Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post

Kisah Tentang Keajaiban Istighfar yang Menggetarkan

Lafadz Istighfar merupakan salah satu dzikir untuk memohon ampun kepada Allah. Biasanya setelah salat, umat muslim tidak akan melewatkan untuk mengucapkan kalimat Astagfirullah Hal Adzim tersebut.

Harapannya, Istighfar bisa menghapuskan dosa-dosa yang diperbuat. Ternyata, tidak hanya untuk memohon ampunan, kalimat dzikir yang sering diucapkan Nabi Muhammad ini juga memiliki banyak keutamaan lain kalau diamalkan.


Kisah-kisah berikut menceritakan bagaimana ajaibnya amalan Istighfar dalam kehidupan. Mulai dari kisah pedagang roti yang ingin bertemu dengan Imam Ahmad, hingga nenek bau tanah renta yang mengharapkan pertolongan dokter untuk menyembuhkan cucunya. Bagaimana lengkapnya? Berikut ulasannya.

1. Kisah Ajaib Pedagang Roti
Imam Ahmad rahimahullah merupakan salah satu ulama madzhab 4 yang namanya mahsyur hingga dikala ini. Pada zamannya, Ia begitu dielu-elukan oleh banyak orang. Dalam sebuah kisah yang ditulis Imam al Jauzi rahimahullah dalam buku wacana Imam Ahmad dikisahkan bahwa dikala sang Imam memasuki usia senja dia begitu ingin pergi ke Negeri Syam.

Namun anehnya Imam Ahmad sama sekali tidak memiliki tujuan yang terperinci kenapa Ia ingin pergi ke kawasan itu. Padahal Ia harus menempuh perjalanan jauh dari kediamannya di Baghdad menuju Syam. Sesampainya di Syam, Imam Ahmad berhenti untuk menunaikan salat dzuhur. Tidak ada yang mengenalinya, mengingat zaman dahulu teknologi tidak secanggih dikala ini.

Ia menunggu di masjid tersebut hingga menjelang salat Ashar. Setelah Ashar, sang Imam membaca Quran untuk menunggu waktu Magrib dan Isya. Setelah habis malam, Imam Ahmad kemudian ingin tidur dan beristirahat di masjid tersebut.

Namun penjaga masjid tidak mengizinkan Ia tidur disana.

“Wahai syekh, anda tidak boleh tidur disini, ini peraturan silahkan pergi,” kata penjaga

Namun Imam Ahmad menolak, “Saya musafir, saya ingin istirahat disini” jawab sang Imam.

Namun sang penjaga tetap menolak dan memintanya untuk keluar lalu kemudian mengunci pintu masjid. Setelah penjaga tersebut pergi, Imam Ahmad kembali beristirahat di pelataran masjid.

Tapi, sang penjaga kembali datang dan lagi-lagi mengusirnya hingga mendorongnya menuju ke jalanan. Lalu ada tukang roti yang rumahnya tidak jauh dari masjid melihat kondisi tersebut. Tukang Roti tersebut memanggilnya

“Hai syekh, kemarilah beristirahatlah di toko ku, ”

Kemudian Iman Ahmad masuk ke toko roti tersebut. “Rumahku tidak jauh dari sini, ini toko roti ku, dibelakang sana, ada ruangan  untuk beristirahat. Beristirahatlah malam ini dan besok pagi engkau bisa melanjutkan perjalanan lagi”

Setelah masuk ke toko tersebut, Imam Ahmad kemudian memperhatikan acara sang penjual roti. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian dia dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus semenjak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.

Imam Ahmad yang kagum lalu bertanya “Sejak kapan Anda selalu beristighfar tanpa henti menyerupai ini?”

Ia menjawab, “Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.”

Lalu Imam Ahmad bertanya lagi “Lantas apa hasilnya”

“Ya, Tuhan mengabulkan semua undangan ku” Jawabnya.

“Lalu apa permintaanmu yang belum dikabulkan Allah?” tanya Sang Imam.

Si lelaki saleh ini pun melanjutkan jawabannya dan berkata, “Sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Tuhan untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau yaitu Imam Ahmad bin Hanbal!”

“Allahu Akbar! karena  Istighfarmu lah Tuhan SWT mendatangkan saya datang ke kota mu ini tanpa alasan yang jelas, alasannya yaitu Istighfarmu lah Marbot Masjid melarang saya tidur di Masjid, alasannya yaitu Istighfarmulah engkau menunjukkan saya istirahat ditempatmu. Saya lah Ahmad bin Hanbal…

Masya Allah, Tuhan SWT mendatangkan Imam Ahmad ke rumahnya alasannya yaitu Istighfarnya.

2. Ajaibnya Istighfar Seorang Ibu
Kisah selanjutnya belum lama terjadi yang bercerita wacana seorang ibu yang berada di tinggal wilayah Khasmir. Ibu ini memiliki anak perempuan yang memiliki penyakit tulang. Si Ibu selalu berdoa kepada Tuhan SWT sambil beristighfar. Pasalnya dia sudah membawa anaknya ke dokter di sekitar wilayahnya namun tidak mendapatkan hasil.

Mereka hanya bilang bahwa hanya ada satu dokter yang bisa menangani penyakit ini. Dokter tersebut seorang muslim shli seorang jago tulang, namun sayangnya Ia tinggal sangat jauh yakni di India.

Sang Ibu mengetahui kalau dirinya tidak memiliki kemampuan untuk pergi ke India membeli tiket pesawat, makan selama di sana dan biaya berobatnya. Maka ibu ini hanya memperbanyak doa dan Istighfar.

Ringkas cerita, dokter yang menjadi target keluar dari India untuk mengisi sebuah program dan melewati wilayah Khasmir.

Tiba-tiba pilotnya bilang tidak bisa terbang alasannya yaitu ada hujan tornado dan harus turun di wilayah ini. Setelah turun tiba-tiba berkata “saya harus menghadiri seminar, berapa jauh lagi wilayah ini dari kawasan tujuan”

Ternyata waktu yang diperlukan untuk hingga sekitar empat jam, sehingga sang dokter memilih untuk menyewa kendaraan beroda empat alasannya yaitu waktu untuk seminar sekitar enam jam lagi.

Akhirnya ia meninggalkan Bandara untuk menuju lokasi seminar. Namun sayang, gres sebentar meninggalkan bandar hujan semakin lebat sehingga supir tidak bisa melanjutkan perjalanan. Karena kalau dipaksakan maka mereka akan menghadapi badai.

Akhirnya dokter menyetujui untuk beristirahat dengan mendatangi rumah penduduk setempat. Rumah tersebut tampak bau tanah yang terbuat dari kayu yang reot. Lalu dokternya mengetuk pintu, mengucapkan salam dan meminta pemberian semoga sang pemilik rumah menyampaikan tumpangan.

Lalu sang dokter masuk dan si ibu mengambilkan minuman. Ketika sang dokter berada di ruang tamu, anak si ibu ini menangis kesakitan dikamar. Lalu dokter bertanya

“Kenapa anak ibu menangis” tanya dokter

“Sakit tulang” jawab sang ibu

“Kenapa tidak dibawa ke dokter?”

”Sudah, tapi kata dokter mereka tidak bisa menyembuhkan. Yang bisa menyembuhkan hanya dokter yang berjulukan si Fulan,”

Dokternya lalu berkata segala puji bagi Tuhan yang mendatangkan saya ke rumah ibu. Saya ini dokter yang ibu maksud. Tuhan datangkan ke rumahnya justru hanya dengan Istighfar, tanpa biaya dan gratis. Masya Allah.

3. Berkah Merutinkan Istighfar Selamat dari Fitnah 
Kisah selanjutnya datang dari dokter seorang jago jantung yang berjulukan Dr. Khalid Jubai. Ia mengalami keajaiban Istighfar dalam hidupnya. Pada suatu ketika, Dr. Khalid Jubai mendapat fitnah dari rekan sekantornya. Jika fitnah tersebut berhasil dibuktikan, maka sang dokter ternacam dipensiunkan dini dari rumah sakit.

Hal ini membuatnya gusar hingga begitu tersiksa batin.  Meski demikian, ia berjuang untuk memulihkan nama baik. Tapi upayanya tidak cukup untuk bisa melawan rekan sekantornya yang menebar fitnah. Kondisi ini sempat membuatnya putus asa hingga beberapa saat.

Namun keajaiban mulai terjadi ketika Ia mendatangi masjid. Setelah salat, ia teringat sesuatu yang mengubah pemikirannya.  Selama ini semua orang yang sakit datang kepadaku dengan impian besar semoga saya mengobati mereka, tapi mengapa sekarang saya sendiri justru tidak mampu,” pikir beliau.

Selanjutnya tiba-tiba dia teringat keutamaan istighfar, dan mencicipi adanya dorongan yang sangat berpengaruh untuk melakukannya. Maka sepanjang perjalanan pulang beliaupun mulai mengulang-ulang bacaan istighfar ini:

“Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih”

(Aku bersitighfar memohon ampun kepada Allah, Yang tiada dewa yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan saya bertobat kepada-Nya) HR. Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud dan At-Tirmidzi dari Bilal bin Yasar bin Zaid.

Sesampainya di rumah, ada perasaan lega yang begitu dasyat. Ia mengalami semacam pengalaman spiritual yang merasuk ke dalam hati beliau. Sehingga beliaupun tak henti membaca lafadz istighfar tersebut, setiap dikala dan dalam segala kondisi.

Singkat cerita, hingga pada suatu waktu, semua tuduhan yang menjadi rumor buruk terhadapnya ternyata tidak terbukti. Tentu saja dia terkejut sekaligus bersyukur mengetahui kabar ini. Dengan begitu dia menjadi bebas dari sanksi pemberhentian kerja dan namanya pun menjadi bersih kembali.

Tak cukup hingga disitu, akhir fitnah yang dialamatkan kepada dia tidaklah terbukti, 5 koleganya yang melaporkan dia itu pun turut mendapatkan konsekuensi atas tuduhan yang tidak berdasar tersebut, diantara mereka ada yang dimutasi dari kawasan dan posisi kerjanya semula, ada yang justru dipensiundinikan, ada yang mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada dia dan instansi terkait.

Maka dari itu hendaklah kita selalu ingat sabda Nabi SAW jikalau bersama istighfar ada fasilitas dari permasalahan yang mendera kita. Dan amalan pembuka pintu rezeki yang mujarab dari Al-Qur'an dan Hadist.
Subhanallah...

Semoga kita semua dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari..amin..

Larangan Mencela Penyakit Demam

Semua orang pasti sangat menginginkan jasmani dan rohaninya dalam keadaan sehat. Namun tetap saja, dalam kondisi tertentu insan tidak bisa mengelak dari penyakit tertentu. Kondisi tersebut membuat tubuh lemah dan lesu sehingga tidak bisa melaksanakan kegiatan atau ibadah.

Salah satu penyakit yang pasti pernah dialami oleh insan yakni demam. Kondisi tubuh yang panas membuat pengecap tidak enak menelan sesuatu. Alhasil, dalam beberapa waktu seseorang harus istirahat jikalau menderita sakit ini.




Meski semua rasa makanan pahit, tubuh panas sampai menggigil, namun insan tidak boleh mencela penyakit yang satu ini. Pasalnya ada keistimewaan  yang jarang diketahui dari penyakit demam. Bahkan Rasulullah SAW marah ketika ada orang yang mencela demam. Mengapa demikian?

Manusia memang sulit untuk berbaik sangka terhadap bencana alam yang diberikan Tuhan SWT kepadanya. Seperti misalnya ketika mengalami sakit demam. Memang kondisi ini membuat tubuh begitu tidak enak.

Suhu tubuh tinggi dan menjadikan rasa meriang, rasa makanan tidak enak, serta lemah dan lesu merupakan hal-hal yang dialami ketika mengalami sakit demam. Namun tidak dapat dipungkiri, jikalau insan pasti akan mendapatkan jatah penyakit ini.

“demam yakni adegan jatah seorang mukmin dari neraka” Dari Munad Ibnu Syihab dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari

Tidak jarang beberapa diantara kita begitu marah ketika mengalami sakit ini. Misalnya dengan pernyataan-pernyataan berikut ini.

“Kenapalah harus demam, lagi banyak kerjaan, sekarang jadinya tidak bisa apa-apa”

“Ya Tuhan gak enak sekali rasa tubuh ini, gak mau sakit ini lagi ya Allah, ”

Dan masih banyak lagi pernyataan yang diungkapkan ketika mengalami sakit demam. Mungkin hal ini menjadi salah satu ungkapan alasannya yakni sudah cukup stres mencicipi demam.

Namun jikalau kita bisa bersabar, sebetulnya ada begitu banyak kebaikan yang Tuhan berikan pada penyakit ini. Seperti kata Rasulullah SAW dalam hadist riwayat Muslim berikut ini.

Jabir ra. menginformasikan bahwa Nabi Muhammad SAW masuk ke rumah Ummu Saib atau Ummu Musyyab, lalu bertanya . “Mengapa engkau menggigil wahai Ummu Saib?”

“Sakit pnas, ya Rasulullah” Jawab Ummu Saib. Lalu katanya “Semoga Allag tidak memberkahinya”

“Janganlah engkau mencela penyakit demam,” cegah Rasul “Sebab sesungguhnya penyakit itu dapat menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tiupan api pande (tukang las) dapat menghilangkan karat-karat besi” (HR Muslim).

Berdasarkan pendapat ulama, hadist ini terang mengatakan bahwa demam yakni penggugur dosa. Sehingga sangat sombong sekali insan jikalau mencela penyakit ini. Namun demikian, kita tidak diharuskan pasrah begitu saja tanpa ikhtiar untuk berobat. Rasul juga  menunjukkan obat atau penawar ketika insan mengalami demam.

"Demam berasal dari kepanasan api neraka yang mendidih, maka padamkanlah ia dengan air". (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Jika sudah ditakdirkan sembuh, Tuhan pasti akan mengangkat penyakit tersebut serta mengangkat dosa-dosa kita. Secara medis, demam juga memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Dan telah terbukti secara ilmiah bahwa ketika demam kadar zat interferon meningkat dengan persentase yang besar. Sebagaimana terbukti pula bahwa zat yang diproduksi oleh sel darah putih ini dapat mematikan virus yang menyerang tubuh dan menjadikan tubuh lebih bisa untuk membentuk antibodi yang melindungi tubuh (dari penyakit).

Selain itu, telah terbukti bahwa zat interferon, yang keluar dalam umlah yang berlimpah selama demam tidak hanya membersihkan tubuh dari virus dan kuman saja, akan tetapi ia meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan (meningkatkan) kemampuannya untuk membasmi sel-sel kanker semenjak awal sebelum kemunculannya, yang pada jadinya hal tersebut melindungi tubuh dari munculnya (tumbuhnya) sel-sel kanker yang dapat menyebabkan penyakit kanker.

Semoga kita selalu berprasangka baik terhadap takdir Tuhan termasuk ketika diberi cobaan dengan penyakit demam.
Semoga bermanfaat untuk kita semua amin
Wallahua’lam...



Shalat Tahajud termasuk salat sunah yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. Banyak ulama berpendapat bahwa dasar pelaksanaan salat tahajud adalah 
Surat Al-isra’ Ayat 79

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kau sebagai suatu ibadah embel-embel bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kau ke kawasan yang Terpuji.”(Al-Isra : 79)

Ibnu Katsir dikala menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa ayat tersebut mengambarkan perintah Yang Mahakuasa kepada kaum muslimin untuk mengerjakan shalat malam yang dikerjakan rutin semoga mendapat derajat yang tinggi di hadapan Allah.


Tata Cara Shalat Tahajud


Adapun tata cara pelaksanaan shalat tahajjud yang dilaksanakan oleh Rasulullah, tergambar di dalam beberapa hadis berikut

Pertama, Hadis yang diriwayatkan oleh Qatadah. Ia menuturkan sebagai berikut,

“Rasulullah salat delapan rakaat, dia tidak duduk, kecuali pada rakaat kedelapan. Beliau duduk sambil berzikir kepada Allah, kemudia dia berdoa, lalu salam hingga kami dapat mendengar salamnya. Kemudian dia salat lagi dua rakaat sambil duduk, kemudian salam, lalu dia salat satu rakaat sehingga jumlahnya menjadi sebelas rakaat” (HR Abu Daud)

Hadis ini memperlihatkan bahwa Rasulullah saw menunaikan salat malam (Tahajjud) delapan rakaat sekaligus dengan sekali salam pada rakaat yang kedelapan dan Rasulullah saw duduk pada rakaat yang kedelapan dan diakhiri salam. Kemudian Rasulullah saw melanjutkan salat dua rakaat sambil duduk. Setelah salam, Rasulullah saw melaksanakan salat satu rakaat sehingga jumlahnya menjadi sebelas rakaat.

Kedua, Hadis riwayat Abdullah bin Abi Qais, yaitu tatkala ia bertanya kepada Aisyah perihal salat malam Rasulullah saw, Aisyah menjelaskan,

“Rasulullah saw salat witir empat rakaat dan tiga rakaat atau enam rakaat dan tiga rakaat atau delapan rakaat dan tiga rakaat atau sepuluh rakaat dan tiga rakaat. Rasulullah saw tidak pernah salat witir kurang dari tujuh rakaat dan tidak tidak pernah lebih dari tiga
Advertisement
belas rakaat” (HR Abu Daud)

Ketiga, Hadis riwayat Aisyah. Ia menuturkan,

“Rasulullah saw salat malam tiga belas rakaat, dia salat witir lima rakaat dengan tidak duduk dalam rakaat manapun, kecuali pada rakaat yang terakhir” (HR Bukhari dan Musllim)

Keempat, Hadis Abu Salamah yang mengatakan,

“Rasulullah saw salat tiga belas rakaat, dia salat delapan rakaat, kemudian salat witir satu rakaat, kemudian salat lagi dua rakaat sambil duduk. Jika dia hendak ruku’, dia berdiri dan ruku, kemudian dia salat lagi dua rakaat di antara azan dan iqamah salat subuh” (HR Bukhari dan Muslim)

Beberapa Hadis Aisyah,

“Ketika Rasulullah saw bertambah berat badannya alasannya yaitu sakit, dia mengerjakan salat witir itu tujuh rakaat, dia tidak duduk kecuali pada rakaat yang keenam (tasyahud awal) dan pada rakaat tang ketujuh (untuk tasyahud akhir) dan tidak salam, kecuali pada rakaat yang ketujuh. Kemudian dia salat lagi dua rakaat sambil duduk, maka jadilah sembilan rakaat” (HR Abu Daud)

“Maka dia telah berusia lanjut dan lemah, dia salat witir tujuh rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang keenam kemudian bangun dan tidak salam, kemudian dia salat lagi untuk rakaat yang ketujuh, kemudian salam. Lalu dia salat lagi dua rakaat sambil duduk” (HR Nasa’i)

“Dan dia salat sembilan rakaat tidak duduk, kecuali pada rakaat yang kedelapan, dia berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa, kemudian dia bangun tidak salam, kemudian dia berdiri untuk melaksanakan rakaat yang kesembilan. Kemudian dia duduk berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa, lalu salam hingga kami mendengar salamnya, kemudian dia salat dua rakaat sambil duduk sehingga semuanya menjadi sebelas rakaat” (HR Muslim)


Semoga kita dapat mengamalkannya amin..…


Hukum Memanjangkan Kuku dalam Islam

Kuku yang cantik dan terawat tentu menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Keberadaannya semakin mencuri perhatian dengan banyaknya bentuk perawatan yang mampu dilakukan.

Semakin panjang, kuku yang terawat semakin memperindah lentik ruas-ruas jari. Tidak heran, baik wanita maupun pria banyak yang memanjangkan kuku-kukunya. Tujuannya yakni untuk menunjang penampilan dan menambah rasa percaya diri.


Namun bagi Umat Islam, ada baiknya mencermati terlebih dahulu sebelum ikut memanjangkan kuku dan menghiasnya. Karena apapun hukum yang diterapkan, memiliki alasan tersendiri untuk diikuti. Lantas apa hukum memanjangkan kuku dalam Islam?
Agama Islam sangat memperhatikan kebersihan umatnya. Termasuk kuku pun, tidak luput dari perhatian agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini.  Ternyata memanjangkan kuku bertentangan dengan Agama Islam.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukum memanjangkan kuku yakni makruh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)

Dari hadist di atas dapat diketahui bahwa memotong kuku merupakan fatwa para nabi. Hal ini sesuai dengan fitrah insan yang dijelaskan dalam hadist di atas.

Sebagai bentuk penekanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan pernah memberi batas waktu kepada para sobat untuk memotong kuku mereka. Jika lebih dari waktu tersebut, menurut Imam Asy Syaukani dalam Nailul Author maka hukumnya menjadi haram. Hal ini berdasarkan hadist berikut:

Sahabat Anas bin Malik mengatakan, “Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, biar tidak tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.” (HR. Muslim 258).

Menurut Imam Nawawi kuku yang panjang berpotensi menjadi sarang penyakit. Tidak hanya itu, meski bersih, kuku juga berpotensi menghalangi air wudhu masuk ke sela-sela kuku sehingga wudhu menjadi tidak sempurna. Namun jikalau kuku pendek, potensi air wudhu mampu membersihkan bab jari akan semakin besar. Akan tetapi, semalas-malasnya orang, maksimal kukunya harus dipotong dalam 40 hari.

Semoga bermanfaat untuk kita semua amin..

Inilah Bahaya Duduk di Atas Kuburan
Kuburan menjadi kawasan pembaringan terakhir bagi insan yang meninggal dunia. Di sana, mayat akan memasuki fase alam barzah dan menunggu hari simpulan zaman tiba. Tidak ada yang tahu, bagaimana kondisi mayit ketika berada di sana.

Pada waktu tertentu, biasanya keluarga akan mengunjungi kuburan untuk berziarah.  Hal ini dilakukan untuk mengirimkan doa atau sekedar membersihkan kuburannya saja. Namun dalam pelaksanaan acara itu insan sering kali melaksanakan hal yang salah.



Salah satunya ialah menduduki atau melangkahi kuburan yang bukan milik keluarganya. Ternyata hal ini sangat dilarang oleh Rasulullah. Bahkan Rasul mengatakan bila bara api yang aben kulit masih lebih baik dibanding menduduki kuburan. Ingin tahu lengkapnya?

Makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Tidak butuh waktu lama, jasad tanpa nyawa ini harus dimakamkan di pembaringan terakhir mereka di kuburan. Tidak ada lagi sahabat di sana. Sahabat sejati pergi, bahkan keluarga pun tidak mau menemani. Bila waktu telah memanggil, maka sahabat sejati tinggal lah amal.

Berdasarkan pendapat Mayoritas Ulama, penampakan surga dan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur. Bagi mereka yang beriman dan bertakwa selama hidup, maka akan mencicipi nikmat kubur. Namun bila sebaliknya yang dilakukan, maka mereka mencicipi kubur layaknya di neraka.

Beruntung bila yang dirasakan oleh mayit ini ialah nikmat kubur. Namun begitu siksanya bagi mereka yang menerima azab. Mereka merasakannya siang dalam malam.  Seperti yang dijelaskan Tuhan dalam Alquran. Bagaimana laknatullah, Firaun disiksa oleh Tuhan pagi dan petang.

“Maka Tuhan memeliharanya dari kejahatan tipu muslihat mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS. Al-Mu’min [40]: 45-46).

Hal inilah yang mungkin juga dialami oleh saudara kita sesama muslim yang telah meninggal. Lalu kita dengan mudahnya ketika datang ke kuburan  mendudukinya atau bahkan melangkahinya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepadanya,” (Diriwayatkan Muslim).

Rasulullah juga bersabda, “Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api kemudian bara api tersebut aben pakaiannya dan mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan,” (Diriwayatkan Muslim).

Berdasarkan hadist di atas, lebih banyak didominasi ulama menyatakan bahwa hukum duduk  di atas kuburan ialah makruh. Tindakan ini dianggap sebagai sikap tidak hormat kepada si mayit. Sementara itu   Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibnu Syaraf Al-Nawawi menegaskan bahwa tidak hanya duduk diatas kuburan muslim yang dihukumi makruh begitu juga menginjaknya kecuali alasannya ialah adanya kebutuhan yang mendesak (hajat).

Misalnya alasannya ialah tidak mampu hingga pada kuburan yang dimaksud pada ketika melaksanakan ziarah kubur kecuali dengan melewati dan menginjak kuburan lain, maka hukumnya ialah boleh (tidak makruh) demikian juga duduk diatas kuburan yang diprediksi mayat yang ada didalam kuburan tersebut telah hancur dan tidak tersisa lagi, maka hukum duduk diatas kuburan yang semacam itu ialah boleh (tidak makruh).

Imam Nawawi juga menyatakan bahwa bermalam dikuburan ialah makruh alasannya ialah hal itu (bermalam dikuburan) dapat menimbulkan kegalauan. Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Ahmad Ibnu Salamah Al-Qulyubi juga menambahkan bahwa hukum buang air besar dan buang air kecil diatas kuburan orang muslim ialah haram.

Wallahu a’lam 

Inilah Wanita yang Doanya Mampu Tembus Langit Ketujuh

Kisah ini terjadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Salah seorang wanita dengan tingkat keimanan tinggi datang menemui Manusia kecintaan Yang Mahakuasa ini. Ia menghadapi satu kondisi yang mengharuskannya mendapatkan pencerahan.

Namun ternyata, kala itu Nabi belum bisa menjawab alasannya belum ada wahyu yang diturunkan Yang Mahakuasa terkait hal itu. Namun, ini tak lantas membuat si wanita menyerah, Ia berdoa dan memohon kepada Yang Mahakuasa biar memberi jalan keluar atas permasalahan hidupnya.


Ternyata doa ini pribadi dihijabah Allah. Seketika Nabi mendapatkan Surat Al-Mujadalah sehingga bisa menjawab permasalahan wanita tersebut. Siapa dia sebenarnya? Mengapa doanya dapat  menembus langit ke tujuh dengan demikian cepat?

Nama lengkap wanita ini ialah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Farah bin Tsa’labah Ghanam bin ‘Auf. Ia merupakan istri dari Aus bin Shamit bin Qais dan dari kesepakatan nikah mereka lahir seorang putra yang diberi nama Rabi’.

Kisah dikala doanya yang bisa menembus langit ini bermula ketika terjadi permasalahan antara dirinya dan suaminya. Dalam kondisi marah, sang suami kemudian mengeluarkan kalimat yang membuatnya merasa cemas dan perlu memperjelasnya kepada Nabi.

Kalimat yang dilontarkan suaminya tersebut ialah “Bagiku engkau ini menyerupai punggung ibuku”. Meski setelah itu suaminya berlalu pergi bersama sahabat-sahabatnya, namun tidak serta merta membuat Khaulah melupakan perkataan tersebut begitu saja.

Baginya perkataan tersebut menyerupai talak dari sang suami kepada dirinya. Sepulangnya dari berkumpul dari sahabatnya, sang suami kemudian menginginkan kekerabatan suami istri dengan Khaulah.

Namun, Khaulah menolak alasannya perasaannya yang begitu tidak bisa mendapatkan atas ucapan Aus sang suami. Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku alasannya engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Yang Mahakuasa dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum perihal peristiwa yang menimpa kita.”

Setelah peristiwa tersebut, Khaulah kemudian menemui Rasulullah SAW. Ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang Nabi. Ia berharap Nabi menunjukkan pencerahan terhadap apa yang sudah dialami. Namun, Ia harus kecewa, pasalnya pada masa itu, belum ada kejadian yang dihadapi umat dan gres Khaulah yang mengalaminya. Sehingga belum turun firman Yang Mahakuasa yang menjelaskan perihal hal  ini.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut … saya tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”

Ini artinya, kekerabatan mereka sudah tidak diperbolehkan lagi. Namun, hati kecil Khaulah pun masih bergejolak, mengingat jikalau Ia berpisah dengan sang suami, maka akan sulit baginya menghidupi diri dan anaknya Rabi’. Namun Rasulullah Shalalahu ‘alaihi wasallam tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya.”

Setelah peristiwa ini, wanita tersebut terus berdoa memohon kepada Yang Mahakuasa biar memberi petunjuk terkait permasalahannya. Kedua matanya meneteskan air mata dan perasaan menyesal. Tiada henti-hentinya Ia berdoa ini berdo’a yang kemudian dikabulkan Allah.

“Yaa Yang Mahakuasa sesungguhnya saya mengadu kepada-Mu perihal peristiwa yang menimpa diriku.”.

Ternyata doa ini dihijabah Allah. Rasulullah SAW seketika pingsan menyerupai biasa dikala mendapatkan wahyu. Kemudian setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sadar kembali, dia bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Yang Mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat Al-Qur’an perihal dirimu dan suamimu, kemudian dia membaca firman QS. Al-Mujadalah: 1-4, yang artinya:

“Sesungguhnya Yang Mahakuasa telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kau perihal suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Yang Mahakuasa mendengar soal jawab antara kau berdua. Sesungguhnya Yang Mahakuasa Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Orang-orang yang menzhihar (menganggap isterinya sebagai ibunya, atau menyamakan istrinya dengan ibunya sebagaimana ucapan Aus di alinea kedua di atas,  Red) isterinya di antara kau padahal tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Yang Mahakuasa Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Yang Mahakuasa Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kau beriman kepada Yang Mahakuasa dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al-Mujadilah : 1-4)
Setelah turun ayat ini, barulah Rasulullah SAW bisa menjelaskan perihal permasalahan yang dihadapi Khaulah. Baginda Rasulullah SAW kemudian menjelaskan kepada Khaulah perihal kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan seorang budak!”

Khaulah: “Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.”

Nabi SAW: “Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”

Khaulah: “Demi Yang Mahakuasa dia ialah laki-laki yang tidak besar lengan berkuasa melaksanakan shaum.”

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.”

Khaulah: “Demi Yang Mahakuasa ya Rasulullah dia tidak memilikinya.”

Nabi SAW: “Aku bantu dengan separuhnya.”

Khaulah: “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.”

Nabi SAW: “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaullah dengan anak pamanmu itu secara baik.”
Semoga kita dapat mengamalaknnya amin..

Silakan dicoba...

Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah

Hendaknya sebagai seorang muslim, kita lebih bergetar dan tersentuh hati kita dengan Al-Quran dibandingkan film-film sedih yang hanya merupakan sandiwara saja.



Banyak sekali film-film yang mampu menggugah hati manusia, mampu membuat senang bangga dan mampu juga membuat sedih. Tidak jarang film tersebut terdapat tangisan dari pemerannya yang membuat para penonton ikut menjadi sedih dan meneteskan air mata.
Perlu direnungkan oleh kaum muslimin, jangan hingga kita dikala membaca ayat Al-Quran atau dikala membaca perjuangan para Nabi shallallahu ’alaihi wa sallamdan Sahabat membela Islam kita sulit menangis dan tersentuh, akan tetapi dikala menonton film (yang notabenenya sandiwara) atau dikala membaca kisah fiktif kita menangis tersedu-sedu?
Menangis ini yaitu berpura-pura, ini yang disebutkan oleh ulama sebagai Al-Buka’ Al-Kadzib ”tangisan palsu”, sebagaimana tangisan saudara-saudara Nabi YusufAlaihissalam ketika mengadu kepada bapak mereka bahwa Yusuf telah dimakan serigala.
Sebagaimana kisah dalam Al-Quran:

وجاؤوا أباهُمْ عِشَاءً يَبْكونَْ قَالُواْ يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِندَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنتَ بِمُؤْمِنٍ لِّنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, bantu-membantu kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di erat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kau sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami yaitu orang-orang yang benar.” (Yusuf: 16-17)

Bahkan terdapat istilah “tangisan bayaran” Al-buka’ Al musta’ar wal musta’jar alaihi sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim, dia berkata:

البكاء المستعار والمستأجر عليه ، كبكاء النائحة بالأجرة فإنها كما قال أمير المؤمنين عمر بن الخطاب تبيع عبرتها وتبكي شجو غيرها
“Tangisan yang disewa yaitu tangisan orang yang meratap dengan upah (dibayar untuk menangisi tokoh besar biar terlihat banyak yang merasa kehilangan, pent). Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab, “ia menjual tetesan air mata dan menangis sedih untuk orang lain” 1.
Tersentuh hatinya dan mampu menangis dengan Al-Quran dan takut kepada Allah
Hendaknya kaum muslimin mempunyai hati yang lembut dan mudah tersentuh dengan kebaikan serta rasa takut kepada Allah. Menangis sebab Yang Mahakuasa dalam kesendirian yaitu termasuk sifat para Nabi dan orang shalih, ini menyampaikan lembutnya hati mereka.
Para Nabi dan orang-orang shalih menangis sebab Allah, Allah Ta’ala berfirman:

أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذريه آدم وممن حملنا مع نوح ومن ذريه إبراهيم وإسرائيل وممن هدينا واجتبينا إذا تتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجداً وبكياً

“Mereka itu yaitu orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Yang Mahakuasa Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58).
Sehingga orang-orang shalih sangat senang bila matanya menangis sebab Allah, sebagia bukti keimanan sebab menangis sebab Yang Mahakuasa tidak mampu dipaksakan begitu saja.
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

لأن أدمع من خشية الله أحب إلي من أن أتصدق بألف دينار
“Sungguh, menangis sebab takut kepada Yang Mahakuasa itu jauh lebih saya sukai daripada bederma uang seribu dinar!”2.
Hendaknya sebagai seorang muslim, kita lebih bergetar dan tersentuh hati kita dengan Al-Quran dibandingkan film-film sedih yang hanya merupakan sandiwara saja.
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu yaitu mereka yang apabila disebut nama Yang Mahakuasa gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah akidah mereka alhasil dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).
Semoga kita termasuk yang mudah tersentuh dan sering menangis dalam kesendirian, takut kepada Allah. Karena akibat pahala sanga besar dari Allah.
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عينان لا تمسهما النار ، عين بكت من خشية الله ، وعين باتت تحرس في سبيل الله
“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis sebab merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari sebab menjaga pertahanan kaum muslimin dalam (jihad) di jalan Allah” 3, disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih Sunan At-Tirmidzi (1338)].


SEMOGA KITA BISA SEPERTI ITU , MENANGIS KARENA TAKUT AKAN SIKSA ALLAH.AMIN...

WALLAHUA’LAM..

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget