Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post

Perbedaan malaikat, manusia, jin, dan iblis/setan


Perbedaan malaikat, manusia, jin, dan iblis/setan
1.Kejadian
a) Malaikat
Malaikat ialah makhluk gaib yg di ciptakan dari nur (cahaya). Malakat selalu taat dan patuh terhadap setiap perintah Tuhan tanpa membantah. Jumlah malaikat sangat banyak, hanya Tuhan SWT yang mengetahui. Akan tetapi, setiap umat islam harus mengetahui beberapa malaikat yg berkaitan pribadi dengan kehidupan manusia. Malaikat – Malaikat tersebut, yaitu sebagai berikut.
1). Malaikat Jibril
peran utamanya memberikan wahyu Tuhan SWT
2). Malaikat Mikail
peran utamanya membawa dan membagikan rezeki kepada seluruh makhluk hidup.
3). Malaikat Raqib
peran utamanya mencatat seluruh amal perbuatan dan perkataan insan yg baik semasa hidup di dunia.
4). Malaikat Atid
peran utamanya mencatat seluruh amal perbuatan dan perkataan insan yg buruk semasa hidup di dunia.
5). Malaikat Izrail
peran utamanya mencabut ruh atau nyawa makhluk hidup.
6). Malaikat munkar
peran utamanya menanyai insan di alam kubur.
7). Malaikat Nakir
peran utamanya sama dengan malaikat munkar.
8). Malaikat Israfil
peran utamanya meniup sangkakala atau terompet pada hari akhir.
9). Malaikat Ridwan
peran utamanya menjaga surga.
10).Malaikat Malik
peran utamanya menjaga neraka.
b) Manusia
Manusia ialah makhluk paling tepat yang pernah diciptakan oleh Tuhan SWT. Kesempurnaan yang diiliki oleh insan merupakan suatu konsekuensi fungsi dan peran mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Al-qur’an meneramgkan bahwa insan berasal dari tanah I dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti: turab, thien, shal- shaldan sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa insan diciptakan dari bermacam-macam unsur kimiawiyang terdapat dari tanah. Mansia sebagai makhluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah bisa menempatkan dirinya sesuai hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga dan pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah.
c) Jin
Jin ialah makhluk Tuhan SWT yang diciptakan dari nar (Api yang panas). Jin diciptakan Tuhan untuk beribadah kepada Allah, tetapi ada Jin yang taat dan ada pula yang ingkar.
d) Iblis/setan
Iblis dicptakan dari api. Iblis atau setan diciptakan sebenarnya untuk taat kepada Allah, tetapi mereka ingkar, sombong, dan durhaka kepada Allah.

2.sifatnya
a) sifat-sifat malaikat
1) malaikat tidak memiiki nafsu.
2) malaikat selalu patuh terhadap setiap perintah Tuhan SWT.
3) malaikat tidak mungkin memiliki dosa.
4) malaikat selalu bertasbih kepada Tuhan SWT.
5) malaikat tidak memilik sifat sombong.
6) malaikat tidak memiliki jenis kelamin.
7) malaikat tidak makan dan minum.
8) malaikat tidak pernah berbohong.
9) malaikat tidak memiliki ayah maupun ibu.
10) malikat selalu memintakan ampun orang yang beriman.
11) malaikat selalu bahagia dan mendoakan orang yang memperoleh lailatul Qadar.
sifat-sifat manusia
1) insan memiliki nafsu.
2) insan pasti memiliki dosa.
3) insan memiliki sifat sombong.
4) insan memiliki jenis kelamin.
5) insan tidak ada yang sempurna.
6) insan memerlukn makan dan minum.
7) insan memiliki ayah dan ibu.
dll
c)sifat-sifat jin
1) jin ada yang patuh kepada Allah, ada pula yang ingkar pada-Nya.
2) jin memiliki nafsu
. 3) jin ada yang sombong.

d) sifat- sifat Iblis/setan
Iblis atau setan memiliki sifat sombong, ingkar, dan selalu menentang atau durhaka kepada Tuhan serta senantiasa menyesatkan umat insan biar masuk neraka bersama mereka




62- Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya kalau Engkau memberi tangguh kepadaku hingga hari kiamat, niscaya benar-benar akan saya sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.63- Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam ialah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. 64-  Dan hasunglah siapa yang kau sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan bawah umur dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. ( Israak 62-64)
Mahluk Jin
Jin ialah mahluk Ruh yang dijadikan Tuhan dari api . Iblis ialah salah satu dari golongan Jin ini, sebagaimana dijelaskan Tuhan dalam surat Kahfi ayat 50
50- Dan (ingatlah) saat Kami berfirman kepada para malaikat:  “Sujudlah kau kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia ialah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kau mengambil ia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka ialah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim. (Kahfi 50)
Dalam kehidupan sehari hari kita bercampur gaul dengan mahluk Jin ini tanpa kita sadari, alasannya ialah kita tidak bisa melihat mereka dengan kasat mata. Jin juga berbangsa dan bergolongan  menyerupai manusia, diantara mereka ada yang baik , soleh dan ada pula yang jahat dan kufur pada Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam surat Jin ayat  11
11- Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Jin 11)
Biasanya Jin membentuk koloni dan menetap ditempat yang tidak dihuni insan menyerupai Rimba belantara, lautan, Gurun pasir, pulau kosong, rumah atu bangunan kosong, sungai, pantai yang sunyi, Gua dan lubang ditanah, Pohon besar dan lain sebagainya. Diantara Jin ini ada juga yang tinggal bersama insan di kota, perumahan , pasar dan lain sebagainya.
Kadang kala terjadi juga keributan dan perseteruan antara golongan Jin dan insan alasannya ialah sesuatu dan lain hal. Ada sekelompok Jin yang tidak senang alasannya ialah kawasan tinggal mereka yang berupa pohon besar atau bangunan renta dibongkar  oleh manusia. Kelompok Jin yang habitatnya terganggu akan menyerang dan merasuk kedalam badan insan membuat keributan berupa kesurupan masal disekolah, pabrik atau kawasan umum lainnya.
Diantara insan ada juga yang berkongsi dan minta pertolongan pada Jin  untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mendapat kekayaan, menyerang atau menyakiti orang yang tidak disenangi, melaksanakan sihir, santet, tenung dan lain sebagainya.
6-  Dan bekerjsama ada beberapa orang laki-laki di antara insan meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Jin 6)
Gangguan Jin pada insan ada yang dilakukan alasannya ialah permintaan seseorang , ada pula yang dilakukan alasannya ialah merasa habitatnya terganggu, alasannya ialah itu Rasulullah melarang umat Islam untuk membuang air kecil dilubang dan kawasan yang mungkin didiami Jin.
Banyak orang yang meyakini bahwa jin bisa melaksanakan perbuatan luar biasa yang tidak bisa dilakukan manusia. Hal tersebut menggoda sekelompok orang untuk bekerja sama dan minta sumbangan Jin untuk melaksanakan maksud dan tujuannya. Dizaman dahulu Nabi Sulaiman memanfaatkan Jin untuk mengerjakan pekerjaan berat menyerupai membangun gedung, menyelam mengambil mutiara dan komplemen dari dalam laut. Namun sebenarnya orang yang bertakwa  memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari Jin ini sebagaimana dikisahkan  dalam surat  An Naml 38-40
38- Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kau sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.39- Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kau berdiri dari kawasan dudukmu; sesungguhnya saya benar-benar besar lengan berkuasa untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.40- Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari  Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba saya apakah saya bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. ( An Naml 38-40)
Jin  Ifrit mengatakan bahwa ia bisa membawa singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina sebelum nabi Sulaiman berdiri dari duduknya, namun seorang yang mendapat Ilmu dari Tuhan telah mendahuluinya dengan memindahkan singgasana itu hanya dalam sekejap mata saja. Ini mengambarkan bahwa Tuhan memberi kemampuan yang lebih besar kepada orang yang bertakwa kepadaNya. Pada kenyataannya seluruh Jin  dimasa itu juga tunduk dalam kekuasaan nabi sulaiman sebagai raja dimasa itu.
Kehidup Jin sama menyerupai insan berbangsa, suku, kelompok dan golongan. Jin mempunyai kewajiban sama menyerupai manusia, mereka juga akan diminta pertanggungan jawab atas perbuatan mereka kelak diakhirat. Jin yang taat patuh pada Tuhan akan masuk kedalam syurga sedangkan Jin yang membangkang akan dimasukan kedalam Neraka jahanam. Al Qur’an menjelaskan ini dalam beberapa ayat sebagai berikut:
130- Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kau sendiri, yang memberikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka ialah orang-orang yang kafir.(Al An Aam 130)
179- Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai indera pendengaran (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 179)
56- Dan Aku tidak menciptakan jin dan insan melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(Adz Dzariyat 56)
56- Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh insan sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.                   (Ar Rahman 56)
Diantara Jin juga ada yang mempelajari Qur’an dan memberikan dakwah bagi kalangan mereka, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ahqaf 29.
29- Dan (ingatlah) saat Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kau (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al Ahqaf 29)


Hikmah sakit menurut ISLAM




Apa pengertian sakit menurut islam? Dalam hadist Thabrani dinyatakan bahwa “Seorang mukmin yang sakit, ia tidak mendapatkan pahala dari sakitnya, namun diampuni dosa-dosanya”. Ini berarti bahwa sakit pada insan merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah. Lalu, Apa yang harus kita lakukan dikala sakit? Kita harus mengeluhkan sakit kepada Yang Mahakuasa dan tulus menerimanya. Di samping itu jangan lupa berobat kapada ahlinya.

Nabi menjelaskan bahwa ada dua macam penyakit sesuai dengan keadaan insan yang terdiri dari badan jasad dan badan rohani. Untuk obat rohaniah yaitu membaca AL Qur’an dan untuk sakit fisik yaitu materi, diantaranya yaitu madu.Dalam salah satu hadis riwayat Wailah bin Al Asqa’ disebutkan bahwa dikala seorang teman mengeluh sakit kerongkongan kepada Rasulullah, maka dia bersabda : “Bacalah Al-Qur’an dan minumlah madu, karena membaca Al-Qur’an merupakan obat untuk penyakit yang berada di dalam dada dan madu yaitu obat untuk tiap penyakit”.


Sebagian besar insan pasti sudah mencicipi sakit. Penerimaan dikala sakit tentunya berbeda antara satu orang dengan yang lain. Ada orang yang sakit flu atau batuk saja merasa mendapatkan petaka yang besar. Ada pula orang mengidap kanker atau tumor ganas, tetapi merasa lapang, mendapatkan sakitnya dengan tabah karena dia yakin bahwa semua penyakit datang dari Yang Mahakuasa dan pasti ada obatnya.

“Obatilah orang-orang sakit di antaramu dengan sedekah” (HR. Baihaqi. Hadits mi dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, apakah itu sakit ringan ataupun sakit berat. Namun, baik ringan maupun berat, setiap orang berbeda dalam menyikapinya. Bagi sebagian orang, sakit ringan mampu dirasakan begitu menyiksa sehingga terlihat lebih berat dari semestinya. Akan tetapi, bagi sebagian lagi, sakit berat mampu dirasakan ringan jikalau hati menerimanya dengan ikhlas. Saat Yang Mahakuasa menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Yang Mahakuasa subhanahu wa ta’ala melaksanakan sesuatu tanpa karena yang mendahuluinya atau tanpa nasihat di balik semua itu. Yang Mahakuasa pasti menyimpan nasihat di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Yang Mahakuasa subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita hingga mengutuk taqdir. Na’udzu billah…
Secara umum, kondisi sakit mempunyai dua sisi rasa. Namun, yang kerap kita rasakan hanya salah satu sisinya, yakni penderitaan. Sisi lain berapa hikmah dan kenikmatan di balik sakit sering kali kita lupakan. Padahal, jikalau kita mau merenungkannya, banyak hikmah yang dapat dipetik dari sakit yang diderita.
Beberapa hikmah itu yaitu sebagai berikut,
Pertama, secara medis sakit merupakan suatu peringatan (warning) mengenai tingkat kekuatan badan kita. Jika badan kita mengalami satu kondisi, kemudian berakibat sakit, hal itu merupakan peringatan biar kita menghindari kondisi yang sama yang dapat menimbulkan sakit tersebut. Sakit juga memberi kesempatan kepada kita untuk beristirahat dan berkonsultasi dengan dokter sehingga penyakit yang ada tidak menjadi lebih parah dan sulit diobati. Tak jarang, sakit yang dialami mencegah seseorang biar tidak terkena penyakit yang lebih berat lagi.
Kedua, sakit dapat menjadi penggugur dosa. Penyakit yang diderita seorang hamba menjadi karena diampuninya dosa yang telah dilakukan, termasuk dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah SAW. bersabda,
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersama dosa-dosanya, menyerupai pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Cobaan itu akan selau menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Yang Mahakuasa tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, orang yang sakit akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah SAW bersabda,
“Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan.” (HR. Muslim) Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  pernah berkata, “Tidak ada penyakit yang menimpaku yang lebih saya sukai daripada demam. Karena demam merasuki seluruh organ tubuhku. Sementara Yang Mahakuasa akan menunjukkan pahala pada setiap organ badan yang terkena demam.”

Seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ’alayhi wasallam, ia berkata : ”Saya mengidap penyakit epilepsi dan apabila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Yang Mahakuasa untuk diriku”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan jannah. Tapi kalau engkau mau, saya akan mendoakan biar engkau sembuh”. Wanita itu berkata : ”Aku bersabar saja”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, sakit dapat menjadi jalan biar kita selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit biasanya orang merasa benar-benar lemah, tidak berdaya, sehingga ia akan bersungguh-sungguh memohon bantuan kepada Allah SWT. Zat yang mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang menuntunnya untuk bertobat.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jikalau sekiranya Yang Mahakuasa mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan menunjukkan cobaan kepada mereka”. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi).
Kelima, sakit mampu menjadi jalan kita untuk membersihkan penyakit batin. Pendapat Ibnu Qayyim, “Kalau insan itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi bergairah dan jiwanya beku. Oleh karena itu, musibah dalam bentuk apa pun adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya, akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan, pahalanya pun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha.“
Keenam, sakit mendorong kita untuk menjalani hidup lebih sehat, baik sehat secara jasmani maupun rohani. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru dikala sakit. Begitu banyaknikmat Allah yang selama ini lalai ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh nikmat.
Ketujuh, secara sosial sakit mengajarkan kepada kita bagaimana mencicipi penderitaan orang lain, menyerupai halnya puasa yang mendidik kita biar mengetahui bagaimana pedihnya rasa lapar dan dahaga yang dialami kaum papa. Rasa sakit harusnya melahirkan kepekaan sosial yang lebih tinggi.
Kapan rasa sakit mampu berubah menjadi nikmat dan karunia? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim agar sakit yang diderita menjadi karunia dan memiliki hikmah yang sangat tinggi.

 wallahua'lam..




Himpitan ekonomi dan kesulitan hidup terutama di kota-kota besar telah bisa menghilangkan nalar sehat manusia. Sikap putus asa dan rasa malas namun memiliki mimpi yang tinggi disikapi dengan menempuh jalan irasional yang bertentangan dengan akidah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh para dukun yang berkedok ustadz untuk mengeruk keuntungan langsung meskipun harus menjerumuskan orang lain. Praktek perdukunan seakan sudah mendapat pengakuan dari maysrakat, alasannya yaitu penyesatan kepercayaan secara terang-terangan di media masa ini tidak mendapat reaksi penolakan dari masyarakat Indonesia yang notabenenya dominan muslim. Janji-janji muluk para antek-antek iblis ini telah bisa menina bobokan dan menggelincirkan mereka yang lemah dalam pemahaman agama. Lalu bagaimana bekerjsama Islam memandang praktek perdukunan ini ?.
Dukun atau yang dalam bahasa arab dinamakan  memiliki pengertian orang yang mengetahui hal-hal gaib ( Mu’jam Wasith, 2/803). Dalam Syarh Shahih Muslim (5/22) Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan  (kahin/’arraf) adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui peristiwa yang akan terjadi, rahasia-rahasia gaib, dan eksistensi benda-benda yang hilang atau dicuri. Maka siapa saja yang kriterianya ibarat tadi, apapun lebelnya dan jabatannya, ia termasuk dukun  yang dilaknat agama Islam. Islam telah memerangi perdukunan karena ia akan menumpulkan nalar pikiran manusia. Jika terjadi sesuatu, selalu dikaitkan dengan sesuatu yang supranatural, walaupun hanya dengan terkaan-terkaan tanpa ada dasarnya. Memang unsur yang utama dalam hal ini yaitu percaya dan tidak percaya. Jika kau ingin masuk perdukunan, hilangkanlah nalar sehatmu. Lalu kau akan menjadi abnormal tanpa kamu  sadari.
Artinya seorang dukun  akan selalu mengklaim bahwa dirinya mengetahui hal-hal yang sifatnya ghaib. Padahal Alloh Swt berfirman dalam Al Qur’an :
(dia yaitu Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak menyampaikan kepada seorangpun perihal yang ghaib itu.kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
Ayat ini mengindikasikan bahwa hanya Alloh lah yang mengetahui perkara ghaib, serta rasul-rasulNya apabila dikehendaki olehNya. Sebab Nabi Saw sendiri saat ada seorang jariyah bernyanyi dengan berkata :
عندي نبي بعلم ما في غد
Disisi kami ada Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok. Sontak Nabi bersabda : tinggalkan apa yang kalian ucapkan ini sesungguhnya tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok ( Ithaf Saddatil Muttaqin, 5/ 120).
Dukun dengan segala informasinya yang bersifat ghaib yaitu wakil iblis dan ia telah membuatkan kebohongan. Ia menerima informasi ghaib tersebut dari Jin yang mencuri dengar info langit dan menyempaikan kepadanya dengan disertai seratus kebohongan ( Riyadhush sholihin, 630).
Oleh alasannya yaitu itu apabila kita menerima suatu problem atau musibah, hendaklah kita mendekatkan diri kita kepada Alloh dengan memperbanyak sholat bukan lari ke dukun. Mendatangi dukun yaitu dosa besar dan menimbulkan shalat tidak diterima selama empat puluh hari. Jika membenarkannya, maka Islam telah menganggap hal ini sebagai bentuk kekafiran. Adapun mengenai pelaku perdukunan, banyak ulama telah menghukuminya dengan kafir dan sebagian ulama lagi menghukuminya  dengan dosa besar saja. Dalam riwayat lain bahwa mendatangi dukun dan bertanya perihal sesuatu hal menimbulkan taubatnya tidak diterima selama 40 hari,sebagaimana sabda Nabi :
Siapapun yang mendatangi dukun dan menanyakan perihal suatu hal maka dia tidak akan diterima taubatnya selama 40 hari, sedang jikalau ia percaya terhadap apa yang diucapkannya maka dia telah kafir ( HR. Thabrani )
Sedemikian dahsyatnya bahaya Rasulullah terhadap praktek perdukunan ini, karena ia dengan pengetahuan yang diberikan oleh Alloh menyadari bahwa perdukunan dapat merusak tatanan kehidupan, mulai dari tatanan dalam keluarga hingga tatanan kehidupan berbangsa. Sebab orang yang terjerumus dalam perdukunan akan cenderung berfikir mistis dan irasional.
Wallahua’lam.


Kelebihan Meniggal Dunia Hari Jumaat



Diriwayatkan oleh Imam At-Tarmizi didalam sunan-nya hadis daripada Abdullah bin Amru, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tiada seorang pun daripada kalangan orang muslim yang meninggal dunia pada hari jumaaat atau pada malam jumaat melainkan dia dipelihara oleh Tuhan SWT dari pada azab kubur.”

Pandangan ulama’ berkenaan taraf hadis :
Berkata Abu Isa : Hadis ini dho’if (gharib) dan sanadnya (rantaian perawinya) tidak bersambung. Imam Ibnu Hajar Al-Athqolani pula berkata bahawa hadis ini daripada kategori hadis dho’if.
Secara keseluruhan, kebanyakan ulama’ hadis berpendapat bahawa hadis ini ialah hadis dho’if (lemah).Maka hadis dho’if tidak boleh dijadikan sandaran dalam perkara yang berkaitan dengan aqidah (kerana azab kubur merupakan perkara ghaib yang wajib diimani dan merupakan sebahagian dari pegangan aqidah umat islam).

Walaupun hadis dhoif masih lagi didalam kategori hadis yang diterima, namun antara syarat untuk bederma dengannya ialah tidak meyakini sepenuhnya ia datang dari Nabi SAW. Dalam erti kata yang lain, kita tidak boleh meyakini 100% bahawa orang yang meninggal dunia pada hari Jumaat atau pada malam Jumaat akan dipelihara oleh azab kubur merujuk kepada taraf hadis tersebut.
Kerana bersama-sama apa yang membantu seseorang muslim itu didalam kubur nanti ialah amalannya, bahkan ramai daripada kalangan Sahabat -radhiallahu ‘anhum- yang meninggal dunia pada hari selain daripada hari Jumaat. Saidina Abu Bakar r.a sendiri meninggal dunia pada hari selasa menurut satu riwayat akan tetapi dia sendiri telah dijanjikan syurga baginya.
Sebahagian jago ilmu pula manjadikannya sebagai tanda-tanda husnul khatimah bersandarkan kepada hadis ini.

Maka seadil-adil pegangan dalam perkara ini ialah sekiranya muncul tanda-tanda ibarat ini maka sebagai seorang muslim kita tidak boleh mengatakan secara pasti bahawa si mati dijauhkan dari azab kubur, akan tetapi tidak salah untuk merasa damai dengan pemergiannya pada hari yang mulia ini,
Begitu juga sebaliknya, kita tidak boleh berkeyakinan bahawa kalau tidak muncul tanda-tanda husnul khatimah (meninggal dunia pada hari Jumaat atau malam Jumaat) pada si mati, maka secara pasti dia bukan daripada kalangan orang-orang soleh dan dikenakan azab kubur kerana perkara ini tergolong dalam perkara-perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Tuhan SWT sahaja.
Firman Tuhan SWT di dalam surah Al-Luqman ayat ke 24 :

“Sesungguhnya hanya disisi Tuhan ilmu wacana hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam Rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya esok, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dibumi mana dia akan mati.Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Sesungguhnya insan tidak mengetahui dimana dan bila dia akan mati kerana ilmu wacana maut milik Tuhan SWT secara mutlak.Oleh karena itu,yang lebih penting bagi seorang hamba itu ialah bederma dengan amal yang soleh serta mencari keredhaan-Nya dalam setiap perkara yang dilakukan.

Wallahua’lam.


Rahasia Hidup Bahagia Bersama Al-Qur’an

Al-Quran ialah kalamullah, firman-firman Tuhan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui ruhul amin, malaikat Jibril yang mulia ‘alaihissalam. Di dalam Al-Qur’an tersimpan resep hidup bahagia. Di Al-Quran terdapat obat lahir dan obat batin kita. Yaitu dengan membacanya, menghafalnya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa membaca satu karakter dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu senilai dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ALIF LAM MIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAM satu huruf, dan MIM satu huruf.” (HR. At-Tirmizi no. 2910 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Takhrij Ath-Thahawiah no. 158)
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang andal membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di darul abadi bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan ia sulit dalam membacanya, maka ia menerima dua pahala.” (HR. Muslim no. 798)



Hikmah puasa pada hari arafah 9 dzulhijjah


Hari Arafah 9 Dzulhijjah yaitu hari yang mulia dikala di mana datang pengampunan dosa dan pembebasan diri dari siksa neraka. Pada hari tersebut disyari’atkan amalan yang mulia yaitu puasa. Puasa ini disunnahkan bagi yang tidak berhaji.
Puasa Arafah yaitu amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji. Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan dikala itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa alasannya yaitu adanya hadits dari Ummul Fadhl.”
Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melakukan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”
Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah.
عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah perihal puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika dia sedang berhenti di atas unta beliau, maka dia meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).
عَنْ مَيْمُونَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada dia satu wadah (berisi susu) dan dia dalam keadaan bangkit (wukuf), lantas dia minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).
Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud yaitu dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51) Sedangkan jikalau melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar mampu terampuni alasannya yaitu hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).
Setelah kita mengetahui hal ini, tinggal yang penting prakteknya. Juga jikalau risalah sederhana ini mampu disampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala dikarenakan telah mengajak orang lain berbuat baik. “Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta amat berharga di masa silam, pen).” (Muttafaqun ‘alaih). “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan menerima pahala ibarat pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).
Semoga kita dapat melakukan puasa dzulhijjah dan diterima oleh allah swt amin ya robballalamin...


KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

Segala puji bagi Tuhan semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.
روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada ketika itu lebih dicintai oleh Tuhan daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.
وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Tuhan untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada ketika itu tahlil, takbir dan tahmid”.
MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN
1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini yaitu amal yang paling utama, berdasarkan banyak sekali hadits shahih yang menyampaikan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Artinya :
 “Dari umrah ke umrah yaitu tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur kesudahannya tiada lain yaitu Surga”.
2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa yaitu jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Tuhan untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :
Artinya :
 “Puasa ini yaitu untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata alasannya yaitu Aku”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Artinya:
 “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Tuhan melainkan Tuhan pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .
“Berpuasa pada hari Arafah alasannya yaitu mengharap pahala dari Tuhan melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Tuhan Ta’ala.
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“…. dan supaya mereka menyebut nama Tuhan pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].
Para hebat tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.
فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu
“Allah Maha Besar, Tuhan Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
Dianjurkan untuk mengeraskan bunyi dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kau mengagungkan Tuhan atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu bunyi (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah yaitu masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali alasannya yaitu tidak mengerti sehingga ia harus berguru dengan mengikuti orang lain.
Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.
4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan menerima ampunan dan rahmat. Maksiat yaitu penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan yaitu penyebab akrab dan cinta kasih Tuhan kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, gotong royong Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي
“Sesungguhnya Tuhan itu cemburu, dan kecemburuan Tuhan itu manakala seorang hamba melaksanakan apa yang diharamkan Tuhan terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].
5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat mirip : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Tuhan daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam hingga shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap final shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari semenjak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai semenjak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
Hal ini yaitu sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Tuhan Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما
“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Tuhan dan bertakbir, serta meletakkan kaki dia di sisi badan domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].
8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره
“Jika kau melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kau ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.
Dalam riwayat lain :
فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي
“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
Hal ini, mungkin, untuk mirip orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.
وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه
“….. dan jangan kau mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban hingga di kawasan penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali kalau masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.
9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami pesan tersirat disyariatkannya hari raya ini. Hari ini yaitu hari bersyukur dan berinfak kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran mirip ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menjadikan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.
10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melaksanakan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Tuhan biar mendapat ridha-Nya.
Semoga Tuhan melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.




MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget