Halloween Costume ideas 2015

Informasi baru islam masa kini.

Latest Post

SABAR MENGHADAPI UJIAN HIDUP
Ketahuilah, Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup insan merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang bisa menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah sangat kita butuhkan dalam menghadapi angin puting-beliung cobaan yang menerpa. Sehingga tidak menimbulkan diri kita berburuk sangka kepada Tuhan SWT terhadap segala Ketentuan-Nya.
Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Tuhan SWT harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Tuhan menurunkan aneka macam bencana alam melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki. Tuhan sebagaimana tertulisa dalam firman-Nya  :  “Apakah kalian menduga bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pinjaman Allah? Ingatlah tolong-menolong pinjaman Tuhan amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)
Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Tuhan dan sangat diharapkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya :   “…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)
 Macam-Macam Kesabaran

Ibnul Qoyyim mengatakan dalam Madarijus Salikin : “Sabar yaitu menahan jiwa dari keluh kesah dan marah, menahan mulut dari mengeluh serta menahan anggota tubuh dari berbuat tasywisy (tidak lurus). Sabar ada tiga macam, yaitu tabah dalam berbuat ketaatan kepada Allah, tabah dari maksiat, dan tabah dari cobaan Allah.”
Tingkatan tabah :
1. Sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut bahaya Allah, Kita harus selalu berada dalam keimanan dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih baik lagi adalah,  sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena aib kepada Allah. Apabila kita bisa muraqabah (meyakini dan mencicipi Tuhan sedang melihat dan mengawasi kita)  maka sudah seharusnya kita aib melaksanakan maksiat, karena kita menyadari bahwa Tuhan SWT selalu melihat apa yang kita kerjakan. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya, di surah Al Hadid ayat 4 ” …….. Dan Dia bersama kau di mana saja kau berada. Dan Tuhan Maha Melihat apa yang kau kerjakan”
2. Tingkatan tabah yang kedua yaitu tabah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah,  dengan terus-menerus melaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya. Dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya supaya amal ibadah  yang dilakukan diterima Allah, tujuannya semata-mata nrimo karena Tuhan SWT.
 Ada Beberapa Hal Yang Akan Menuntun Seorang Hamba Untuk Bisa Sabar Dalam Menghadapi Ujian Dan Cobaan, Sebagai Berikut :
1. Sebaiknya kita merenungkan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Dan Tuhan menimpakan ujian atau musibah-musibah tersebut mungkin  disebabkan dosa-dosa kita . Sebagaimana firman Tuhan SWT :     “Dan apa saja bencana alam yang menimpa kau maka yaitu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Tuhan memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).
 Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-dosanya. Maka beliau akan segera bertaubat dan meminta ampun kepada Tuhan dari dosa-dosa yang telah dilakukannya
Dan Nabi Muhammad saw bersabda:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa  gangguan semisal bacokan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Tuhan menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Makara ujian dan cobaan, bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita dan juga untuk mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.
2.. Kita harus menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa Tuhan selalu ada bersama kita. Dan Tuhan telah memperlihatkan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, bahwa ” Tuhan tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.     Dan Tuhan cinta dan ridha kepada orang yang sabar.  Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya sbb:    dan sabarlah tolong-menolong Tuhan beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Anfal : 46)   Dan Firman-Nya :     “…Dan Tuhan mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Al Imran : 146)
Bersabarlah maka kita akan melihat betapa dekatnya kelapangan
Barangsiapa yang muraqabah (merasa  diawasi) Tuhan dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba Tuhan yang tabah dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya.  Kesabaran yang didapatkan ini, berdasarkan pada petunjuk Tuhan dalam Al Quran,  surah At Thur ayat 48  : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka tolong-menolong kau berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dikala kau berdiri berdiri”    Dan ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mengharapkan Allah, maka   Tuhan akan ada dimana beliau mengharap.
3. Kita harus mengetahui bahwa bila kita bersabar, maka akan mendatangkan ridha Allah, karena ridha Tuhan SWT, terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan takdir-Nya, yang kurang kita suka

 semoga kita dapat bersabar dalam segala cobaan dan ujian dari allah..amin


Memberikan THR natal kepada non muslim


Boleh-boleh saja menunjukkan sedekah dalam bentuk apapun kepada non-muslim selama mereka menampakkan perbuatan baik dan tidak memerangi umat Islam. Hal ini didukung oleh sejumlah nas Alquran. Di antaranya Yang Mahakuasa befirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ 
وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

Allah tidak melarang kau untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kau dari negerimu. Sesungguhnya Yang Mahakuasa menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS al-Mumtahanah: 8)

Mereka menunjukkan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (QS al-Insan: 8)
Menurut para ulama ayat di atas berlaku mutlak, di mana orang yang ditawan yakni para musuh yang berasal dari kalangan non-muslim yang tetap dalam agama mereka. Nabi saw. juga sering menunjukkan makanan kepada orang yahudi. Umar juga pernah memberi kepada peminta-minta yang beragama Yahudi. Serta aneka macam pola lainnya.
Namun, kalau bentuknya zakat para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh diberikan kepada non-muslim.
Karena itu, Anda boleh menunjukkan hadiah kepada non-muslim sebagai bentuk sumbangan kepadanya. Hanya saja, sumbangan atau hadiah tersebut tidak boleh dikaitkan dengan hari raya mereka atau sebagai bentuk dukungan kepada hari raya mereka.
Syeikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam kitab Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim  Mukhalafatu Ash-habul Jahim berkata, "Menjual untuk mereka di hari raya mereka sesuatu yang membantu mereka dalam merayakannya, entah berupa makanan, pakaian, dan semacamnya atau memberikannya sebagai hadiah untuk mereka merupakan bentuk membantu perayaan hari raya mereka yang sifatnya terlarang. Hukumnya sama dengan larangan menjual anggur atau jus kepada orang yang akan menjadikannya sebagai minuman keras.
Oleh alasannya itu, hendaknya kalau Anda menunjukkan sedekah atau hadiah, tidak dikaitkan dengan perayaan hari rayanya


MENCINTAI YANG LIMA DAN MELUPAKAN YANG LIMA BAGIAN 1

pertama dan paling utama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat allah swt. yang telah menunjukkan kita kesempatan dan nikmat sehingga kita dapat melaksanakn perintanya dan menjhui larangnnya.

saudariku yang berbahagia.

diera globalisasi perdagangan dunia ketika ini, insan selalu di tuntut berkopetisi dalam menerima kekayaan bahan yang sebanyak-banyak demi mempertahankannhidupnya dan menerima kepuasan  hidup didunia. diantara mereka ada yang kebutuhan keluarganya.bagaimana cara mereka lakukan demi tercapainya keinginan dan cita-citanya. betapa banyak orang -orang yang bekerja siang dan malam dengan tidak mengenal waktu mengakhirkan sholat, bahkan melalaikan dan meninggalkannya. dan tidak sedikit orang yang telah menuai keberhasilan dan kesuksesan yang lupa dan enggan mengeluarkan zakat hartanya.
sungguhnsangat ironis sekali keadaan umat islamsekarang ini yang demikian buruknya.pasalnya, aneka macam kaum muslimin sekarang ini yang tertutup hatinya dan menjual keimanan  dan ketaqwaannya, demi sesuatu yang tidak bernilai dihadapan allah swt. menyerupai halnya, para pemimpin sekarang ini yang menyelewengkan jabatannya dengan mengeruk harta benda  yang bukan haknya, demi anak istrinya. begitu juga para wanita yang rela mempertontonkn aurat mereka dan karir mereka dan ketenaran. dan juga sangant aneka macam orang-orang yang melaksanakan praktik manupulasi demi jabatan dan martabatnya dihadapan manusai. dan itu semua sudah menjadi " kecendrungan yang mengasikkan " bagi manusia, allah swt berfirman dalam al-quran :

artinya:
insan dihiasi dengan kecintaan kepada ap-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banayk. ( QS. Ali imran: 14 )




BERIKUT KISAHNYA...
Selain dikenal sebagai ulama sufi, Imam Junaid Al Baghdadi termasuk orang pertama yang menyusun dan membahas ihwal ilmu tasawuf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang pertanda ihwal ilmu tasawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.

Pada mulanya Imam Junaid merupakan spesialis perniagaan yang sukses. Ia memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Bgahdad yang ramai pelanggannya. Sebagi seorang guru sufi, ia tidak disibukkan dengan mengurus perniagaan itu, menyerupai peniaga lain yang yang kaya raya di Baghdad.

Ia lebih mengutamakan menghabiskan waktunya untuk mengisi pengajian bagi para muridnya. Setiap malam Imam Junaid berada di masjid besar Baghdad untuk memberikan tausiyah. Penduduk Baghdad banyak yang berdatangan ke masjid untuk mendengar tausiyahnya sehingga masjid penuh sesak.

RIDHA KEPADA ALLAH SWT.
Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Ia ridha dan bersyukur kepada Yang Mahakuasa SWT dengan segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Termasuk kala ia menerima cobaan berupa kebutaan di kedua matanya.

Pada suatu hari Imam Junaid Al-Bgahdadi mengalami sakit pada kedua matanya. Setelah sekian lama mencoba pengobatan, bertemulah ia pada seorang tabib yang beragama Nasrani.
"Sakit mata ini mampu sembuh, asal tidak hingga terkena air, jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air," pesan tabib itu.

Mendapat penjelasan itu, Imam Junaid mengambil kesimpulan bahwa sang tabib tengah berupaya mencegahnya untuk beribadah kepada Yang Mahakuasa SWT.
"Jika mataku tak terkena air, maka bagaimana saya mampu berwudhu untuk menghadap Rabb-ku," katanya dalam hati.

Akhirnya, Imam Junaid pulang ke rumah, dan beliau eksklusif menuju daerah air dan berwudhu dengan sempurna. Kemudian ia menjalankan shalat sunnah dua rakaat lalu membaringkan tubuhnya di daerah tidur untu beristirahat.


SEMBUH DARI BUTA.
Subhanallah...ketika terbangun, matanya telah sembuh menyerupai sedia kala. Saat itu juga ada bunyi yang membisikkan kepada Imam Junaid.
"Imam Junaid sembuh alasannya ialah memilih ridha Yang Mahakuasa dibandingkan dengan matanya sendiri,"ujar bunyi gaib itu.

Keesokan harinya, tabib Nasrani mendengar kabar kesembuhan kebutaan mata Imam Junaid. Dia pun menanyakan kepada Imam Junaid perihal kesembuhannya. Akan tetapi sang tabib terkejut setengah mati, karena obat sakit mata Imam Junaid bukannya menghindari air menyerupai yang beliau sarankan, tapi justru berwudhu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air.

Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah dari agama Kristen ke agama Islam.
"Penyakit ini dari Allah, bukan dari makhluk, maka obatnya pun dari-Nya," kata Imam Junaid kepada tabib Kristen itu.
 subhanallah ...





 SETETES KERINGAT AYAH


keluhanku tak sedikitpun kau jadikan beban 
tawaku mungkin kau jadikan seribu tahun kebahagiaan
engkau sangat tangguh ayah
bekerja banting tulang demi kami
anak mu..

engkau rela kerja siang demi rupiah
keringatan di keningmu yang terkena sinar matahari 
sama sekali tak menghentikan pekerjaaanmu
keringat bercucuran membasuhi baju yang melindungimu pun mulai kelam.

ayah semua itu kau kalukan demi kami
kami yang kau anggap akan merubah nasibmu
kau korbankan jiwamu untuk kebahagiaan hidup ini..
mungkin seatur miliar uang pun tak kan dapt ku bayar
atas semua yang kau lakukan untuk ku....

Satu Kata Dalam Tindakan

kita berbicara tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan, dengan tujuan menasehati orang namun lupa akan diri, dengan dalih berdakwah namun tak sadar bahwa hakikat dakwah itu mengajak bukan menganjurkan, mungkin kita sama-sama memahami kata mengajak berarti ikut serta di dalamnya. Sangat memilukan bila hal ini terjadi pada diri seorang pencetus dakwah, ustadz, dai. Seharusnya kita yang bergerak dalam kegiatan dakwah memahami betapa pentingnya menjadi tauladan bagi orang lain, itu sebabnya seorang pencetus dakwah dituntut terus berguru sembari mengamalkan. Oleh karena itu tidak mudah seseorang menerima amanah sebagai dai kalau hanya menganjurkan orang lain melaksanakan kebaikan.
Sebagian dari kita terkadang tidak menghiraukan hal ini, alasannya yaitu semangat dakwah yang menggelora di badan para pencetus menjadikan lupa bahwa diri sendiri juga butuh asupan, sehingga semangat yang menggelora tersebut bekerjsama hanya ambisi, berambisi menjadi dai, berambisi menjadi ustadz, berambisi untuk dikenal. Memang patut kita apresiasi semangat dakwah tersebut, akan tetapi yang perlu diluruskan yaitu makna dari dakwah itu sendiri. Tujuan dakwah tidak akan pernah tercapai bila tidak memahami hakikat dakwah.

Apakah para pencetus telah melupakan kata kabura maqtan ‘indallah (sangat besar kebencian di sisi Allah) bahwa kau mengatakan apa yang tidak kau kerjakan? Padahal ini sebuah bahaya dari Allah. Semoga kita yang merasa dipundak kita ada amanah dakwah menyadari konsekuensi menjadi seorang pencetus dakwah. Wallahu a’lam. 

Hijab Antara Kewajiban dan Gaya Hidup


Menjadi seorang wanita ialah anugerah. Tuhan karuniakan ia dengan banyak sekali keutamaan yang tidak dimiliki oleh kaum pria. Terlebih, saat seorang wanita takluk pada syariat, alangkah mulia dirinya. Maka, pintu surga terbuka menyambutnya.
 Kita tidak perlu mengulang pengalaman pahit tahun 80 an saat beberapa muslimah berhijab kehilangan pekerjaan, kesempatan dan dikucilkan dari pergaulan. Karena sekarang, muslimah Indonesia telah menikmati nyamannya berhijab syar’i dari perjuangan para wanita muslim sebelumnya.
Dahulu, masyarakat cukup anti dengan selembar kain yang dihampar menutupi rambut wanita. Kain tersebut cukup jadi barang bukti untuk ditolak dari lingkungan pergaulan. Padahal, selembar kain yang diremehkan tersebut ialah bukti identitas seorang muslimah. Bukan materi kainnya yang jadi soal, tetapi fungsi dan hakikatnya.
Waktu bergulir begitu cepat, memusnahkan semua paradigma kuno termasuk pandangan miring terhadap selembar kain tersebut. Mulanya minoritas, kini berduyun-duyun kita jumpai para wanita menutup kepala dengan aneka kain yang indah. Setiap muslimah benar-benar hingga pada zaman kebebasannya dalam menutup aurat tubuhnya.
Terbukti, berpakaian syar’i bukan halangan berprestasi. Hijab bukan lagi kendala dalam membangun karier. Posisi-posisi penting baik dalam sektor pemerintahan maupun swasta diduduki oleh wanita-wanita berhijab. Maka, tinggal si wanita saja, bersedia atau tidak memenuhi kewajiban berkerudung sebagai seorang muslimah.
Kata ‘jilbab’ tidak perlu lagi dipermasalahkan. Dalam artian, sungkan untuk dibicarakan. Bahkan jilbab muncul dalam kata yang lebih populer, yakni hijab. Terlepas dari pertentangan antara makna jilbab dan hijab di luar sana, masyarakat makin bersahabat dengan dua kata tersebut. Pada intinya, masyarakat telah bisa mendapatkan eksistensi pakaian muslimah dan penggunanya.
Jilbab memang dimaknai sebagai kewajiban. Namun, kini makna pakaian muslimah tersebut mengalami pergeseran. Dari kewajiban menjadi kebutuhan. Dari kebutuhan menjadi hanya sekadar keinginan. Dari impian yang ditangkap tersebut, jadilah peluang bisnis. Setidaknya itulah gambaran transformasi sederhananya.
Ya, saat sudah memasuki industri bisnis, mengalami marketisasi, pakaian muslimah mendadak nge’trend’ di kalangan wanita. Para pebisnis yang melek kondisi pasti arif memanfaatkan momentum ini. Jadilah selembar kain yang merupakan identitas muslimah tersebut dimaknai berbeda. Meski tidak sedikit yang masih menganggapnya sakral, banyak pula yang memaknainya sekadar hiasan atau busana biasa yang sedang booming.
Para pebisnis dan pedagang kain kebanjiran orderan akan hijab tersebut. Para desainer juga tak mau kalah unjuk gigi. Maka bertebaranlah hijab aneka model, brand dan macamnya. Dari harga yang nyaman di kantong pelajar hingga harga yang bikin dompet dan ATM terkuras.
Saat ini, online shop bertemakan hijab baik karya desain sendiri maupun tiruan merambah di banyak sekali media sosial. Hal ini membuat hijab makin menjamur. Penggunaannya pun semakin menular. Kali itu dipakai oleh seorang artis ternama, besoknya penggemar setia artis tersebut mendadak tobat ikut pakai hijab.
Makin unik saat beberapa media TV nasional mengizinkan presenter acaranya tampil dengan hijab. Entah ingin menjadikan kesan bersahabat di mata penonton atau memang sekedar tulus. Bahkan iklan produk nasional hingga mancanegara yang tampil di Indonesia mengambil pemain drama seorang wanita berhijab.
Masyarakat jauh dari kesan fobia hijab ibarat yang masih menjadi momok muslimah di negara lain. Masyarakat tidak lagi terbawa pada gosip segmentasi penggunaannya. Bahwa kerudung hanya pantas digunakan dalam program maupun kawasan berbau keagamaan. Bahkan sekarang kita bisa melihat selembar kain yang menyembunyikan rambut muslimah tersebut diperagakan di panggung catwalkbergengsi.
Entah mana yang lebih dulu, industri hiburan yang mengampanyekan sosok wanita berhijab. Ataukah sosok wanita berhijab yang lebih dululah bersemai di hati masyarakat hingga mereka turut menerimanya.
Jika menilik banyak sekali perubahan mendasar tersebut, rasanya kita harus mengakui adanya pergeseran motif dalam mengenakan hijab. Tentunya kita tidak berhak menggeneralisir hal ini kepada setiap muslimah. Jikalau dahulu hijab hanya dipandang sebatas kewajiban, bahkan memperjuangkannya pun butuh pengorbanan. Kini, berhijab seolah menjadi episode dari gaya hidup.
Artinya, hijab hanya memenuhi porsi sebagai episode pemanis dan pemanis dalam berbusana. Terlebih wanita bebas memilah-milih model hijab yang belum tentu sesuai syariat dan kebutuhan. Seorang muslimah sejatinya harus memperhatikan letak syar’i pakaian sebelum hal apapun.
Seorang muslimah tidak perlu terlarut dalam gempita gaya hidup berbusana ibarat ini. Cukuplah meniatkan berhijab alasannya ialah Tuhan dengan memperhatikan bahwa berhijab bukan hanya sekadar menutupi aurat. Lebih dari itu, berhijab ialah bentuk Tuhan memuliakan dan melindungi kaum wanita.
Muslimah yang berhijab sesuai syariat ialah perwujudan sikap taatnya kepada Sang Khalik. Dengan berhijab, ia telah menegaskan nilai istimewa dirinya sebagai seorang wanita. Ketika hijab menjadi barang jual yang populer di masa kini, muslimah hendaknya tetap menganggap hijab sebagai kewajiban dengan menyelaraskan adat sesuai busana syariatnya.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, belum dewasa perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh badan mereka !’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, alasannya ialah itu mereka tidak di ganggu. dan Tuhan ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 
(al-Ahzâb/33: 59).


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget