Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post

Tragedi Buah Apel

Tragedi buah apel telah mengubah seorang Tsabit menjadi orang yang penuh dengan kebahagiaan


Tsabit… suatu ketika berjalan-jalan di sebuah kebun yang indah, tiba-tiba ia melihat buah apel lantas ia ambil lalu dimakannya. Setelah itu ia tersadar belum minta izin pada pemiliknya. Dengan perasaan gelisah akibatnya ia menemui pemilik kebun itu. Singkat cerita, pemilik kebun tersebut mengikhlaskan apel tersebut dengan syarat Tsabit harus menikahi putrinya yang buta, bisu, tuli dan lumpuh. Ia sangat terguncang dengan pilihan pemilik kebun itu. Setelah ditimbang-timbang antara azab dunia dan akhirat, akibatnya ia pun oke dengan persyaratan itu.
Setelah kesepakatan nikah… Allahu Akbar, ia nyaris tak percaya, ternyata istrinya yakni seorang wanita yang sangat cantik, berakal dan penuh ketaqwaan. Dia buta dari melihat hal-hal yang haram, bisu dan tuli dari berbicara dan mendengarkan hal-hal yang dimurkai Yang Mahakuasa ‘Azza wa Jalla serta tak pernah melangkahkan kakinya pada jalan yang haram.
Tragedi buah apel telah mengubah seorang Tsabit menjadi orang yang penuh dengan kebahagiaan. Dari pernikahannya lahirlah Nu’man bin Tsabit atau yang dekat disebut Al-Imam Abu Hanifah. Dialah imam besar yang telah mengukir dunia dengan ilmu dan amal shalih.
Buah Kebaikan
Hidup kadang unik dan sulit ditebak bagaimana akhirnya. Tetapi satu hal yang harus dipahami, ketika kita berbuat kebaikan, Yang Mahakuasa pasti akan membalasnya. Itu pasti ketika kebaikan itu benar-benar dari lubuk hati yang dilandasi tulus hanya mengharap keridhaan-Nya semata. Bisa jadi jawaban itu dari orang lain yang sama sekali tak terduga. Mungkin di dunia atau bisa pula di akhirat. Yang Mahakuasa berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada jawaban kebaikan, kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60).
Dalam Q. S. Al-Muzzamil ayat ke- 20 Yang Mahakuasa berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan itu apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian, niscaya kalian memperoleh (balasan) nya di sisi Yang Mahakuasa sebagai jawaban yang paling baik“.
Begitu juga dengan keburukan yang kita tanam akan menghasilkan jawaban atau azab di sisi Yang Mahakuasa ‘Azza wa Jalla. Tinggal insan bagaimana memposisikan dirinya apakah berbuat kebajikan atau kejelekan.
Energi Terdahsyat Bernama Iman
Iman yang tertanam besar lengan berkuasa dalam hati yakni energi terdahsyat seorang mukmin untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Dengan motivasi kepercayaan yang benar tanpa keraguan terhadap perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, niscaya seorang mukmin akan selamat dan bisa hidup selaras dengan Islam. Segala perkataan dan perbuatan ketika disematkan ruh kepercayaan maka hasilnya akan luar biasa dan berpahala. Itulah kedahsyatan kepercayaan yang bisa membuat segala acara bernilai ibadah. Karena definisi kepercayaan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah suatu perkataan dan perbuatan, perkataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan amal anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Imanlah yang bisa memasukkan seorang hamba ke dalam surga-Nya, sedangkan tauhid yakni intisari dari Islam. Ketika tauhidnya kokoh ia akan selalu menghindari perbuatan dosa dan maksiat. Dan banyak sekali penyimpangan akan dialami insan manakala ia kehilangan iman. Seseorang menganggap biasa saja bergaul bebas dengan alasan ia sobat baik padahal bisa jadi hal-hal yang menurut logika dan perasaan kita baik-baik saja dapat berkibat fatal. Sebuah informasi mengenaskan dilansir harian ibukota. “…Tiba-tiba lelaki yang terkenal baik bermetamorfosis buas, ia pun tak berdaya untuk melawan dan akibatnya kesuciannya terenggut……!”. Na’udzubillahi min dzaalik, sungguh hati wanita malang itu hancur lebur nyaris tanpa bentuk. Ketika ia merasa aman dan nyaman dengan kebaikan orang lain tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’ah.
Empedu Dunia Madunya Akhirat
Ketika Nabi Adam dan Hawa digoda iblis laknatullah ‘alaih, untuk mendekati pohon larangan lalu keduanya pun terjerumus pada larangan Yang Mahakuasa ‘Azza wa Jalla. Akibatnya aurat keduanya terbuka. Namun dengan bertaubat, akibatnya Yang Mahakuasa Ta’ala mengampuni keduanya.
Untuk dapat mencicipi manisnya madu darul abadi insan kadang harus menelan pahitnya empedu dunia. Selaras dengan hadits yang mengatakan bahwa darul abadi itu lebih baik meski harus ditebus dengan melawan hawa nafsu yang cenderung pada kejelekan.
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci, sementara neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang disukai hawa nafsu” (H.R. Muslim ).
Dalam menapaki jalan hidup, insan yang memiliki mata hati yang tajam akan bisa membedakan antara bisikan nafsu yang mayoritas pada kesenangan sesaat dengan petunjuk Allah Ta’ala yang membawa kebaikan dan kebahagiaan hakiki. Dan mukmin yang bijak yakni ketika terbersit bisikan nafsu yang membawa kepada kesesatan, maka ia segera meninggalkannya.
Disinilah, ketika kepercayaan telah memenuhi hati dan menjadi raja niscaya ia akan punya remote kontrol untuk segera meninggalkan bisikan tersebut.
Dibalik semua larangan-larangan-Nya, terdapat samudra pesan yang tersirat yang kadang tak disadari manusia. Sebaik-baik insan yakni orang yang selalu takut berbuat dosa alasannya yakni dosa menyerupai gunung besar di belakang punggungnya, yang siap menghancurkan tubuhnya. Ketika ia telah berbuat maksiat maka segera ia menyesal dan berupaya untuk tidak mengulanginya seraya bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Zaman terus berputar, namun sesuatu yang telah dilarang dan ditetapkan Yang Mahakuasa tak pernah usang, alasannya yakni ia menyerupai mata air kehidupan, selalu diperlukan insan dimanapun dan hingga kapanpun. Dalam rengkuhan Islam semua yang dilakukannya takkan pernah sia-sia.
Subhanallah....



Tiga Keanehan yang Terjadi di Muka Bumi
Bumi menjadi daerah tinggal bagi insan selama hidup di dunia. Di sinilah Yang Mahakuasa SWT menurunkan banyak rezeki dan karunia-Nya kepada kita supaya mampu bertahan. Ketika itulah kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Di bumi ini, ada begitu banyak hal yang mampu terjadi. Bisa terjadi hal yang baik bahkan juga hal buruk yang merenggut nyawa penghuninya. Bahkan saat selesai zaman datang, bumi akan luluhlantak tak berbentuk.

Bumi menjadi ciptaan Yang Mahakuasa yang dipenuhi dengan misteri. Bahkan ada beberapa fenomena asing yang pernah terjadi dan sulit dijelaskan secara ilmiah. Akan tetapi semua penjelasannya tersebut terdapat di dalam Al-Qur’an. Kejadian asing apa sajakah yang dimaksud? Berikut informasi selengkapnya.

1. Adanya Air Tawar dan Air Laut yang Tidak Bercampur
Keanehan pertama yang terjadi di bumi yaitu adanya air tawar dan air laut yang tidak saling bercampur. Ialah Jaques Yeves, seorang peneliti yang berasal dari Prancis ia berhasil menemukan pertemuan antara dua laut. Satu laut tawar (Laut Mediterania) dan yang satu lagi asin (Laut Atlantik). Akan tetapi, yang menjadi asing yaitu kedua laut tersebut tidak tercampur sama sekali.

Keheranan tersebut melanda dirinya, akan tetapi alhasil peneliti tersebut diberitahu oleh seorang muslim sebetulnya fenomena dua air yang tidak bercampur tersebut sudah terdapat di dalam Al-Qur’an semenjak 1400 tahun silam. Yang Mahakuasa Ta’ala berfirman:

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan), yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53).

Dalam ayat lainnya, Yang Mahakuasa SWT juga telah berfirman: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20).

Setelah mengetahui kenyataan tersebut, alhasil Jaques Yeves memeluk agama Islam dan mempercayai kebenaran Al-Qur’an.

2. Diselamatkannya Jasad Fir’aun
Berbeda dengan fenomena yang pertama, abnormalitas selanjutnya yang pernah terjadi di muka bumi ini yaitu diselamatkannya jasad Fir’aun. Ialah peneliti dari Prancis berjulukan Prof Dr Maurice Bucaille yang diamanahi oleh pemerintah Mesir untuk meneliti mumi atau jasad dari Fir’aun.

Ia tercengang sebab melihat sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh mumi Fir’aun. Hal ini menjadi bukti terbesar bahwa ia mati sebab tenggelam. Jasadnya juga dibalsem supaya awet, akan tetapi ia merasa heran dan mempertanyakan bagaimana jasad tersebut mampu terjaga dan lebih baik dari pengawetan jasad-jasad yang lain (tenggorak bala tentara Fir’aun) padahal mereka sama-sama dikeluarkan dari laut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada seorang ilmuwan muslim yang menjelaskan bahwa jasad Fir’aun yang tidak beriman kepada Nabi Musa tersebut sambil membuka Al-Qur’an dan membacakannya kepada ilmuwan Prancis tersebut. Yang Mahakuasa Ta’ala berfirman:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari insan lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”(QS. Yunus: 92).

Setelah mendengarkan ayat yang menyentuh hati tersebut, alhasil Bucaille mempercayai kebenaran Al-Qur’an dan memeluk agama Islam.

3. Surutnya Air di Sungai Eufrat Secara Terus Menerus
Keanehan terakhir yang pernah terjadi di muka bumi yaitu surutnya air di sungai Eurfrat secara terus menerus termasuk sungai tigris di Irah. Fenomena ini menjadi sorotan bagi ilmuwan Badan Antariksa “NASA” sebab belum diketahui penyebabnya.

Kejadian ini terjadi semenjak 2003 silam, air dari sungai tersebut terus menyusut dan berkurang. Tentu saja hal ini menjadi petaka bagi masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai tersebut. Banyak yang bertanya mengapa kejadian ini mampu terjadi. Hanya ada satu-satunya tanggapan untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Yakni sabda dari Rasulullah SAW, Beliau bersabda:

“Kiamat tidak akan terjadi sehingga sungai Euphrat surut menyibakkan gunung emas, di atasnya orang-orang berperang, sehingga dari setiap seratus orang akan terbunuh sembilan puluh sembilan. Setiap orang dari mereka mengatakan, “Mudah-mudahan, akulah orang yang selamat itu.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Hampir tiba masanya, sungai Euphrat surut menyingkapkan pembendaharaan emas. Siapa yang menghadirinya, janganlah mengambilnya sedikitpun.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Demikianlah informasi mengenai tiga abnormalitas yang terjadi di muka bumi. Pada dasarnya masih banyak abnormalitas lainnya yang terjadi atas kehendak Yang Mahakuasa SWT. Semua itu untuk menyampaikan kepada insan bahwa Yang Mahakuasa SWT memiliki kekuasaan atas segala sesuatu yang terjadi di semesta ini.


Wallahua’lam...

Bolehkah Memakai Pakaian Muslimah Yang Berwarna-Warni
Apakah boleh (bagi Muslimah) menggunakan jilbab yang berwarna-warni? Bagaimana batasan baju Muslimah yang termasuk sebagai perhiasan?

Apakah boleh (bagi Muslimah) menggunakan jilbab yang berwarna-warni? Yang saya maksudkan bukan hanya jahitannya, namun bila memang jilbab tersebut memiliki banyak warna apakah termasuk dalam embel-embel yang dilarang? Dan bila ya, apakah embel-embel yang dilarang pada jilbab tersebut hanya warnanya saja? Semoga Tuhan memberi anda tanggapan kebaikan.
Jawab:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد
Telah kami jelaskan pada aliran no. 22814 dan aliran no. 28482 dan yang semisalnya bahwa tidak disyaratkan bagi wanita untuk menggunakan pakaian dengan warna tertentu, sebagaimana juga tidak disyaratkan pakaian yang pakai hanya memiliki satu warna. Namun termasuk syarat pakaian muslimah yang syar’i yaitu tidak mu’tsir (tampak menarik di pandangan laki-laki) dan tidak menjadi alasannya yaitu timbulnya fitnah (godaan; kerusakan).
Maka embel-embel yang disyaratkan untuk dihindari dari busana Muslimah yaitu setiap yang mu’tsir, dan memancing pandangan kaum lelaki, serta menjadi alasannya yaitu timbulnya fitnah.
Adapun sekedar memiliki banyak warna, secara umum bukanlah termasuk perhiasan. Namun terkadang memang menjadi embel-embel bila dia mu’tsir dan menjadi alasannya yaitu timbulnya fitnah. Dan bukan embel-embel bila tidak demikian. Maka patokannya yaitu apakah pakaian tersebut mu’tsir dan apakah dia menjadikan fitnah.
Untuk penjelasan lebih lanjut ihwal batasan embel-embel yang terlarang dalam berpakaian bagi wanita, silakan merujuk pada aliran no. 163581.
Wallahu a’lam.
Soal:
Kita ketahui bersama bahwa syarat jilbab syar’i adalah bukan untuk berhias. Saya ingin bertanya mengenai makna berhias tersebut. Apakah jilbab yang memiliki sedikit hiasan masuk dalam kategori tersebut? Dan apa patokannya sehingga saya mampu memahami suatu jilbab itu untuk berhias atau bukan? Bolehkan jika saya menganggap bahwa ada rincian dalam hal ini, karena terkadang ada jilbab yang sebagiannya berwarna gelap dan sebagiannya berwarna-warni? Jazaakumullah khayran.
Jawab:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد
Yang dimaksudkan bahwa busana itu tidak menjadi embel-embel yaitu dia tidak menarik pandangan lelaki. Karena bila busaan Muslimah itu untuk berhias sehingga lelaki tertarik melihatnya maka ini bertentangan dengan tujuan syariat yaitu menyembunyikan embel-embel wanita. Dalam kitab ‘Audaul Hijab disebutkan:
الشرط الثاني: أن لا يكون زينة في نفسه، ومن أدلة ذلك قوله تعالى: وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ { النور: 31} لأنه بعمومه يشمل الثياب الظاهرة إذا كانت مزينة تلفت أنظار الرجال إليها
“syarat yang kedua: busana Muslimah tidak untuk berhias. Diantara dalilnya yaitu firman Tuhan Ta’ala: “dan janganlah menampakkan embel-embel mereka” (QS. An Nur: 31). Karena ayat ini umum mencakup pakaian yang nampak, bila dia berfungsi sebagai hiasan, sehingga menarik pandangan para lelaki kepada sang wanita”.
Adapun semata-mata adanya perbedaan warna pada bagian-bagian jilbab, maka ini tidak terlarang, selama hal itu tidak menarik pandangan lelaki. Lihat aliran no. 47378.
Dan ketahuilah bahwa wanita Muslimah diperintahkan untuk menjauhi segala hal yang dapat menjadikan fitnah dan menarik pandangan lelaki ajnabi (yang bukan mahram) kepadanya. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang wanita memakai wewangian bila mereka pergi ke masjid. Padahal masjid yaitu daerah dimana Tuhan perintahkan hambanya untuk berhias bila ingin ke sana. Namun Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
وليخرجن وهن تَفِلات
“hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafillat (tanpa berhias dan tanpa ber-tabarruj)”.
Ibnu Hajar mengatakan:
ويلحق بالطيب ما في معناه، لأن سبب المنع منه ما فيه من تحريك داعية الشهوة كحسن الملبس والحلي الذي يظهر والزينة الفاخرة
“termasuk di dalamnya semua hal yang semakna dengan wewangian. Karena alasannya yaitu dilarangnya wewangian yaitu karena padanya terdapat faktor pemicu syahwat. Sehingga juga termasuk dalam hal ini: pakaian yang indah, huliy (gelang dan kalung), yang ada padanya fungsi perhiasan yang indah”.
Ibnul Haaj mengatakan:
لِأَنَّ السُّنَّةَ قَدْ وَرَدَتْ أَنَّ الْمَرْأَةَ تَخْرُجُ فِي حَفْشِ ثِيَابِهَا وَهُوَ أَدْنَاهُ وَأَغْلَظُهُ
“diriwayatkan dalam As Sunnah bahwa wanita hendaknya keluar dengan pakaian yang tidak berhias, dan itu yaitu yang paling minimal dan paling maksimal”.
Dan kita ketahui bersama bahwa memang fitrah wanita itu suka untuk menampakkan keindahan-keindahan yang ada pada dirinya dan suka jika orang-orang memandangnya. Namun wajib bagi para wanita mukminah untuk mengedepankan perintah Rabb-nya daripada dorongan jiwanya. Dan hendaknya dia mengetahui bahwa dunia itu yaitu tempatnya insan diuji dan dan dicoba. Dan melawan hawa nafsu demi mengharap ridha Rabb-nya yaitu jalan kebahagiaannya untuk dunia dan akhiratnya.
Wallahu a’lam.

Fatwa Syaikh Ashim Al Qaryuthi
Soal:
Bolehkah wanita Muslimah keluar menggunakan pakaian warna pink?
Jawab:
إذا لم يكن لباس شهرة ويجلب النظر الخاص لها فلا مانع من ذلك ولا اشتراط للون خاص في الحجاب رعاك الله
Jika bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang membuat pemakainya menjadi perhatian orang-orang) dan tidak memancing pandangan lelaki yang khusus tertuju padanya, maka tidak mengapa. Dan tidak disyaratkan suatu warna tertentu untuk hijab Muslimah. Semoga Tuhan menjaga anda...amin
Sekian info yang dapat kami sampaikan..semoga bermanfaat amin..



Apakah Jin Mempunyai Pengaruh terhadap Manusia?
Sesungguhnya ayat dingklik itu bila dibaca oleh insan di suatu malam maka akan selalu ada penjaga dari Yang Mahakuasa terhadap dirinya..


Tidak diragukan lagi bahwa jin mempunyai pengaruh terhadap insan dengan menunjukkan penderitaan yang adakala hingga membunuh. Bisa jadi mereka menyakitinya dengan melempar watu dan mampu jadi mereka menakut-nakuti insan dan sebagainya, sebagaimana yang diterangkan sunah dan dibuktikan oleh kenyataan.
Ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan sebagian sobat untuk pergi ke keluarganya pada salah satu perang –saya kira ini ialah perang Khandaq– dan ada seorang cowok yang gres saja menikah. Ketika dia hingga di rumah, istrinya berada di pintu dan dia tidak menyukai sikap istrinya (yang berada di luar pintu). Selanjutnya istrinya berkata kepadanya: “Masuklah!” Lalu dia masuk, sedangkan seekor ular melingkar di atas daerah tidurnya, sedangkan dia membawa sebuah tombak, maka dia menyerang ular itu dengan tombak tersebut hingga matilah ular itu.
Di dikala itu juga –yaitu dikala matinya ular tersebut– laki-laki itu pun mati, tidak diketahui mana di antara keduanya yang mati terlebih dahulu, ular ataukah laki-laki tersebut. Ketika kabar itu hingga kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu ia melarang membunuh jin yang ada di dalam rumah kecuali Al-Abtar danDzut Tufataian (namanya jin –edt).
Ini ialah dalil (bukti) bahwa jin adakala bertindak aniaya dan menyakiti insan sebagaimana kenyataan menjadi saksi akan hal itu. Berita tersebut telah mutawatir dan tersebar luas, bahwa insan adakala datang ke bangunan renta yang sudah runtuh lalu dilempari dengan watu sedangkan dia tidak melihat seorang pun insan di bangunan runtuh tersebut. Dan adakala dia mendengar suara-suara, adakala mendengar bunyi pohon-pohon berdesis dan semacamnya, yang tidak menyenangkan serta membuat tidak nyaman.
Begitu pula, adakala jin itu masuk ke jasad manusia, baik karena mencintainya atau untuk maksud menyakiti, atau karena sebab-sebab lain. Yang mengisyaratkan hal tersebut ialah firman Allah ‘azza wa jalla:
الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
‘Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan menyerupai berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila.’ (QS. Al-Baqarah: 275)
Dalam hal semacam ini adakala jin berbicara dari dalam diri insan tersebut dan berdialog dengan orang yang membacakan ayat-ayat Al Alquran terhadapnya. Dan barangkali orang yang membacakan itu mengambil kesepakatan terhadapnya biar dia tidak kembali dan sebagainya, hal-hal yang telah tersebar luas di kalangan manusia.
Berpijak dari sini maka pemberian yang mampu menahan kejahatan jin ialah hendaknya insan membaca doa-doa yang diterangkan sunnah yang mampu melindungi dari gangguan mereka, menyerupai ayat kursi.
Sesungguhnya ayat dingklik itu bila dibaca oleh insan di suatu malam maka akan selalu ada penjaga dari Yang Mahakuasa terhadap dirinya, dan tidak ada satu syaithan pun yang akan mendekati dirinya hingga Shubuh. 
Demikian info seputar jin dan manusia...semoga bermanfaat amin...



 Doa Orang Teraniaya Dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an yang penuh nuansa
 dendam dan kebencian, tidak akan lebih baik dari do’a meminta kebaikan yang akan lebih memiliki kegunaan untuk Anda dalam jangka panjang.

Teraniaya atau tidak, tergantung pada perspekstif yang Anda pakai sendiri-sendiri. Sering kita merasa bahwa diri kita ialah pihak yang dirugikan, sementara bersama dengan itu sebetulnya kita juga menyakiti hati orang lain. Karena itulah, yang perlu dimiliki oleh semua insan yang hidup bersama banyak orang, kita harus tahu bagaimana mendapatkan pendapat orang lain dan bisa menempatkan diri. Memang ada hadis dan ayat yang secara tersirat memperlihatkan jika Doa orang teraniaya sebenarnya lebih manjur terkabulkan dibandingkan dengan do’a orang biasa. Namun tentu hal ini tidak bisa menjadi sarana balas dendam antara Anda dan orang lain.
Doa Orang Teraniaya Dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an dapat kita lihat dalam Surat An-Naml Ayat 62.
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
Artinya : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kau (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Tuhan ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kau mengingat-ingat(-Nya).” – (QS.27:62)
Teraniaya Itu Tidak Mudah Teraniaya sebetulnya mengacu pada keadaan pada ketika seseorang benar-benar tidak bisa melaksanakan apapun untuk melindungi dirinya sementara ditekan oleh orang lain. Seorang teraniaya yang tangguh adalah, insan yang tidak merasa dirinya terzalimi meskipun sebetulnya dalam keadaan menyerupai itu.  Orang-orang menyerupai ini hanyalah mereka yang bisa mengendalikan rasa sakit sedemikian rupa, bahkan mengubah perspektif problem yang sedang ia hadapi biar tidak hingga mensugesti keadaan dalam jiwanya.
Jadi, jangan mudah mengatakan bahwa Anda ialah seorang yang sedang teraniaya. Apalagi jikalau hingga Anda menyimpan dendam dengan menyatakan pada orang lain bahwa Anda ialah yang teraniaya, maka ia harus berhati-hati karena Doa orang teraniaya sulit tidak dikabulkan. Bagaimana jikalau percekcokan antara Anda dan ia ternyata menjadikan posisi saling teraniaya? Artinya, kedua belah pihak merasa tersakiti dan tidak tahu jalan keluar apa yang harus dilewati selain saling menyimpan dendam.
Allah SWT telah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 148:
لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم وكان الله سميعا عليما
Artinya : “Allah SWT tidak suka seseorang mengatakan sesuatu yang buruk kepada seseorang dengan terang-terangan melainkan orang yang dizalimi maka ia boleh menceritakan kezaliman tersebut, dan Tuhan SWT itu maha mendengar dan maha mengetahui.” ( 148 : an-Nisa)
Wah, jikalau masalahnya menyerupai ini, maka siapa yang pertama kali bisa membuka kembali korelasi tali komunikasi ialah pemenangnya. Iya, karena selain berhasil melewati emosi, ia juga telah berhasil mengendalikan diri untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakan. Namun memang pada kenyataannya, eksistensi orang semacam ini tidak bisa ditemukan dengan mudah. Bisa jadi diantara seribu insan hanya ada segelintir mereka yang bisa melakukannya. Teraniaya ialah keadaan, dan dengan mengendalikan keadaan itulah Anda bisa melewatinya.
Cara Mengendalikan Keadaan Teraniaya
Bagaimana cara mengendalikan keadaan teraniaya? Apalagi jikalau posisi yang Anda diami ialah pihak di bawah yang kurang memiliki pengaruh dan kuasa. Keadaan terdzalimi bukan hanya bekerjasama dengan posisi Anda di luar atau dalam pandangan orang lain, namun justru lebih berpacu pada keadaan dalam diri Anda sendiri. Bukankah kita sering melihat informasi Muslim Palestina yang tetap bangun meskipun terus menerus dianiaya? Jika tidak bisa memberi derma pada dirinya sendiri, maka bukan bangkit, bisa jadi mereka justru putus asa.
Ya, teraniaya secara kasat mata bukan berarti putus asa. Asalkan masih ada keyakinan, semangat, dan cita-cita yang tertanam besar lengan berkuasa di dalam hati pihak yang terzalimi, maka memang sudah sewajarnya jikalau cepat atau lambat mereka akan tetap bangun dari keterpurukan, lagi dan lagi. Selain itu, harga diri dan hasil yang didapatkan pihak teraniaya setelah berjuang terus menerus akan terasa lebih berarti dibandingkan seorang yang mendapatkan keinginannya dengan mudah. Masihkah Anda merasa sedang teraniaya?
Menolak keadaan teraniaya juga tidak berarti bahwa Anda harus mengabaikannya. Cara termudah untuk membentengi diri memang memasang wajah angkuh, dan menolak keadaan yang terjadi. Namun hati-hati, selain ini bukanlah sikap yang baik, menolak keadaan tidak akan bisa mengubah apapun jikalau Anda tetap diam. Untuk bisa mengatasi rasa teraniaya ialah dengan menolak secara aktif, artinya Anda bisa dan berani menyuarakan ganjalan yang terasa menghimpit dalam hati Anda biar tidak membebani batin.
Jika mendengar Anda menolak menjadi pihak yang tak berdaya, tentu lawan Anda akan merasa kaget dan meragukan kembali apakah ia telah menang menganiaya Anda atau justru tidak berhasil. Tidak ada senjata yang paling ampuh selain memakai kekuatan mental, dan Anda bisa melatihnya sedikit demi sedikit. Jika masih terasa sakit di hati, berdo’alah biar Anda diberikan kesabaran dalam menghadapi problem tersebut hingga selesai. Doa orang terzalimi memang maqbul atau mudah dikabulkan, namun bukankah itu berarti sebaiknya Anda berdoa meminta kebaikan saja.
Hadits dari Ibnu Umar SAW, Rasulullah SAW bersabda:
اتق دعوة المظلوم فإنها تصعد إلى السماء كأنها شرارة
Artinya : “Hendaklah kau waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (Hadis riwayat Hakim – sanad sahih)
Dibandingkan dengan doa orang teraniaya yang penuh nuansa dendam dan kebencian, do’a yang meminta kebaikan menyerupai sifat-sifat terpuji akan lebih memiliki kegunaan untuk Anda dalam jangka panjang. Mengapa Anda berkeras untuk membalas dendam, jikalau Anda bisa memetik kebaikan dari keadaan teraniaya? Jika Anda tetap sabar, namun tegas melaksanakan perlawanan, maka cepat atau lambat usaha tersebut pasti akan membuahkan hasil. Prinsipnya, tidak pernah ada usaha yang sia-sia dan hal ini sudah menjadi hokum alam.
Teraniaya Bukan Kata Yang Sama Dengan Selamanya
Seperti halnya konsep hokum kausalitas, bahwa setiap alasannya akan menjadikan akibat. Dan semua agresi mau tidak mau menarik reaksi. Jadi, jangan khawatir jikalau Anda akan teraniaya selama-lamanya. Selama masih ada kekuatan untuk melawan, maka bukan tidak mungkin suatu ketika keadaan akan berbalik. Karena itulah dibanding membalas dengan kebencian, menyikapi keadaan teraniaya untuk berdo’a meminta kebaikan akan lebih memiliki kegunaan di masa depan.
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang renta kepada anaknya”. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi. al-Tirmizi berkata: Hadis hasan)
Jika dipikirkan lebih dalam, apa yang akan Anda dapatkan ketika seorang yang telah menganiaya Anda ternyata mendapatkan kemalangan sebagai balasannya? Puas? Tertawa? Senang? Lalu apa lagi? Setelah itu, Anda hanya akan kembali berkutat pada persepsi dan keadaan Anda sama menyerupai sebelumnya. Selain itu Anda juga tidak bisa berguru dari problem yang sudah terjadi. Ditambah jikalau Anda ialah seorang beragama yang mengharapkan diri menjadi hamba yang baik, Anda justru menambah dosa dikarenakan telah menertawakan penderitaan orang lain. Apa Anda ingat, jikalau pada dasarnya kita dihimbau untuk memakai prinsip jikalau semua insan terikat dalam tali persaudaraan?
Jika semua insan terikat persaudaraan, maka berarti memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan mendidik saudaranya. Makara memanjatkan do’a dengan penuh dendam juga kemarahan bukanlah suatu yang akan mendidik saudara kita menjadi lebih baik. Seperti api yang tidak bisa dipadamkan dengan api. Sebelum menjadi abu, Anda harus membasahi diri dengan air biar bisa memadamkannya sedikit demi sedikit. Jika Anda ingat, bahkan Einstein pernah berkata bahwa; kegelapan itu tidak ada, yang ada hanyalah ruang yang belum tersinari cahaya. Dengan caranya sendiri Einstein mengajarkan pada kita bahwa kegelapan sebetulnya tidak memiliki kekuatan apa-apa selagi insan tidak terpengaruh dengannya.
Semoga informasi wacana orang yang teraniaya...semoga bermanfaat untuk kita semua amin amin ya robball alamin..


Sejarah Munculnya Sumur Air Zam Zam Di Mekkah
Sejarah atau asal permintaan Munculnya Sumur Air Zam Zam yang airnya tidak pernah habis Di Mekkah ini terjadi pada masa Nabi Ibrahim As.


Menurut bahasa Arab, zam-zam sendiri berarti melimpah atau banyak. Sementara, menurut syariah sendiri air zam-zam merupakan air berasal dari sebuah sumur yang dinamakan Zam-Zam. Adapun letak air zam-zam berada tak jauh dari Ka’bah, yakni kira-kira hanya 38 hasta saja. Penamaan Zam-Zam sendiri dikarenakan air ini sama menyerupai arti Zam-Zam, di mana air tersebut berasal dari sebuah sumur yang aneka macam mengeluarkan air. Sumur tersebut memiliki air yang begitu melimpah, bahkan tak akan habis meskipun telah dibawa dan diambil tiap harinya oleh orang-orang Muslim hingga di seluruh dunia. 
Selain itu, penamaan Zam Zam dapat diambil juga dari perilaku Siti Hajar. Di mana ketika air Zam-Zam ini mulai terpancar, maka Siti Hajar pun segera membendung dan mengumpulkannya. Bisa juga diambil berdasarkan galian Malaikat Jibril berikut perkataannya, ketika ia mengatakan sesuatu kepada Siti Hajar. Beberapa orang berpendapat, di mana nama air Zam-Zam termasuk a’lam, yakni nama asal berdiri sendiri, dan tidak diadopsi dari kata lain atau kalimat yang lainnya. Ada juga yang berpendapat, di mana Zam-Zam diadopsi dari zamzamatul ma’ yakni bunyi yang berasal dari air tersebut itu sendiri.
Ada nama lain dari Zam-Zam, yakni ‘madhmunah’ yang berarti berharga, ‘barrah’ artinya kebaikan, ‘hazmah Jibril’ artinya galian Jibril, ‘syarabul abrar’ artinya minuman untuk orang-orang yang baik, ‘tha’amu tu’im’ artinya makanan, ‘syifa suqim’ artinya obat penyakit, ‘thayyibah’ artinya yang baik, dan ‘taktumu ‘ artinya yang tersembunyi.
Sejarah Munculnya Sumur Air Zam Zam Di Mekkah Secara Singkat
Berdasarkan riwayat Imam Al Bukhari dalam Hadits Shahihnya, Sejarah Air Zam Zam yang diambil dari sebuah hadits yakni Ibu ‘Abbas. Di Mekkah, suatu ketika Nabi Ibrahim AS telah menempatkan istrinya yakni Hajar beserta putranya yang berjulukan Ismail di bersahabat Ka’bah. Di sebuah pohon yang besar terletak di adegan atas sebuah sumur yang di namakan Zam-Zam tadi. Di ketika tersebutlah, tak seorang pun berada di Mekkah, yang ada hanya mereka bertiga saja. Sesudah Nabi Ibrahim AS menempatkan sebuah kantong yang berisi air dan kurma, maka ia pun balasannya beranjak untuk pergi. Akan tetapi, Hajar pun mengikutinya sembari berkata kemanakah Ibrahim hendak pergi meninggalkan mereka (Hajar dan anaknya) sendirian berada di daerah yang sama sekali tidak ada seorang pun di sana.
Hajar pun terus mengulangi pertanyaannya, akan tetapi suami yang tak lain yakni Nabi Ibrahim AS tak menengok sedikit pun pada dirinya. Hingga akhirnya, Hajar pun berkata pada Nabi Ibrahim di mana apakah ia melakukannya alasannya yakni Yang Mahakuasa SWT menyuruhnya. Pada ketika itulah, nabi Ibrahim pun mengiyakannya. Setelah itu, Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan istri beserta anaknya.
Kemudian Hajar sekaligus ibunda Ismail pun menyusui anaknya kemudian meminum air yang berasal dari kantong yang ditinggalkan nabi Ibrahim AS untuknya. Hingga akhirnya, bekal air yang dibawa pun habis sehingga Ismail merasa kehausan. Melihat Ismail yang kehausan, Hajar pun merasa cemas terlebih lagi ketika itu Ismail tak berhenti menangis. Selanjutnya, Hajar pergi mencari sebuah sumber air, dikarenakan ia merasa tak tega menyaksikan anaknya yang kehausan. Lalu Hajar pun pergi menuju sebuah bukit yang paling bersahabat di sana, yakni bukit Shafa terletak di atasnya. Kemudian pandangan Hajar pun diarahkan menuju lembah yang ada di sekelilingnya, lalu menyaksikan apakah terdapat orang di sana. Akan tetapi, tak menyerupai harapannya di mana tak ada seorang pun di sekelilingnya.
Hingga balasannya Hajar turun melalui sebuah lembah dan menuju bukit Marwa. Hajar melewati lembah tersebut sebanyak 7 kali, hingga balasannya ia hingga di atas bukit tersebut. Kemudian ia pun mendengar bunyi dan tiba-tiba saja melihat Jibril sedang mengais tanah memakai kakinya (atau memakai sayapnya), lalu Jibril pun memukulkan kakinya sempurna di atasnya. Di ketika tersebutlah keluar sebuah pancar air yang berasal di dalam tanah. Setelah itu, Hajar pun eksklusif bergegas menampung dan mengambilnya.
Hajar pun menciduk air tersebut memakai tangannya lalu memasukkannya pada daerah air. Bahkan sesudah diciduk, justru air itu malah semakin memancar dan melimpah. Hajar pun balasannya meminumkan air yang diambilnya tersebut untuk Ismail, putranya. Di ketika yang sama, Malaikat Jibril berkata pada Hajar bahwa jangan pernah takut untuk terlantar. Sebab dari situlah Baitullah dibangun oleh Ismail dengan ayahnya Ibrahim. Selain itu, Yang Mahakuasa tak akan pernah menelantarkan Hamba-Nya.
Subhanallah....


Inilah Orang Islam Yang Diusir Oleh Nabi Muhammad di Padang Mahsyar


Hari final zaman merupakan sebuah Janji Tuhan SWT yang pasti akan terjadi. Ketika alam dunia sudah berakhir, Maka semua insan akan dibangkitkan di Padang Mahsyar nantinya. Di Padang Mahsyar ini miliaran insan akan berkumpul untuk dimintai pertanggung jawabannya dengan ditimbang amal baik dan amal buruknya.
Kondisi Manusia di Padang Mahsyar ini digambarkan dengan keadaan yang sangat kacau dan masing-masing  hanya memikirkan diri sendiri. Terlebih matahari ketika itu berada 1 mil diatas kepala kita, sehingga kondisi sangat panas. Beruntung Nabi Muhammad SAW dengan kasih sayangnya hanya kepada umatnya yang beragama Islam memperlihatkan pemberian berupa Syafa’atnya.
Namun ada umat Islam yang akan diusir oleh Nabi Muhammad SAW. Karena kesalahannya selama hidup di dunia, Rasulullah SAW pun enggan mendekati mereka. Siapakah orang Islam yang akan diusir oleh Nabi Muhammad SAW ketika di alam abadi kelak? 
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (RA) mengisahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Pada Saat itu Rasulullah SAW sedang berjalan melewati perkuburan dan mengucapkan salam:
“Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami Pasti akan menyusul kalian“.
Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda: “aku sangat berharap untuk melihat saudara-saudaraku“.
Hal yang demikian ini cukup membuat para Shahabat heran. Mereka kemudian bertanya kepada Nabi SAW “Bukankah kami yakni saudara-saudaramu wahai Rasulullah SAW?”. Rasulullah pun menjawab :
“Kalian yakni shahabat-shahabatku, sedangkan saudara-saudaraku yakni umatku yang akan datang suatu hari kelak“.
Shahabat kemudian bertanya lagi : “wahai Rasulullah SAW, bagaimana engkau dapat mengenali umatmu yang hingga ketika ini belum terlahir ke dunia ini?“. Nabi Muhammad SAW menjawab:
“Menurut pendapat kalian, andaikan ada orang yang memiliki kuda yang didahinya dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan juga kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?”
Para Shahabat pun menjawab : “Tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“. Maka Rasulullah SAW menimpali tanggapan para Shahabat dengan bersabda:
“Sejatinya umatku pada hari final zaman kelak akan datang dalam kondisi wajah, ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar menerangkan mereka berwudhu semasa hidupnya di dunia“.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa nantinya di hari final zaman kelak, Ia akan menunggu umat Islam di pinggir telaganya di alam Mahsyar. Namun Rasulullah SAW menjelaskan bahwa diantara umatnya nanti akan ada yang diusir oleh para Malaikat. Mereka semuanya ibarat unta yang kehilangan Pemiliknya, sehingga mereka mendatangi tempat-tempat minum orang lain, namun akan diusir.
Namun Rasulullah SAW mengetahui bahwa mereka itu yakni dari kalangan umatnya, alasannya memiliki tanda pernah berwudhu’. Nabi SAW pun kemudian memanggil mereka. Namun Malaikat yang mengusir mereka dan berkata:
“Aku yakni pendahulu kalian menuju ke telaga. Siapa saja yang akan melewatinya, pasti akan meminumnya. Dan barangsiapa meminumnya, niscaya tidak akan haus selamanya. Nanti akan lewat beberapa orang yang melewati diriku, saya mengenali mereka dan mereka mengenaliku, namun mereka terhalangi menemui diriku.” Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya mereka termasuk umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kau tidak mengetahui perkara yang telah mereka rubah sepeninggalmu.” Kemudian saya (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bersabda: “jauhlah, jauhlah! bagi orang yang merubah (ajaran agama) sesudahku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Meninggalkan pemikiran Nabi Muhammad SAW serta mengubahnya merupakan tindakan mengikuti musuh-musuh Tuhan SWT. Mereka bahkan memiliki slogan atas nama kemajuan zaman, modernisasi, kebudayaan dan juga peradaban. Agama Islam hanya berpegang pada dua hal, yakni Al-Qur’an dan hadits, tentu ini dengan petunjuk para Ulama dengan mengikuti salah satu Mazhab dari 4 Mazhab yang masyhur dengan berakidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, Asy’ariyah dan Maturidiah. Jika kita tidak punya Ilmu, dan sudah berani memfatwakan hukum, tentu ini yakni suatu hal yang keliru. Bisa dikatakan orang yang tidak punya Guru, Maka Syaitan yakni Gurunya.
Apa Itu Akidah AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ?
(قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وَإِنَّ هَذِهِ اْلمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ ثِنْتاَنِ وَسَبْعُوْنَ فِي النّاَرِ وَواَحِدَةً فِي اْلجَنَّةِ وَهِيَ اْلجَمَاعَةُ (رَواَهُ أَبُوْ دَاوُدَ)
Maknanya: “Bersabda Rasulullah SAW dan sesungguhnya umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)
Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi (W. 1205 Hijriah) mengatakan:
إِذاَ أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَماَعَةِ فَالْمُراَدُ بِهِمِ اْلأَشاَعِرَةُ وَاْلماَتُرِيْدِيَّةُ
“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud yakni al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6)
Jadi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih yakni aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena bersama-sama keduanya hanyalah keduanya yang meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh Rasulullah SAW dan para sobat Nabi. Aqidah Ahlusssunnah yakni aqidah yang diyakini oleh sebagian besar umat Islam didunia, mereka yakni para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta madzhab Hambali. 
Demikian isu yang kami tulis agar bermanfaat untuk kita semua amin...


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget