Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post


 SETETES KERINGAT AYAH


keluhanku tak sedikitpun kau jadikan beban 
tawaku mungkin kau jadikan seribu tahun kebahagiaan
engkau sangat tangguh ayah
bekerja banting tulang demi kami
anak mu..

engkau rela kerja siang demi rupiah
keringatan di keningmu yang terkena sinar matahari 
sama sekali tak menghentikan pekerjaaanmu
keringat bercucuran membasuhi baju yang melindungimu pun mulai kelam.

ayah semua itu kau kalukan demi kami
kami yang kau anggap akan merubah nasibmu
kau korbankan jiwamu untuk kebahagiaan hidup ini..
mungkin seatur miliar uang pun tak kan dapt ku bayar
atas semua yang kau lakukan untuk ku....

Satu Kata Dalam Tindakan

kita berbicara tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan, dengan tujuan menasehati orang namun lupa akan diri, dengan dalih berdakwah namun tak sadar bahwa hakikat dakwah itu mengajak bukan menganjurkan, mungkin kita sama-sama memahami kata mengajak berarti ikut serta di dalamnya. Sangat memilukan bila hal ini terjadi pada diri seorang pencetus dakwah, ustadz, dai. Seharusnya kita yang bergerak dalam kegiatan dakwah memahami betapa pentingnya menjadi tauladan bagi orang lain, itu sebabnya seorang pencetus dakwah dituntut terus berguru sembari mengamalkan. Oleh karena itu tidak mudah seseorang menerima amanah sebagai dai kalau hanya menganjurkan orang lain melaksanakan kebaikan.
Sebagian dari kita terkadang tidak menghiraukan hal ini, alasannya yaitu semangat dakwah yang menggelora di badan para pencetus menjadikan lupa bahwa diri sendiri juga butuh asupan, sehingga semangat yang menggelora tersebut bekerjsama hanya ambisi, berambisi menjadi dai, berambisi menjadi ustadz, berambisi untuk dikenal. Memang patut kita apresiasi semangat dakwah tersebut, akan tetapi yang perlu diluruskan yaitu makna dari dakwah itu sendiri. Tujuan dakwah tidak akan pernah tercapai bila tidak memahami hakikat dakwah.

Apakah para pencetus telah melupakan kata kabura maqtan ‘indallah (sangat besar kebencian di sisi Allah) bahwa kau mengatakan apa yang tidak kau kerjakan? Padahal ini sebuah bahaya dari Allah. Semoga kita yang merasa dipundak kita ada amanah dakwah menyadari konsekuensi menjadi seorang pencetus dakwah. Wallahu a’lam. 

Hijab Antara Kewajiban dan Gaya Hidup


Menjadi seorang wanita ialah anugerah. Tuhan karuniakan ia dengan banyak sekali keutamaan yang tidak dimiliki oleh kaum pria. Terlebih, saat seorang wanita takluk pada syariat, alangkah mulia dirinya. Maka, pintu surga terbuka menyambutnya.
 Kita tidak perlu mengulang pengalaman pahit tahun 80 an saat beberapa muslimah berhijab kehilangan pekerjaan, kesempatan dan dikucilkan dari pergaulan. Karena sekarang, muslimah Indonesia telah menikmati nyamannya berhijab syar’i dari perjuangan para wanita muslim sebelumnya.
Dahulu, masyarakat cukup anti dengan selembar kain yang dihampar menutupi rambut wanita. Kain tersebut cukup jadi barang bukti untuk ditolak dari lingkungan pergaulan. Padahal, selembar kain yang diremehkan tersebut ialah bukti identitas seorang muslimah. Bukan materi kainnya yang jadi soal, tetapi fungsi dan hakikatnya.
Waktu bergulir begitu cepat, memusnahkan semua paradigma kuno termasuk pandangan miring terhadap selembar kain tersebut. Mulanya minoritas, kini berduyun-duyun kita jumpai para wanita menutup kepala dengan aneka kain yang indah. Setiap muslimah benar-benar hingga pada zaman kebebasannya dalam menutup aurat tubuhnya.
Terbukti, berpakaian syar’i bukan halangan berprestasi. Hijab bukan lagi kendala dalam membangun karier. Posisi-posisi penting baik dalam sektor pemerintahan maupun swasta diduduki oleh wanita-wanita berhijab. Maka, tinggal si wanita saja, bersedia atau tidak memenuhi kewajiban berkerudung sebagai seorang muslimah.
Kata ‘jilbab’ tidak perlu lagi dipermasalahkan. Dalam artian, sungkan untuk dibicarakan. Bahkan jilbab muncul dalam kata yang lebih populer, yakni hijab. Terlepas dari pertentangan antara makna jilbab dan hijab di luar sana, masyarakat makin bersahabat dengan dua kata tersebut. Pada intinya, masyarakat telah bisa mendapatkan eksistensi pakaian muslimah dan penggunanya.
Jilbab memang dimaknai sebagai kewajiban. Namun, kini makna pakaian muslimah tersebut mengalami pergeseran. Dari kewajiban menjadi kebutuhan. Dari kebutuhan menjadi hanya sekadar keinginan. Dari impian yang ditangkap tersebut, jadilah peluang bisnis. Setidaknya itulah gambaran transformasi sederhananya.
Ya, saat sudah memasuki industri bisnis, mengalami marketisasi, pakaian muslimah mendadak nge’trend’ di kalangan wanita. Para pebisnis yang melek kondisi pasti arif memanfaatkan momentum ini. Jadilah selembar kain yang merupakan identitas muslimah tersebut dimaknai berbeda. Meski tidak sedikit yang masih menganggapnya sakral, banyak pula yang memaknainya sekadar hiasan atau busana biasa yang sedang booming.
Para pebisnis dan pedagang kain kebanjiran orderan akan hijab tersebut. Para desainer juga tak mau kalah unjuk gigi. Maka bertebaranlah hijab aneka model, brand dan macamnya. Dari harga yang nyaman di kantong pelajar hingga harga yang bikin dompet dan ATM terkuras.
Saat ini, online shop bertemakan hijab baik karya desain sendiri maupun tiruan merambah di banyak sekali media sosial. Hal ini membuat hijab makin menjamur. Penggunaannya pun semakin menular. Kali itu dipakai oleh seorang artis ternama, besoknya penggemar setia artis tersebut mendadak tobat ikut pakai hijab.
Makin unik saat beberapa media TV nasional mengizinkan presenter acaranya tampil dengan hijab. Entah ingin menjadikan kesan bersahabat di mata penonton atau memang sekedar tulus. Bahkan iklan produk nasional hingga mancanegara yang tampil di Indonesia mengambil pemain drama seorang wanita berhijab.
Masyarakat jauh dari kesan fobia hijab ibarat yang masih menjadi momok muslimah di negara lain. Masyarakat tidak lagi terbawa pada gosip segmentasi penggunaannya. Bahwa kerudung hanya pantas digunakan dalam program maupun kawasan berbau keagamaan. Bahkan sekarang kita bisa melihat selembar kain yang menyembunyikan rambut muslimah tersebut diperagakan di panggung catwalkbergengsi.
Entah mana yang lebih dulu, industri hiburan yang mengampanyekan sosok wanita berhijab. Ataukah sosok wanita berhijab yang lebih dululah bersemai di hati masyarakat hingga mereka turut menerimanya.
Jika menilik banyak sekali perubahan mendasar tersebut, rasanya kita harus mengakui adanya pergeseran motif dalam mengenakan hijab. Tentunya kita tidak berhak menggeneralisir hal ini kepada setiap muslimah. Jikalau dahulu hijab hanya dipandang sebatas kewajiban, bahkan memperjuangkannya pun butuh pengorbanan. Kini, berhijab seolah menjadi episode dari gaya hidup.
Artinya, hijab hanya memenuhi porsi sebagai episode pemanis dan pemanis dalam berbusana. Terlebih wanita bebas memilah-milih model hijab yang belum tentu sesuai syariat dan kebutuhan. Seorang muslimah sejatinya harus memperhatikan letak syar’i pakaian sebelum hal apapun.
Seorang muslimah tidak perlu terlarut dalam gempita gaya hidup berbusana ibarat ini. Cukuplah meniatkan berhijab alasannya ialah Tuhan dengan memperhatikan bahwa berhijab bukan hanya sekadar menutupi aurat. Lebih dari itu, berhijab ialah bentuk Tuhan memuliakan dan melindungi kaum wanita.
Muslimah yang berhijab sesuai syariat ialah perwujudan sikap taatnya kepada Sang Khalik. Dengan berhijab, ia telah menegaskan nilai istimewa dirinya sebagai seorang wanita. Ketika hijab menjadi barang jual yang populer di masa kini, muslimah hendaknya tetap menganggap hijab sebagai kewajiban dengan menyelaraskan adat sesuai busana syariatnya.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, belum dewasa perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh badan mereka !’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, alasannya ialah itu mereka tidak di ganggu. dan Tuhan ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 
(al-Ahzâb/33: 59).


ketahuilah wahai ibu...kau yang selalu..

KAU


wanita yang bijaksana ialah kau
wanita yang bagaikan sebuah lilin yang selalu menyinari
disaat saya mencicipi gelapnya kehidupan

bagaimana mampu saya tertawa
sedangkan engkau bersedih
dalam kesusahan dan kepedihan

dengan engkau saya dapat merasakan
kehanagatan yang luar biasa
dengan engkau saya dapat mencicipi kebahagiaan tak terhingga
dan dengan engkau  ku kan berbakti wahai engkau ibuu......

 Berhias Sesuai Syariat



Tidak ada yang salah dengan acara mereka yang bekerja, belajar, belanja atau yang di rumah saja. Yang salah yaitu gaya hidup yang mereka adopsi sehingga tak jarang kita lihat banyak kaum hawa yang tanpa rasa aib mengumbar auratnya, bersolek atau berhias mirip orang Jahiliyah, belum lagi sekarang yang lagi ngetrend sulam kuku, alis dan sebagainya.
Padahal sudah terang sekali Tuhan SWT menawarkan rambu-rambunya untuk kaum hawa, yang berbunyi, “…Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh badan mereka. Yang demikian itu semoga mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu…” (QS 33: 59), kemudian dalam surat yang lain Tuhan SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, semoga mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…” (QS 24: 31). Begitupula diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa meniru/ mirip cara hidup suatu kaum, maka bekerjsama ia termasuk golongan mereka”, naudzubillah.
Berhias atau tabarruj itu mempertontonkan/menampakkan keindahan/kecantikan badan maupun pakaian, mampu juga diartikan wanita yang menunjukkan pemanis dan kecantikannya untuk menarik perhatian kaum lelaki (yang dapat merangsang harapan syahwat mereka). Tabarruj itu menunjukkan wanita yang memakai perhiasan/ bersolek secara berlebihan kemudian ditunjukkan di luar rumah, padahal solekan yang dianjurkan hanya untuk para suami saja.
Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum saya lihat, pertama suatu kaum yang memiliki cambuk mirip ekor sapi untuk memukul insan dan yang kedua para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka mirip punuk unta yang miring. Wanita mirip itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian”.
Agar tidak salah melangkah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan, pertama jadikan rasa syukur dan tabah atas segala yang kita dapatkan dari Tuhan SWT entah itu warna kulit, bentuk bibir, bentuk rambut, dan sebagainya yang menjadi bingkai kecantikan atau kegantengan seseorang, kedua tanamkan rasa cukup atau qona’ah dalam diri kita bahwa Tuhan itu sudah sangat sayang kepada kita dan yakinlah bahwa yang Tuhan ciptakan pada diri kita sudah yang terbaik jadi tak perlu diubah-ubah, ketiga  Tidak

Tidak ada yang salah dengan acara mereka yang bekerja, belajar, belanja atau yang di rumah saja. Yang salah yaitu gaya hidup yang mereka adopsi sehingga tak jarang kita lihat banyak kaum hawa yang tanpa rasa aib mengumbar auratnya, bersolek atau berhias mirip orang Jahiliyah, belum lagi sekarang yang lagi ngetrend sulam kuku, alis dan sebagainya.
Padahal sudah terang sekali Tuhan SWT menawarkan rambu-rambunya untuk kaum hawa, yang berbunyi, “…Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh badan mereka. Yang demikian itu semoga mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu…” (QS 33: 59), kemudian dalam surat yang lain Tuhan SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, semoga mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…” (QS 24: 31). Begitupula diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa meniru/ mirip cara hidup suatu kaum, maka bekerjsama ia termasuk golongan mereka”, naudzubillah.
Berhias atau tabarruj itu mempertontonkan/menampakkan keindahan/kecantikan badan maupun pakaian, mampu juga diartikan wanita yang menunjukkan pemanis dan kecantikannya untuk menarik perhatian kaum lelaki (yang dapat merangsang harapan syahwat mereka). Tabarruj itu menunjukkan wanita yang memakai perhiasan/ bersolek secara berlebihan kemudian ditunjukkan di luar rumah, padahal solekan yang dianjurkan hanya untuk para suami saja.
Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum saya lihat, pertama suatu kaum yang memiliki cambuk mirip ekor sapi untuk memukul insan dan yang kedua para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka mirip punuk unta yang miring. Wanita mirip itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian”.
Agar tidak salah melangkah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan, pertama jadikan rasa syukur dan tabah atas segala yang kita dapatkan dari Tuhan SWT entah itu warna kulit, bentuk bibir, bentuk rambut, dan sebagainya yang menjadi bingkai kecantikan atau kegantengan seseorang, kedua tanamkan rasa cukup atau qona’ah dalam diri kita bahwa Tuhan itu sudah sangat sayang kepada kita dan yakinlah bahwa yang Tuhan ciptakan pada diri kita sudah yang terbaik jadi tak perlu diubah-ubah, ketiga ikhlas dan ridha atas pemberiannya walaupun kita merasa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, jikalau kita nrimo dan ridha insya Tuhan hati ini jadi tenang, dan satu lagi tanamkan rasa percaya diri. Ingat perkataan Rasul Saw bahwa bekerjsama dunia itu yaitu pemanis dan sebaik-baik pemanis dunia yaitu wanita shalihah. So, sekarang yang dipikirkan bukan duduk perkara fisik aja tapi yang paling penting yaitu kecantikan adat alias inner beauty.
Bukan rambut yang panjang nan mengagumkan yang menjadi kebanggaanmu, tapi kerudungmulah yang menyelamatkanmu dari siksaNya.
Bukan taburan bedak yang mempercantik wajahmu, tapi air wudhulah yang menjadi cahaya bagi wajahmu.
Bukan pemerah bibir yang membuatmu mempesona, tapi kata-kata santun dan bijaklah yang senantiasa dinantikan laki-laki shalih di sana.
Bukan lekukan badan yang menjadi pesonamu, tapi akhlakmu yang shalihah bagaikan sang surya yang menerangi kegelapan.
Allah SWT kembali berfirman dalam surat An Nur ayat 26, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”.
Jadilah bunga mawar yang mengagumkan berpagarkan duri.
Jangan biarkan dirimu menjadi bunga yang hanya mengagumkan tetapi sayang tidak berduri.

Jadikan hijab adalah cahaya, al haya’ yaitu perhiasannya serta kerudung yaitu kecantikan


Tanda-Tanda Kiamat Besar


Sedangkan tanda-tanda simpulan zaman besar yaitu kejadian sangat besar dimana simpulan zaman sudah sangat erat dan mayoritasnya belum muncul, menyerupai munculnya Imam Mahdi, Nabi Isa, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj.
Ayat-ayat dan hadits yang menyebutkan tanda-tanda simpulan zaman besar di antaranya:
Hingga apabila beliau telah hingga di antara dua buah gunung, beliau mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain, bahwasanya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami menunjukkan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kau membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya yaitu lebih baik, maka tolonglah saya dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), semoga saya berbagi dinding antara kau dan mereka.” (Al-Kahfi: 82)
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa bahwasanya insan dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)
Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari ra, berkata: Rasulullah saw. muncul di tengah-tengah kami pada ketika kami saling mengingat-ingat. Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang sedang kau ingat-ingat?” Sahabat menjawab, “Kami mengingat hari kiamat.” Rasulullah saw. bersabda,”Kiamat tidak akan terjadi sebelum engkau melihat 10 tandanya.” Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan: Dukhan (kabut asap), Dajjaal, binatang (pandai bicara), matahari terbit dari barat, turunnya Isa as. Ya’juj Ma’juj dan tiga gerhana, gerhana di timur, barat dan Jazirah Arab dan terakhir api yang keluar dari Yaman mengantar insan ke Mahsyar. (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Hari tidak akan berakhir, dan tahun belum akan pergi sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang dari keluargaku, namanya sama dengan namaku.” (HR Ahmad)
Perbedaan antara tanda-tanda simpulan zaman kecil dan simpulan zaman besar yaitu :
Tanda-tanda simpulan zaman kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda simpulan zaman besar.
Tanda-tanda simpulan zaman kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda simpulan zaman besar belum terjadi.
Tanda simpulan zaman kecil bersifat biasa dan tanda simpulan zaman besar bersifat luar biasa.
Tanda simpulan zaman kecil berupa peringatan semoga insan sadar dan bertaubat. Sedangkan simpulan zaman besar bila sudah datang, maka tertutup pintu taubat.
Tanda-tanda simpulan zaman besar bila muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya. Dan yang pertama muncul yaitu terbitnya matahari dari Barat.
Wallahu a’lam




Azab kubur karena kesalahan buang air kecil
Orang yang sedang kencing dapat menyaksikan dan disaksikan oleh orang lain. Dengan tanpa aib bangkit di depan urinoir dan setelah simpulan eksklusif mengangkat pakaian dan merapikannya tanpa membasuh alat vital. Maka orang tersebut dalam 

keadaan najis kalau berlaku demikian.
Hal ini persis apa yang dilakukan oleh orang-orang non-islam. Mereka melaksanakan dua perkara yang diharamkan, yakni diantaranya ialah tidak menjaga aurat dari pandangan orang lain dan yang kedua ialah tidak membersihkan najis yang tersisa dari kencingnya. Padahal Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya merupakan maslahat bagi penganutnya. Salah satunya ialah aturan untuk menghilangkan najis. Dalam Islam, umatnya disyariatkan untuk melaksanakan Istinja’ (membersihkan diri dengan air) dan Istijmar (membersihkan kotoran dengan batu). Islam juga menunjukan bagaimana cara melaksanakan hal tersebut sampai dapat mencapai kebersihan yang maksimal.
Sementara itu dikala ini banyak orang yang menganggap enteng persoalan membersihkan najis ini. Akibat yang timbul ialah tubuh dan bajunya masih kotor. Maka dari itu mampu jadi sholatnya tidak sah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa perbuatan tidak membersihkan najis setelah buang air kecil ini salah satu dari penyebab tertimpanya seseorang dengan azab kubur.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Suatu kali Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati salah satu kebun di Madinah. Tiba-tiba dia mendengar bunyi dua orang yang sedang di siksa di alam kuburnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Keduanya diazab, tetapi tidak karena persoalan besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda – benar (dlm riwayat lain: Sesungguhnya ia persoalan besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba”. HR: Bukhari, dalam Fathul Baari: 1/317
Selain itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya:
“Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil”. HR: Ahmad dalam Shahihul Jami’ No. 1213
Kesalahan buang air kecil itu antara lain ialah tidak cebok setelah buang air kecil, menyudahi hajat dengan tergesa-gesa padahal kencingnya belum habis, kencing dengan posisi atau daerah tertentu yang menyebabkan percikan air kencing kembali mengenainya dan tidak teliti atau dengan sengaja meninggalkan istinja’ dan istijmar.
Semoga kita terhindar dari sikap yang demikian, amin..


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget