapkali tanpa kendali, menjadi icon kehidupan. Kebebasan pasar, persaingan bebas, kebendaan, mendominasi segala kegiatan dalam kehidupan. Kehidupan penuh dengan pragmatisme dan matrialisme. Kebendaan, kemewahan dan kebutuhan yang bersifat matrialistik amat mendominasi kehidupan keseharian tersebut. Nilai-nilai moral, nilai kemanusiaan masih menjadi sebutan, walaupun dipergunakan untuk menarik simpati dan perhatian belaka. Fenomena kehidupan menyerupai inilah ciri masyarakat pada periode 21 ini. Kehidupan menyerupai ini merupakan kontribusi dari dinamika perubahan sosial termasuk proses globalisasi yang tak terkendali. Manusia hilang sifat kemanusiaannya. Hubungan antar orang, antar kelompok, antar bangsa, antar negara, banyak dipengaruhi oleh fenomena global ini, alasannya itu pertentangan, peperangan, tindak kekerasan, perseteruan, korupsi meraja lela. Kesengsaraan tersebar luas dimana-mana.
Umat muslim tersebar luas di muka bumi ini. Mereka tersebar di banyak sekali negara, di Asia, Afrika, Amerika, Canada, Eropa, Inggris, dan banyak sekali negara lainnya. Dimanapun mereka, siapapun mereka, begitu kita mendengar bahwa di antara mereka ditimpa bencana alam atau bencana, atau tindak kekerasan yang bertentangan dengan hukum, maka rasa persaudaraan kitapun bangun dan terinspirasi, terdorong untuk berupaya dan berbuat sesuatu dengan banyak sekali cara guna membantu mereka semoga keluar dari bencana alam atau bencana yang menimpa mereka. Persaudaraan mengandung makna kesadaran, rasa tanggung jawab, kepedulian atau solidaritas untuk membantu, atas dasar kesamaan kepercayaan dan taqwa, kesamaan dan kebersamaan sebagai manusia, makhluk cipataan Tuhan yang paling mulia dan sempurna, rasa empati dan kasih sayang yang mendalam yang tumbuh menjadi satu keperibadian muslim yang utuh. Fikiran dan daya dihimpun dan dimobilisir dalam satu upaya bersama untuk melaksanakan sesuatu yang dapat mengeluakan mereka dari bencana alam dan bencana tersebut. Inilah esensi makna praktis dari values yang terkandung dalam persaudaraan itu.
Persaudaraan dalam Islam ternyata tidak exclusive tapi inclusive. Karena itu persaudaraan bersifat universal tanpa mengenal perbedaan, tanpa mengenal daerah dan waktu.

Demikian artikel perihal persaudaraan dalam islam, semoga bermanfaat untuk kita semua, dan semoga menerima rahmat dari allah SWT, amin amin aminyarobballalamin...!!!

PEMAKAIAN LOCENG KAKI DILARANG



SETIAP Muslim dan Muslimah hendaklah menjaga tata cara pergaulan dan pemakaian apabila berhubung dengan bukan mahram menyerupai di daerah kerja.
Paling utama dalam hal pemakaian kerana cara berpakaian dapat menarik perhatian orang lain yang bukan mahram. Memakai gelang kaki bagi wanita Islam dengan suara loceng itu terlalu besar lengan berkuasa sehingga menarik perhatian rakan sekerja yang lain untuk berpaling melihat ke arahnya dikira bercanggah dengan tata cara pemakaian dan pergaulan seorang wanita Muslimah dan Mukminah.
Itu sebabnya dia dihukum haram apabila bertujuan sedemikian dan pemakaian hiasan sedemikian perlu dielakkan. Ini terang apabila al-Quran menggariskan berkenaan tatacara bergaul dan berpakaian seorang wanita Islam iaitu: “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman itu biar menyekat pandangan mereka (daripada yang diharamkan) dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka menzahirkan pemanis badan mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup kepingan leher bajunya dengan tudung kepala mereka dan janganlah mereka menunjukkan pemanis badan mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka, atau bapa mentua mereka, atau belum dewasa mereka, atau belum dewasa tiri mereka, atau saudara-saudara mereka atau anak bagi saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang lelaki yang telah renta dan tidak impian kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi perihal aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang yang belum mengerti lagi perihal aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari pemanis mereka; dan bertaubatlah kau sekalian kepada Allah, wahai orang yang beriman, biar kau berjaya.”
(Surah al-Nur (24): 31)
Dalam ayat ini, kita boleh simpulkan termasuk dalam ‘menghentak kaki’ ialah memakai gelang berloceng dan memakai kasut bertumit keras sehingga mengeluarkan bunyi.
Islam melarang perbuatan itu kerana dia menarik perhatian orang sehingga terserlah pemanis diri seseorang wanita. Manakala memakai gelang kaki berloceng bagi belum dewasa perempuan yang masih kecil dan bertujuan untuk pengawasan pula ialah harus.
Ia tidak termasuk dalam larangan di atas kerana tidak bertujuan menarik perhatian lelaki dan usianya masih kecil.
                   Semoga bermanfaaat untuk yang membacanya..amin..


Kewajiban seorang istri

Assallamu allaikum wr wb.
Kita sebagai seorang suami yaitu pemimpin bagi istri kita dan wajib mendidik istri dan belum dewasa kita selain itu kita harus memberi nafkah kepada mereka dari yang halal baik nafkah lahir atau batin, sedikit saya akan memaparkan perihal kewajiban seorang istri.
Tuhan SWT berfirman dalam surat annisa ayat 34 :
yang artinya :” kaum laki-laki itu yaitu pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Tuhan telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka, karena itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Tuhan lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada, oleh karena Tuhan telah memelihara mereka.
Wanita-wanita yang kau khawatirkan nusyuz-nya(Nusyuz meninggalkan kewajiban bersuami istri. Nusyuz dari pihak istri menyerupai meninggalkan rumah tanpa izin suaminya), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka, dan pukulah mereka. Kemudian kalau mereka mentaatimu, janganlah kau mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Tuhan maha tinggi lagi maha besar.

Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa sa’ad bin rabi al-ansari memukul istrinya (Putri Muhammad bin maslamah) ia mengadu kepada Rosulluloh saw, dan pengaduannya diterima kemudian turunlah jibril dengan membawa wahyu berikut :
“Kaum pria yaitu bertanggung jawab atas kaum wanita (dengan artian pria/suami berhak mengatur urusan kaum wanita/istri dan mendidik mereka)”
jadi kita sebagai seorang suami sudah tentu mempunyai kewajiban dalam segala hal didalam rumah tangga, mendidik mereka, mendidik agamany, yang didalamnya yaitu yang utama ibadah dan kewajiban istri tersebut kepada suaminya dan seorang istri haruslah memenuhi perintah suaminya selama perintah itu tidak melanggar hukum agama dan bersifat merugikan dirinya.
Dari : Abu Hurairah. Ra, Nabi Saw Bersabda :
“Seorang istri yang terbaik yaitu yang menggembirakan hatimu saat dipandang, setia kepadamu, kalau disuruh segera melaksanakan perintahmu, dan berakal memelihara kehormatan dirinya, berakal menjaga hartamu saat engkau pergi kemudian ia saw, membaca al-qur’an surat annisa 34”
Dan dalam hadist lain dikatakan dari Abdullah bin mas’ud, Nabi Saw bersabda : “Ketika seorang istri mencuci pakaian suaminya maka Tuhan menentukan 1000 kebaikan untuknya, mengampuni 2000 kesalahannya dan dimohonkan ampun oleh semua mahluk yang disinari matahari serta ditingkatkan derajatnya 1000 tingkat (H.R. Abu Mansur dalam Misnad Firdaus)”
Kaprikornus kita seorang istri tidak ada alasan kepada perintah suami karena hal itu sudah kewajiban istri da ditambah lagi pahala yang begitu besar kepada istri sebagai jawaban berbakti kepada suami, dan dalam hadis tadi terang begitu besar pahala yang dijanjikan, tetapi sebalikny apabila kita seorang istri tidak patuh apalagi sering menyakiti hati suami, ataupun sering sekali dia menolak atau melontarkan kata-kata yang jelek sekaligus menjadi suami duka hatinya dalam hadis dikatakan bahwa, Rosululloh saw, bersabda : “Seorang istri yang hirau dan bermuram durja dihadapan suaminya, sehingga menjadikan suaminya bersedih hati maka dimarahi Allah, kecuali kalau segera mengeluarkan senyum simpul yang melegakan hati suaminya.
Dikatakan dalam hadist lain bahwa Rosulluloh saw bersabda : “Seorang istri yang memaksa suaminya menjadi duka akhir urusan nafkah atau membebaninya diluar kemampuan suami maka Tuhan tidak mendapatkan kesetiaan dan keadilannya”
Kaprikornus jelaslah bahwa didalam hadist dijelaskan semuanya dan apabila diantara kita suami masih leha-leha janganlah kita betife bulus, bergegaslah dari sekarang tidak ada kata terlambat untuk kita mendidik istri dan belum dewasa kita karena itu sudah tanggung jawab kita.
Ingat seorang istri yang sudah dididik tetapi masih juga keras kepala maka Tuhan akan murka padanya, diriwayatkan dalam hadist nabi saw bersabda :”pada malam isra mi’raj rosul saw melihat wanita yang tengah menjalani siksa berat kemudian fatimah bertanya, “siapakah mereka itu ya rosul?” kemudian rosul menjawab “aku telah melihat wanita digantung diri rambutnya dan otaknya mendidih, wanita digantung lidahnya kedua tangannya lepas dari punggungnya, dan air zakum digelogokan lewat mulutnya, wanita digantung buah dadanya dari balik punggungnya dan air zakum digelogokan lewat verbal (tenggorokannya), wanita digantung kedua kaki dan tangannya hingga ubun-ubun kepalanya ular dan kala menggelutinya dan wanita tengah menyantap dagingnya sendiri dibawah kobaran api yang menyala-nyala dan wanita yang tengah asik menggunting daging tubuhnya sendiri dengan gunting api neraka, dan wanita yang berparas buruk tengah menyantap ususnya sendiri, dan wanita yang buta pekak bisu dalam peti api neraka darah mengalir dari rongga-rongga tubuhnya yang diserang penyakit kusta dan lepra juga wanita berkepala babi/rusa bertubuh keledai tengah menjalani sejuta macam siksa, dan wanita persis anjing, alat vital dan mulutnya dilintasi ular-ular dan kala yang keluar lewat jalan belakang/duburnya, para malaikat menjatauhkan pukulan palu besar dari neraka.
Selanjutnya Rosul saw bersabda :tk
“seorang istri yang ucapannya menyakitkan suaminya maka kelak dihari simpulan zaman mulutnya disobek lebar-lebar , kira-kira 70 dzira-k lalu diikatkan kebalik lehernya”
Itulah siksa yang diderita oleh seorang istri yang suka membiarkan menghias rambutnya supaya dilihat orang lain/tidak menutupi rambutnya tidak berkerudung n atau berjilbab dan istri yang suka manaengucapkan kepada suaminya dengan kata-kata kotor yang menyakitkan suami.
Adaplaiun wanita yang digantung buah dadanya yaitu akhir menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya, dan waniita yang diikat kakinya akhir keluar rumah tanpa seizin suaminya, sehabis datang bulan sudah suci tidak mandi zunub atau sesudah melahirkan anak, sedangkan wanita yang menyantap daging tubuhnya sendiri adalah, akhir suka menonjolkan diri dihadapan umum untuk menarik simpati mereka, dan wanita yang diikat kedua kakinya dan tangannya yaitu akhir mengabaikan shalat 5 waktu dan tidak mandi jinabat, dan wanita yang berkepala babi/rusa yaitu akhir suka mengadu domba dan berdusta, dan wanita yang persis anjing yaitu akhir suka memfitnah dan memarahi suaminya.
Wallohu alam bi’murodih Naudzu billahi mindzalik
Tidak ada kata terlambat bagi kita seorang suami untuk terus menasehati, mendidik, membimbing istri kita dari azab Tuhan ta’ala, dan seorang istripun tidak ada kata terlambat untuk mulai merobah sifat, sikap dan adat tingkah dan laku kepada suami, kalaupun berat untk melakukannya ingatlah azab yang pedih dari Allah, dan ingatlah hidup kita ini selalu dikuntit, diintai oleh malaikat maut, maka kita sebagai seorang suami jangan leha-uleha karena semuanya akan dimintai pertanggung jawabannnya.
Lembutkanlah hati kita jangan hingga keras tidak bisa dinasehati karena sebenarnya seorang muslim yang soleh solehah hatinya lembut mudah diarahkan mudah dijinakan.
Demikian artikel perihal kewajiban seorang istri , semoga bermanfaat dan semoga kita selalu dalam rahmat allah...amin amin yarobballalamin..
Wassallamu allaikum wr wb.


Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)

Di dalam kitab ia Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram)
dan Tasu’a (9 Muharram)




Hadits yang Pertama:

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Hadits yang Kedua:

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ihwal puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
Hadits yang Ketiga :

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku hingga tahun depan, maka saya akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ihwal puasa pada hari ‘Asyura, ia menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini alasannya yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku hingga tahun depan, maka saya akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.
Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura (1) dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi alasannya yakni hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- yakni hari di mana Tuhan selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Tuhan atas nikmat yang agung tersebut. Tuhan telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.
Oleh alasannya yakni itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, ia melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura (3). Beliau pun bertanya kepada mereka ihwal hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini yakni hari di mana Tuhan telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama ia yakni orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu.
 Allah SWT  berfirman:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim yakni orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yakni orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka ia shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan insan untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. (3)
Oleh alasannya yakni itu sebagian ulama ibarat Ibnul Qayyim dan yang selain ia menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:
1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.
2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya dari pada yang pertama. (4)
3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya alasannya yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan
(tidak menganggapnya makhruh). (5)
Wallahu a’lam bish shawab.

 Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya
 (11 Asyura’) yakni dha’if (lemah).
Hadits tersebut berbunyi:

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما .
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.
(HR. Ahmad dan Al Baihaqy.)

Padanya terdapat dalil yang menyampaikan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d
Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam :

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Ini yakni pendapat yang lemah, alasannya yakni bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia yakni jelek hafalannya.”
Wallaahu a’lam.

Demikian artikel ihwal keutamaan puasa asyura, agar kita dapat menjalankannya dan di ridhoi allah swt amin amin aminyarobballalamin... 

KEUTAMAAN MEMBACA TASBIH (SUBHANALLAH WABIHAMDIH)

barangsiapa membaca Subhaanallaahi wabihamdihi 100 kali setiap hari,maka dosanya di ampuni walaupun sebanyak buih di laut.
 Keutamaan membaca tasbih 100 kali setiap hari sebagaimana disebutkan dlm pertanyaan diatas. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih berikut ini:
1.     Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
2.     مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan:
SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Yang Mahakuasa dan dengan segala kebanggaan hanya untuk-Nya) sehari 100 (seratus) kali, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691).
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
Artinya: “Barang siapa yang dikala pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI
WABIHAMDIH (Maha suci Yang Mahakuasa dan dengan segala kebanggaan hanya untuk-Nya)
sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari simpulan zaman tidak ada seorangpun yang
akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan menyerupai itu atau
lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 2692).

 Yang patut kita ketahui, bahwa keutamaan membaca tasbih tersebut hanya
diperoleh bagi setiap muslim dan muslimah yang meninggal dunia dalam
keadaan mentauhidkan Allah. Yakni hanya beribadah kpd Yang Mahakuasa dan tidak pernah berbuat syirik dan kufur kepada-Nya sedikit pun semasa hidupnya di dunia. Dan kalaupun ia pernah berbuat syirik n kufur kpd Allah, hanya saja ia telah bertaubat darinya dengan taubat nasuha sebelum ia meninggal dunia.
 Para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa yang dihapus n diampuni oleh Yang Mahakuasa dengan alasannya ialah bacaan tasbih maupun amal sholih lainnya hanyalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidaklah dihapus n diampuni oleh Yang Mahakuasa dengan kecuali dengan taubat nasuha.
Demikian artikel perihal keutamaan membaca tasbih, biar kita dapat mengamalkan nya dalam kehidupan sehari-hari, dan diterima oleh allah SWT amin amin ya robballamin...

Silahkan dicoba!!!!

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget