Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post

"MUNGKINKAH MENJADI KENANGAN"


yang dulu ku tak mengenal sosok kalian
sosok yang tak mungkin pernah ku temui pada sosok orang lain
 yang kurindukan ialah kelucuan kalian
kepedulian, kekocakkan, dan tawa yang pernah kita buat bersama..
agar selama tiga tahun kisah yang pernah luka  ukirkan selaalu mengabdi
di pikiran dan memori di hati..
ingatkah kalian hari-hari yang kita lalui bersama banyak terekam kenangan -kenangan yang indah..
mulai dari kalian yang menciptakan tawa dan seyum yang tulus


ku tau kalian yaitu sahabat yang terbaik 
terbaik untuk mengisi kejenuhan 
dan kebahagiaan bersama yaitu kalian..
kalian yang kujumapi sekarang..

kangen kalian I LOVE YOU SAHABAT KU....

Cara Berbakti Kepada Ibu Yang Sudah Meninggal


Terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada yang bertanya kepada beliau,
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
“Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adakah tersisa perbuatan bakti kepada orang renta yang masih mampu saya lakukan sepeninggal mereka ? RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan, melakukan komitmen mereka, menyambung tali silaturahim yang hanya terhubung melalui mereka serta memuliakan teman-teman mereka‘” (HR. Ahmad 3/279, Bukhari dalam kitab “Adabul Mufrad”, Abu Daud no. 5142)
Ini semuanya merupakan berbakti kepada orang renta setelah keduanya meninggal. Kami menasehatkan supaya engkau berdoa dan memohon ampun bagi ibumu, melakukan wasiatnya, memuliakan sahabat-sahabatnya, menyambung silaturahmi dengan kerabat-kerabatnya. Semoga Yang Mahakuasa mampu memberi taufik kepadamu dan memudahkan urusannya. Semoga Yang Mahakuasa mendapatkan amal kita, amin. 
Wallahua’lam..




Inilah Beberapa Perbuatan Wanita yang Dilaknat Allah



betapa Yang Mahakuasa meninggikan derajat wanita, akan tetapi banyak wanita yang justru merendahkan sendiri derajatnya. Inilah Beberapa Perbuatan Wanita yang Dilaknat Allah, semoga kita terjauh dari beberapa hal ini.
Di dalam shahih Muslim disebutkan riwayat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud,Ia berkata: "Allah mengutuk wanita-wanita pembuat tato dan wanita-wanita yang minta dibuatkan tato, wanita-wanita yang mencukur rambut wajah (bulu alis, dsb) dan wanita-wanita yang minta dihilangkan rambut wajahnya serta wanita-wanita yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan Allah."
Dari hadits tersebut kita mampu mengetahui beberapa wanita yang perbuatannya Yang Mahakuasa laknat:
1. Wanita pembuat tato dan yang minta dibuatkan tato
Zaman sekarang rasanya tato bukan lagi dominasi para cecunguk atau preman, bahkan banyak wanita yang membuat tato di sekujur tubuhnya tanpa mengetahui bahwa Islam melarang hal ini dan bahkan Yang Mahakuasa sangat keras melaknat perbuatan yang sebenarnya amat merusak badan ini.
2. Wanita yang mencukur rambut wajah (alis mata, dan lainnya) dan yang meminta untuk dicukur rambut wajahnya
Imam Nawawi mengatakan : “Dan perbuatan ini (mencukur bulu/rambut yang tumbuh di wajah) kecuali apabila tumbuh diwajah wanita kumis dan jenggot maka tidak haram untuk menghilangkannya bahkan mustahabb” kemudian dia menambahkan :”bahwasanya larangan itu tertuju pada bulu alis dan apa yang dipinggir wajah ( bersahabat pendengaran ) “( syarah An-Nawawi ‘ala muslim 14/106 )
3. Wanita yang merenggangkan giginya hanya demi kecantikan
Definisi Alfalj (pangur gigi) ialah menjauhkan jarak antara gigi atas dengan gigi bawah. Biasanya dilakukan oleh orang renta yang usianya sudah lanjut, dilakukan untuk mampu tetap infinit muda serta’ memperindah gigi, karena tonjolan yang lembut pada gigi itu hanya milik anak kecil saja.
Jika wanita sudah berusia senja maka tonjolan-tonjolan gigi itu akan mengeras, lalu dilembutkan (dipangur) dengan alat pelembut semoga kelihatan mengagumkan dan muda. Ini dinamakan juga dengan Al-Wasyr.
4. Wanita yang menolak permintaan suaminya untuk bekerjasama intim
“Apabila suami mengajak istrinya ke daerah tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri hingga waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)
“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul, hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387, Shahih)
5. Wanita yang tidak mensyukuri kebaikan suaminya
Thalhah bin Ubaidillah ra. mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Wanita yang berkata kepada suaminya, "Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali, melainkan Yang Mahakuasa Swt. memutuskan-rahmatnya kepadanya pada hari selesai zaman "
"Rasulullah SAW. juga bersabda: "Sesungguhnya Yang Mahakuasa tidak mau memandang wanita (istri) yang tidak mau bersyukur kepada suaminya,padahal dia masih membutuhkannya,"
6. Wanita yang meminta cerai tanpa alasan syari
"Wanita yang meminta suaminya untuk menalak tanpa ada alasan yang mendesak, maka haram baginya anyir surga, (HR. Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari Thazauban budak Rasulullah SAW)
7. Wanita yang menunjukkan auratnya pada lelaki lain
Rasulullah bersabda :
"Wanita yang melepas pakaiannya di luar rumahnya, ialah menunjukkan tubuhnya pada lelaki lain, maka Yang Mahakuasa akan membedah tutup tubuhnya "
(HR. Imam Ahmad, Thabrani, Ibnu Majah, Al Hakim,dan Al Baihaqi)
8. Wanita yang menyambung rambut dan minta disambung rambutnya
Diriwayatkan dari ‘Aisyah : “Seorang perempuan Anshar telah kawin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugurlah rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya, tetapi sebelumnya mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka jawab Nabi: Yang Mahakuasa melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.” (HR. Bukhari 5934)
Demikianlah beberapa perbuatan wanita yang mendapat kebencian dan laknat Allah, semoga kita mampu menjadi wanita taat yang terjauh dari sifat suka mengubah ciptaan Yang Mahakuasa dan melanggar laranganNya yang penuh dengan hikmah.


PERISTIWA-PERISTIWA DI ALAM KUBUR



Allâh Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan mencicipi mati. Dan bersama-sama pada hari selesai zaman sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imrân/3:185]
Allâh Azza wa Jalla menunjukkan pemberitaan umum kepada seluruh makhluk, bahwa setiap jiwa akan mencicipi kematian. Hanya Allâh Yang Maha Hidup, tidak akan mati. Adapun jin, manusia, malaikat, semua akan mati.
Kematian merupakan hakekat yang menakutkan. Dia akan mendatangi seluruh orang yang hidup dan tidak ada ilahi menolak maupun menahannya. Maut merupakan ketetapan Allâh Azza wa Jalla . Ini yaitu hakekat yang sudah diketahui. Maka sepantasnya kita bersiap diri menghadapinya dengan kepercayaan sejati dan amal shalih yang murni.
Di dalam goresan pena ini insya Tuhan akan kami sampaikan beberapa peristiwa yang terjadi di alam kubur sehingga menimbulkan kita lebih waspada dalam menjalani kehidupan dunia ini supaya selamat di alam kubur.

ALAM KUBUR MENAKUTKAN
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , berkata, “Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jikalau berhenti di sebuah kuburan, dia menangis hingga membasahi janggutnya. Lalu dia Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Disebutkan wacana surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan alasannya yaitu ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur yaitu persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih angker daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah; dihasankan oleh syaikh al-Albâni]
Karena fase setelah kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla dalam kuburnya, seorang Mukmin mengatakan, “Ya Rabb, segerakanlah selesai zaman supaya saya kembali ke keluarga dan hartaku.” Sebaliknya, orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla baginya, ia berseru, “Ya Rabb, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.

GELAPNYA ALAM  KUBUR
Hal iniditunjukkan oleh hadits shahih :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».
Dari sobat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sobat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, dia pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan bersama-sama Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]

HIMPITAN ALAM KUBUR
Setelah jenazah diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits membuktikan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu anhu , padahal kematiannya membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan an-Nasâ’i diriwayatkan dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ
Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah ; Lihat Misykâtul Mashâbîh 1/49; Silsilah ash-Shahîhah, no. 1695]
Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu) Saad bin Muâdz telah selamat. [HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Shahîhul Jâmi’ 2/236]
Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ
Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka bocah ini pasti selamat [Mu’jam ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jâmi, 5/56]

FITNAH (UJIAN) KUBUR
Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan menunjukkan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sobat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي
Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku yaitu Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia menjawab: “Agamaku yaitu al-Islam”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kau ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, saya mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya basi dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah ganteng kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu yaitu wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku yaitu amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga saya akan kembali kepada istriku dan hartaku”.
Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, saya tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, saya tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kau ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, saya tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu yaitu wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku yaitu amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]
Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.

ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
Banyak sekali hadits yang menjelaskan eksistensi adzab dan nikmat kubur. Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah , penulis kitab al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh wacana eksistensi adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib meyakini dan mengimani kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena logika tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, hlm.450; al-Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 238]
Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu mereka. Mereka menduga bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan indera pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita ketika ini telah mengetahui beberapa belakang layar alam yang oleh penglihatan dan indera pendengaran kita tidak dapat menangkapnya.
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.
Di dalam al-Qur’ân terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya adzab kubur. Antara lain yaitu Firman Allâh Azza wa Jalla wacana Fir’aun dan kaumnya :
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ ﴿٤٥﴾ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. [al-Mukmin/40: 45-46]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata wacana ayat ini, “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”, yaitu karam di lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, bersama-sama ruh-ruh mereka dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang hingga hari kiamat. Jika hari selesai zaman telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih dahsyat dan siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur, yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang’. [Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]
Imam al-Qurthubi t mengatakan, “Mayoritas Ulama menyatakan bahwa penampakan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur”. [Fathul Bâri 11/233]

SEBAB-SEBAB SIKSA KUBUR
1 )
Sebab-sebab yang menimbulkan seseorang menerima siksa kubur ada dua bagian, mujmal (global) dan mufash-shal (rinci). Sebabnya secara mujmal (global), yaitu kebodohan terhadap Allâh Azza wa Jalla , menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya. Sedangkan sebabnya secara mufash-shal (rinci), yaitu perkara-perkara yang dijelaskan oleh nash-nash sebagai alasannya yaitu siksa kubur.
Di sini akan kami sebutkan di antara alasannya yaitu mufash-shal sehingga kita mampu menjauhinya:
1. Namimah, yaitu memberikan perkataan seseorang kepada orang lain untuk merusak relasi mereka.
2. Tidak menutupi diri ketika buang hajat.
3. Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
4. Dusta.
5. Memahami al-Qur’ân namun tidak mengamalkannya.
6. Zina
7. Riba
8. Mayit yang ditangisi keluarganya, jikalau jenazah tersebut tidak melarang sebelumnya.




HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN DARI SIKSA KUBUR

Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur yakni orang yang mempersiapkan diri sebelum menghadapi maut yang datang tiba-tiba. Di antara persiapan menghadapi maut yakni segera bertaubat, menunaikan kewajiban syariat, memperbanyak amal shalih, memperbaiki akidah, berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya. Dengan amalan tersebut Allâh Azza wa Jalla memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dengan mengutip hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Abu Hâtim dalam shahih-nya, “Sesungguhnya orang mati dapat mendengar bunyi langkah kaki orang-orang yang pergi meninggalkannya. Jika ia seorang Mukmin, maka shalat berada di bersahabat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuatan baik ibarat berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada insan berada di bersahabat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, ibarat berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa pendapatmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, saya ingin shalat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kau akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’ Mereka menanyakan, ‘Apa pendapatmu wacana lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia yakni utusan Allâh, dan dia membawa kebenaran dari Allâh.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allâh.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini kawasan tinggalmu di surga dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu yakni kawasan tinggalmu dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan ibarat semula, dan ruhnya dijadikan di dalam penciptaan yang baik, yaitu burung yang bertengger di pohon surga.”
MEMOHON PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH DARI FITNAH DAN ADZAB KUBUR
Fitnah (ujian) dan adzab kubur yakni problem besar, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon tunjangan dari hal itu, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menekankan kepada umatnya untuk memohon tunjangan kepada Allâh dari segala fitnah dan azab kubur.
ORANG-ORANG YANG TERPELIHARA DARI UJIAN DAN SIKSA KUBUR
Sebagian kaum Mukmin yang melaksanakan amal-amal besar atau tertimpa petaka besar akan terjaga dari fitnah atau ujian dan azab kubur, Diantara mereka :
Pertama : Orang yang mati syahid.
an-Nasâ’i rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ya Rasûlullâh, mengapa kaum Mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?” Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah. Lihat Shahîhul Jâmi’ 4/164]
Kedua : Seseorang yang gugur dikala bertugas jaga di jalan Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa dia bersabda, “Setiap orang yang meninggal amalnya ditutup, kecuali yang meninggal dikala bertugas jaga di jalan Allâh. Amalnya terus tumbuh hingga hari simpulan zaman dan ia akan aman dari fitnah kubur.” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah. Lihat Misykâtul Mashâbîh 2/355]
Ketiga : Seseorang yang meninggal hari Jum’at
Dalam hadits Abdullah ibn Amru, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Yang Mahakuasa dari fitnah kubur.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi; Dinyatakan berpengaruh oleh syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Ahkâmul Janâiz, hlm. 35]
Keempat : Seseorang yang meninggal alasannya sakit perut
Abdullah bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Khalid ibn ‘Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meninggal alasannya sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah satunya mengatakan kepada yang lain, ‘Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang meninggal alasannya sakit perut tidak akan diadzab di dalam kubur.’ Yang satunya menjawab, ‘Engkau benar.’ [HR. an-Nasa’i dan Tirmidzi; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah saw.

wallahua'lam...


Perbedaan malaikat, manusia, jin, dan iblis/setan


Perbedaan malaikat, manusia, jin, dan iblis/setan
1.Kejadian
a) Malaikat
Malaikat ialah makhluk gaib yg di ciptakan dari nur (cahaya). Malakat selalu taat dan patuh terhadap setiap perintah Tuhan tanpa membantah. Jumlah malaikat sangat banyak, hanya Tuhan SWT yang mengetahui. Akan tetapi, setiap umat islam harus mengetahui beberapa malaikat yg berkaitan pribadi dengan kehidupan manusia. Malaikat – Malaikat tersebut, yaitu sebagai berikut.
1). Malaikat Jibril
peran utamanya memberikan wahyu Tuhan SWT
2). Malaikat Mikail
peran utamanya membawa dan membagikan rezeki kepada seluruh makhluk hidup.
3). Malaikat Raqib
peran utamanya mencatat seluruh amal perbuatan dan perkataan insan yg baik semasa hidup di dunia.
4). Malaikat Atid
peran utamanya mencatat seluruh amal perbuatan dan perkataan insan yg buruk semasa hidup di dunia.
5). Malaikat Izrail
peran utamanya mencabut ruh atau nyawa makhluk hidup.
6). Malaikat munkar
peran utamanya menanyai insan di alam kubur.
7). Malaikat Nakir
peran utamanya sama dengan malaikat munkar.
8). Malaikat Israfil
peran utamanya meniup sangkakala atau terompet pada hari akhir.
9). Malaikat Ridwan
peran utamanya menjaga surga.
10).Malaikat Malik
peran utamanya menjaga neraka.
b) Manusia
Manusia ialah makhluk paling tepat yang pernah diciptakan oleh Tuhan SWT. Kesempurnaan yang diiliki oleh insan merupakan suatu konsekuensi fungsi dan peran mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Al-qur’an meneramgkan bahwa insan berasal dari tanah I dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti: turab, thien, shal- shaldan sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa insan diciptakan dari bermacam-macam unsur kimiawiyang terdapat dari tanah. Mansia sebagai makhluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah bisa menempatkan dirinya sesuai hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga dan pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah.
c) Jin
Jin ialah makhluk Tuhan SWT yang diciptakan dari nar (Api yang panas). Jin diciptakan Tuhan untuk beribadah kepada Allah, tetapi ada Jin yang taat dan ada pula yang ingkar.
d) Iblis/setan
Iblis dicptakan dari api. Iblis atau setan diciptakan sebenarnya untuk taat kepada Allah, tetapi mereka ingkar, sombong, dan durhaka kepada Allah.

2.sifatnya
a) sifat-sifat malaikat
1) malaikat tidak memiiki nafsu.
2) malaikat selalu patuh terhadap setiap perintah Tuhan SWT.
3) malaikat tidak mungkin memiliki dosa.
4) malaikat selalu bertasbih kepada Tuhan SWT.
5) malaikat tidak memilik sifat sombong.
6) malaikat tidak memiliki jenis kelamin.
7) malaikat tidak makan dan minum.
8) malaikat tidak pernah berbohong.
9) malaikat tidak memiliki ayah maupun ibu.
10) malikat selalu memintakan ampun orang yang beriman.
11) malaikat selalu bahagia dan mendoakan orang yang memperoleh lailatul Qadar.
sifat-sifat manusia
1) insan memiliki nafsu.
2) insan pasti memiliki dosa.
3) insan memiliki sifat sombong.
4) insan memiliki jenis kelamin.
5) insan tidak ada yang sempurna.
6) insan memerlukn makan dan minum.
7) insan memiliki ayah dan ibu.
dll
c)sifat-sifat jin
1) jin ada yang patuh kepada Allah, ada pula yang ingkar pada-Nya.
2) jin memiliki nafsu
. 3) jin ada yang sombong.

d) sifat- sifat Iblis/setan
Iblis atau setan memiliki sifat sombong, ingkar, dan selalu menentang atau durhaka kepada Tuhan serta senantiasa menyesatkan umat insan biar masuk neraka bersama mereka




62- Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya kalau Engkau memberi tangguh kepadaku hingga hari kiamat, niscaya benar-benar akan saya sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.63- Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam ialah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. 64-  Dan hasunglah siapa yang kau sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan bawah umur dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. ( Israak 62-64)
Mahluk Jin
Jin ialah mahluk Ruh yang dijadikan Tuhan dari api . Iblis ialah salah satu dari golongan Jin ini, sebagaimana dijelaskan Tuhan dalam surat Kahfi ayat 50
50- Dan (ingatlah) saat Kami berfirman kepada para malaikat:  “Sujudlah kau kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia ialah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kau mengambil ia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka ialah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim. (Kahfi 50)
Dalam kehidupan sehari hari kita bercampur gaul dengan mahluk Jin ini tanpa kita sadari, alasannya ialah kita tidak bisa melihat mereka dengan kasat mata. Jin juga berbangsa dan bergolongan  menyerupai manusia, diantara mereka ada yang baik , soleh dan ada pula yang jahat dan kufur pada Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam surat Jin ayat  11
11- Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Jin 11)
Biasanya Jin membentuk koloni dan menetap ditempat yang tidak dihuni insan menyerupai Rimba belantara, lautan, Gurun pasir, pulau kosong, rumah atu bangunan kosong, sungai, pantai yang sunyi, Gua dan lubang ditanah, Pohon besar dan lain sebagainya. Diantara Jin ini ada juga yang tinggal bersama insan di kota, perumahan , pasar dan lain sebagainya.
Kadang kala terjadi juga keributan dan perseteruan antara golongan Jin dan insan alasannya ialah sesuatu dan lain hal. Ada sekelompok Jin yang tidak senang alasannya ialah kawasan tinggal mereka yang berupa pohon besar atau bangunan renta dibongkar  oleh manusia. Kelompok Jin yang habitatnya terganggu akan menyerang dan merasuk kedalam badan insan membuat keributan berupa kesurupan masal disekolah, pabrik atau kawasan umum lainnya.
Diantara insan ada juga yang berkongsi dan minta pertolongan pada Jin  untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mendapat kekayaan, menyerang atau menyakiti orang yang tidak disenangi, melaksanakan sihir, santet, tenung dan lain sebagainya.
6-  Dan bekerjsama ada beberapa orang laki-laki di antara insan meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Jin 6)
Gangguan Jin pada insan ada yang dilakukan alasannya ialah permintaan seseorang , ada pula yang dilakukan alasannya ialah merasa habitatnya terganggu, alasannya ialah itu Rasulullah melarang umat Islam untuk membuang air kecil dilubang dan kawasan yang mungkin didiami Jin.
Banyak orang yang meyakini bahwa jin bisa melaksanakan perbuatan luar biasa yang tidak bisa dilakukan manusia. Hal tersebut menggoda sekelompok orang untuk bekerja sama dan minta sumbangan Jin untuk melaksanakan maksud dan tujuannya. Dizaman dahulu Nabi Sulaiman memanfaatkan Jin untuk mengerjakan pekerjaan berat menyerupai membangun gedung, menyelam mengambil mutiara dan komplemen dari dalam laut. Namun sebenarnya orang yang bertakwa  memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari Jin ini sebagaimana dikisahkan  dalam surat  An Naml 38-40
38- Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kau sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.39- Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kau berdiri dari kawasan dudukmu; sesungguhnya saya benar-benar besar lengan berkuasa untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.40- Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari  Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba saya apakah saya bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. ( An Naml 38-40)
Jin  Ifrit mengatakan bahwa ia bisa membawa singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina sebelum nabi Sulaiman berdiri dari duduknya, namun seorang yang mendapat Ilmu dari Tuhan telah mendahuluinya dengan memindahkan singgasana itu hanya dalam sekejap mata saja. Ini mengambarkan bahwa Tuhan memberi kemampuan yang lebih besar kepada orang yang bertakwa kepadaNya. Pada kenyataannya seluruh Jin  dimasa itu juga tunduk dalam kekuasaan nabi sulaiman sebagai raja dimasa itu.
Kehidup Jin sama menyerupai insan berbangsa, suku, kelompok dan golongan. Jin mempunyai kewajiban sama menyerupai manusia, mereka juga akan diminta pertanggungan jawab atas perbuatan mereka kelak diakhirat. Jin yang taat patuh pada Tuhan akan masuk kedalam syurga sedangkan Jin yang membangkang akan dimasukan kedalam Neraka jahanam. Al Qur’an menjelaskan ini dalam beberapa ayat sebagai berikut:
130- Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kau sendiri, yang memberikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka ialah orang-orang yang kafir.(Al An Aam 130)
179- Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai indera pendengaran (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 179)
56- Dan Aku tidak menciptakan jin dan insan melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(Adz Dzariyat 56)
56- Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh insan sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.                   (Ar Rahman 56)
Diantara Jin juga ada yang mempelajari Qur’an dan memberikan dakwah bagi kalangan mereka, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ahqaf 29.
29- Dan (ingatlah) saat Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kau (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al Ahqaf 29)


Hikmah sakit menurut ISLAM




Apa pengertian sakit menurut islam? Dalam hadist Thabrani dinyatakan bahwa “Seorang mukmin yang sakit, ia tidak mendapatkan pahala dari sakitnya, namun diampuni dosa-dosanya”. Ini berarti bahwa sakit pada insan merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah. Lalu, Apa yang harus kita lakukan dikala sakit? Kita harus mengeluhkan sakit kepada Yang Mahakuasa dan tulus menerimanya. Di samping itu jangan lupa berobat kapada ahlinya.

Nabi menjelaskan bahwa ada dua macam penyakit sesuai dengan keadaan insan yang terdiri dari badan jasad dan badan rohani. Untuk obat rohaniah yaitu membaca AL Qur’an dan untuk sakit fisik yaitu materi, diantaranya yaitu madu.Dalam salah satu hadis riwayat Wailah bin Al Asqa’ disebutkan bahwa dikala seorang teman mengeluh sakit kerongkongan kepada Rasulullah, maka dia bersabda : “Bacalah Al-Qur’an dan minumlah madu, karena membaca Al-Qur’an merupakan obat untuk penyakit yang berada di dalam dada dan madu yaitu obat untuk tiap penyakit”.


Sebagian besar insan pasti sudah mencicipi sakit. Penerimaan dikala sakit tentunya berbeda antara satu orang dengan yang lain. Ada orang yang sakit flu atau batuk saja merasa mendapatkan petaka yang besar. Ada pula orang mengidap kanker atau tumor ganas, tetapi merasa lapang, mendapatkan sakitnya dengan tabah karena dia yakin bahwa semua penyakit datang dari Yang Mahakuasa dan pasti ada obatnya.

“Obatilah orang-orang sakit di antaramu dengan sedekah” (HR. Baihaqi. Hadits mi dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, apakah itu sakit ringan ataupun sakit berat. Namun, baik ringan maupun berat, setiap orang berbeda dalam menyikapinya. Bagi sebagian orang, sakit ringan mampu dirasakan begitu menyiksa sehingga terlihat lebih berat dari semestinya. Akan tetapi, bagi sebagian lagi, sakit berat mampu dirasakan ringan jikalau hati menerimanya dengan ikhlas. Saat Yang Mahakuasa menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Yang Mahakuasa subhanahu wa ta’ala melaksanakan sesuatu tanpa karena yang mendahuluinya atau tanpa nasihat di balik semua itu. Yang Mahakuasa pasti menyimpan nasihat di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Yang Mahakuasa subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita hingga mengutuk taqdir. Na’udzu billah…
Secara umum, kondisi sakit mempunyai dua sisi rasa. Namun, yang kerap kita rasakan hanya salah satu sisinya, yakni penderitaan. Sisi lain berapa hikmah dan kenikmatan di balik sakit sering kali kita lupakan. Padahal, jikalau kita mau merenungkannya, banyak hikmah yang dapat dipetik dari sakit yang diderita.
Beberapa hikmah itu yaitu sebagai berikut,
Pertama, secara medis sakit merupakan suatu peringatan (warning) mengenai tingkat kekuatan badan kita. Jika badan kita mengalami satu kondisi, kemudian berakibat sakit, hal itu merupakan peringatan biar kita menghindari kondisi yang sama yang dapat menimbulkan sakit tersebut. Sakit juga memberi kesempatan kepada kita untuk beristirahat dan berkonsultasi dengan dokter sehingga penyakit yang ada tidak menjadi lebih parah dan sulit diobati. Tak jarang, sakit yang dialami mencegah seseorang biar tidak terkena penyakit yang lebih berat lagi.
Kedua, sakit dapat menjadi penggugur dosa. Penyakit yang diderita seorang hamba menjadi karena diampuninya dosa yang telah dilakukan, termasuk dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah SAW. bersabda,
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersama dosa-dosanya, menyerupai pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Cobaan itu akan selau menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Yang Mahakuasa tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, orang yang sakit akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah SAW bersabda,
“Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan.” (HR. Muslim) Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  pernah berkata, “Tidak ada penyakit yang menimpaku yang lebih saya sukai daripada demam. Karena demam merasuki seluruh organ tubuhku. Sementara Yang Mahakuasa akan menunjukkan pahala pada setiap organ badan yang terkena demam.”

Seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ’alayhi wasallam, ia berkata : ”Saya mengidap penyakit epilepsi dan apabila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Yang Mahakuasa untuk diriku”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan jannah. Tapi kalau engkau mau, saya akan mendoakan biar engkau sembuh”. Wanita itu berkata : ”Aku bersabar saja”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, sakit dapat menjadi jalan biar kita selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit biasanya orang merasa benar-benar lemah, tidak berdaya, sehingga ia akan bersungguh-sungguh memohon bantuan kepada Allah SWT. Zat yang mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang menuntunnya untuk bertobat.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jikalau sekiranya Yang Mahakuasa mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan menunjukkan cobaan kepada mereka”. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi).
Kelima, sakit mampu menjadi jalan kita untuk membersihkan penyakit batin. Pendapat Ibnu Qayyim, “Kalau insan itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi bergairah dan jiwanya beku. Oleh karena itu, musibah dalam bentuk apa pun adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya, akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan, pahalanya pun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha.“
Keenam, sakit mendorong kita untuk menjalani hidup lebih sehat, baik sehat secara jasmani maupun rohani. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru dikala sakit. Begitu banyaknikmat Allah yang selama ini lalai ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh nikmat.
Ketujuh, secara sosial sakit mengajarkan kepada kita bagaimana mencicipi penderitaan orang lain, menyerupai halnya puasa yang mendidik kita biar mengetahui bagaimana pedihnya rasa lapar dan dahaga yang dialami kaum papa. Rasa sakit harusnya melahirkan kepekaan sosial yang lebih tinggi.
Kapan rasa sakit mampu berubah menjadi nikmat dan karunia? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim agar sakit yang diderita menjadi karunia dan memiliki hikmah yang sangat tinggi.

 wallahua'lam..

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget